
🌟 1 bulan kemudian...
Karyawan lama Sriana mau kerja kembali dan menerima ajakan Lily anak Sriana. Dan Minggu depan akan masuk kerja di butik itu lagi, jadi Sriana sudah mengambil rencana akan mengeluarkan Sherly dan Luna saat membagikan gaji mereka nanti.
Sriana sudah melihat bagaimana kinerja mereka, dan sikap serta attitude yang tak baik ke sesama pekerja. Lily juga sudah mencarikan karyawan tambahan teman lama Lily yang sekarang sedang butuh pekerjaan. Jadi Lily mengajaknya masuk ke butik mamanya dan membantunya.
***
🌟 2 Tahun sudah terlewati...
Bima sudah mulai putus asa mencari keberadaan Diah dan anaknya, terkadang Bima seperti orang yang sudah tak waras lagi.
Tak mau makan dan tak juga tidur kesana kemari, ibunya sudah pasrah saja dengan apa yang dialami anaknya itu.
"Bima, sudahlah nak... ngapain juga kamu masih mencarinya sampai sekarang..,"
"Kalau memang dia perduli dengan kamu, tak akan dia tinggalkan kamu sampai tak merasakan apa pun karena tak ada kamu disisinya."
"Masih banyak wanita lain yang mu sama kamu nak..., dan menerima kamu apa adanya." ucap ibunya.
"Bukan itu yang jadi persoalan Diah meninggalkan aku ibu?! Karena aku sendiri yang sudah bodoh tak tahu meletakkan posisi dirinya di hatiku, dan karena aku juga dia pergi meninggalkan ku.., hiks, hiks...," Bima menangis menyesali segalanya.
"Andai semua bisa di putar ya Allah..., hamba tak akan membuat kesalahan untuk yang kedua kalinya. Dan andai waktunya nanti kau pertemukan hamba kembali dengannya, hamba akan jaga amanat mu itu dengan baik." ucap dalam hatinya.
Ibunya masih duduk memperhatikan Bima anaknya yang sudah semakin kurus dan tak ada kehidupan di wajahnya. Tiba-tiba Lastri keluar dari kamarnya dan langsung menyambar dengan kata-katanya.
"Terlalu banyak berharap dapat bertemu lagi dengan Diah, tapi masih gitu-gitu saja nasib mu? mana mau dia balikan lagi sama mu. Diah itukan mata duitan dan matre, dia dari orang berada kau bawa ke nasib mu yang sangat malang?!" heh, yang ditinggalkannya lah kau." Lastri menghina adiknya yang sedang putus asa.
Lastri sebenarnya merasa tak senang dengan Bima yang tinggal di rumah itu juga, karena ibunya selalu memberi perhatian lebih ke Bima dari pada ke dirinya dan anak-anaknya.
__ADS_1
Jadi Lastri sengaja selalu mengatakan yang tidak-tidak agar Bima tak tahan dan pergi dari rumah itu.
Keesokan paginya Bima kembali bekerja lagi dan masih juga mencari, saat itu dia bertemu dengan teman lamanya Dito, dan mereka saling berbicara.
"Hai Bima.., apa kabar? Kau kenapa sekarang begini?" tanya Dito.
"Iya Dit, aku baik kok. Tapi lagi ada sedikit masalah dengan keluarga dan aku bingung mau bagaimana." ucap Bima yang tak ingin menceritakannya.
"It's oke lah kalau kamu masih belum mau cerita. Sekarang kamu kerja apa nih?" tanya Dito lagi.
"Aku ngantar penumpang saja pakai motor ku Dit, sebenarnya lagi cari yang lain kalau ada?!" ujarnya ke Dito kali saja ada.
"Wah pas sekali lah kalau begitu, di kantor ku sedang mencari karyawan di bagian pemasaran. Aku sekarang bekerja di bagian pengiriman barang, ya..., bisa di bilang dalam bidang ekspor import lah gitu. Tapi papa ku yang punya perusahaan, aku masih belajar untuk meneruskannya saja nanti. Hehehe...," Dito tertawa dan sedikit malu.
"Bagaimana? apa kamu mau ikut bergabung dengan perusahaan kami Bim?!"
"Tapi Dito, ada yang mau aku minta sama kamu, aku tak ingin tinggal sama ibu ku lagi saat ini karena membuat renggang keluarga. Apa ada mes atau tempat sementara aku tinggal gak? nanti kalau sudah ada uang aku akan pindah cari tempat." ucap Bima perlahan dan hati-hati.
"Oh, kalau itu kau jangan khawatir, aku ada tempat untuk kau tempati dan besok akan aku kasih lihat pada mu." ucap Dito sahabatnya itu.
Bima pun sangat senang dan di dalam hatinya di bertekad akan membenahi hidupnya dan memperbaiki kesalahannya kemudian terhadap Diah.
Bima pun sudah mendapatkan nomer telpon Dito dan alamat kantornya. Sekarang Bima pulang kerumah untuk mandi dan membersihkan tubuhnya lalu menyiapkan berkas dan surat-surat untuk di bawanya besok ke kantor Dito.
Namun Bima lupa kalau dia tak ada seragam untuk pergi ke kantor Dito saat ini. Lalu Bima menelpon Dito dan mengatakannya langsung ke Dito.
Dito tertawa dan menawarkan baju kemejanya yang sudah lama tak dia pakai lagi. Tapi Dito dengan sopan menawarkannya kepada Bima dan menghormatinya tanpa menjatuhkan harga dirinya.
"Oke, kalau begitu kamu mainlah ke rumah ku nanti malam. Aku ajak kamu untuk memilih sendiri di kamar ku yang mana kamu mau." kata Dito mengundang Bima ke rumahnya malam itu.
__ADS_1
"Baiklah Dit, terima kasih kau sudah membantu ku sekali lagi." kata Bima yang sangat senang dan bertekad merubah nasibnya mulai sekarang.
Malam itu pun Bima datang ke rumah Dito, dan Dito menyambutnya dengan hangat. Serta mengajak Bima masuk ke rumah orang tuanya Dito yang sangat megah itu.
"Wah, kau ternyata sultan ya Dit? tapi kenapa ketika kita sekolah SMA dulu teman-teman ingin main ke rumah mu tak kau izinkan?" tanya Bima.
"Iya, karena aku tak mau ada jarak diantara persahabatan kita dan mereka memandang ku jadi berbeda dengan yang lainnya. Aku bukan sultan yang kau ucapkan, aku hanya hidup yang masih menumpang sama orang tua ku. Dan bisa memiliki seperti ini semua karena berkat kerja keras kan?" ucap Dito yang membuka mata Bima dan menumbuhkan semangat di dalam dirinya Bima.
"Iya kau benar, aku akan berusaha untuk bisa memberikan yang terbaik." Bima tersenyum sambil berjalan menaiki anak tangga menuju ke kamar Dito yang berada di atas.
"Bagus kalau begitu pemikiran mu teman..., sudah ada tujuan hidup itu sangat bagus." Dito semakin memberikan Bima semangat.
Mereka pun masuk ke kamar Dito dan mempersilahkan Bima untuk memilih kemeja yang dia mau dan celana yang dia mau juga. Lalu Bima tak tahu dia mengambil kemeja yang sangat bagus menurutnya, dan ternyata kemeja itu masih baru dan mereknya ada di kemejanya itu.
"Dito, kau bilang kemeja bekas kamu yang mu di kasih. Tapi kok aku disuruh milih di dalam lemari kamu sih?"
"Ini semua kan masih kamu pakai, mana masih pada bagus-bagus lagi..," ucap Bima.
"Wah ini bagus ya? aku ambil ya Dito." ucap Bima yang tak tahu menahu.
"Boleh.., ambil saja... aku akan kasih kamu kok." ucap Dito.
Namun saat kemeja itu di ambil dan ingin dilihatnya lagi, Bima baru sadar bahwa itu kemeja masih baru dan ada mereknya disana.
"Ah, maaf ya Dit, aku gak tahu ini masih baru dan belum kamu pakai. Aku gak jadi deh, ambil yang ini lagian ini sudah cukup buat aku." Bima menggantungkannya kembali ke lemari itu.
" Gak Bim, ambil saja untuk kamu. Itu sudah sangat lama tak aku pakai, karena kurang suka sama kemejanya saja." ucap Dito yang berbohong pada Bima.
"Oh kalau begitu terima kasih ya teman...," Bima memeluk Dito dan sangat senang.
__ADS_1