Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 93. Iri Kehidupan Orang


__ADS_3

Bima melihat kertas kecil di samping tempat tidurnya, dan dia pun membaca surat kecil itu.


...💌 Mas..., sebenarnya tadi siang ada yang mau aku sampaikan ke kamu....


...Tapi kamu tidak ada waktu, jadi aku tuliskan saja semuanya disurat ini. Aku cuma mau tanya apakah aku bisa membuka usaha butik dan berjualan souvernir disini....


...Dan aku mau buka butik seperti di tempat kerja ku yang lalu....


...Alnya itu impian aku sejak lama yang ingin aku lakukan....


...Dan kalau masalah modal aku ada pegang 50 juta yang sudah sejak lama aku simpan dan memang mau membuka usaha itu....


...Mas..., tolong izinkan ya mas...?...


Itulah isi dari surat kecil dari Diah untuk suaminya Bima, lalu Bima menatap istrinya yang sedang tidur di atas kasur itu. Bima tersenyum dan teringat akan tempat kios kecil yang pernah Dito ucapkan saat itu. Dan besok Bima akan telpon Dito untuk meminta izin lagi untuk kios itu di gunakan oleh Bima.


Dan Bima pun segera tidur malam itu, dia juga merasa sangat lelah sekali tetapi sekarang sudah agak rileks dan nyaman sekali. Bima pun merasa sangat mengantuk lalu dia pun tertidur lelap malam ini.


***


Lastri di rumah Susi temannya...


Sore itu Lastri sudah pulang ke rumah temannya, dan menyapa ibu-ibu yang ada disana.


"Bu.., lagi apa tuh kumpul-kumpul..?" tanya Lastri.


"Ah, gak ada..., hanya bicara yang biasa saja sambil suapi anak makan." para ibu mengatakan itu saja.


"Oh.., sudah berapa lama ibu semua tinggal disini? Dan tetanggaan sama Susi?" tanya Lastri.


"Oh, kami sudah lama banget..."


"Lagian kenapa mbak tanya begitu?" tanya para ibu disana.

__ADS_1


"Bukan apa-apa, saya heran saja kok rumahnya itu hanya di luarnya saja yang bersih dan indah, tapi dalam rumahnya ampun deh."


"Terutama di bagian dapurnya, kotor dan gak terurus. Suaminya pergi merantau dia malah keluar saja kerjanya dan pulang sampai malam-malam."


"Coba ibu-ibu pikirkan kira-kira kerja apa begitu?" kata Lastri yang menjelekkan temannya sendiri.


Setelah Lastri berkata seperti itu dia lalu pergi masuk ke rumahnya Susi dan menyiapkan makan malam yang sudah dia beli lauknya. Lastri dan anak-anaknya pun langsung makan sore itu, dan mereka tak menyisakan untuk Susi dari lauk yang Lastri beli tadi.


Beberapa hari kemudian...


Para ibu-ibu itu jadi terpikirkan dengan apa yang diucapkan Lastri, dan kini Susi jadi bahan gunjingan di sekitar rumahnya sendiri. Padahal dari dulu tak pernah ada yang mengusik dan menceritakan kehidupannya.


Lastri pun menemani anak-anaknya tidur, namun dia sendiri belum tidur. Lalu Susi pun datang menghampirinya dan berbicara padanya tentang ibu-ibu yang bergunjing tentang dirinya.


Saat pagi itu Susi libur karena capek jadi tidak buka toko kusuk treatment saat itu. Namun para tetangganya melirik dan hanya melengos menatapnya. Mereka seakan-akan tidak suka kepada Susi.


"Kira-kira mereka kenapa ya Lastri, kok sinis kali melihat aku saat sedang menyapu di halaman depan."


"Malah ada yang bilang, jangan luarnya ja yang indah dan cantik. Dalamnya juga dong, masak yang di dalam berantakan dan tak rapi kak Susi..," ucap Susi mengatakan kepada Lastri.


Lastri hanya mengatakan bahwa dirinya tidak tahu dan dia cuek saja, merasa tak melakukan apa pun kepada Susi temannya itu.


Dia berlagak masa bodoh dengan semua yang terjadi dan bisa-bisanya malah dia yang ingin menangis.


Padahal Lastri lah yang menyebarkan semuanya itu, Lastri sudah ditolong tapi tak tahu di tolong. Tapi Susi tak tahu akan hal itu, bahwa Lastri yang sudah menceritakannya di belakang dirinya.


***


Keesokan harinya...


"Assalammualaikum...," ucap Nardi suami Susi.


"Wa'alaikumsalam..., eh mas sudah pulang? Sini tasnya aku bawa masuk mas." kata Susi menyambut suaminya.

__ADS_1


"Mas Nardi sudah pulang ya mas..?" Lastri langsung menyapa dan menyalaminya.


"Oh, ada tamu rupanya, ternyata kamu Lastri. Saya pikir siapa tadi..?" ujar Nardi yang sambil duduk.


Susi membuatkan minuman untuk suaminya, dan ada beberapa camilan pisang goreng yang disediakannya.


Susi pun menyuguhkan minuman itu dan camilannya, Lastri dengan sengaja berkata sesuatu ke Susi.


"Oh, mbak Susi buat minum hanya satu ya. Tak pikir ada beberapa, soalnya anak ku minta teh juga dan pisang gorengnya."


"Mau buat sendiri segan Lastri dan tak enak pula." Lastri sengaja berkata demikian.


Nardi pun memberikan kode kepada istrinya agar membuatkan satu lagi untuk mereka. Dan Nardi juga memberikan pisang gorengnya itu ke anaknya Lastri.


Sementara Susi membuatkan minum fan makanan, Lastri asik berbicara pada Nardi. Dia begitu banyak curhat dan mengadu ke Nardi untuk menarik simpati dan rasa iba dari suaminya Susi tersebut.


Jadi Nardi memberikannya beberapa ratus kepada Lastri tanpa sepengetahuan Susi istrinya. Mereka berdua menutupi akan hal itu, namun Nardi berniat baik dan tak ada maksud apa-apa pada Lastri.


Teh pun di bawakan dan diserahkan kepada Lastri dan anaknya. Lastri pun menyuapi anaknya dan meniupkan teh yang masih panas itu. Nardi segera mandi dan ingin istirahat di kamarnya karena sudah lelah dengan pekerjaannya.


Susi pun saat itu menemani suaminya istirahat di kamarnya, dan mereka melepas rindu saat itu tanpa perduli ada Lastri di luar ruang tamu.


Lastri tak senang bila melihat ada yang lagi senang, dan dia sedikit cemburu karena kehidupan rumah tangga Susi sangat harmonis.


Lastri juga sangat merindukan Rendy suaminya, dan kali ini Lastri kesepian karena tak ada suaminya disisinya lagi.


"Mas, aku sangat merindukan kamu. Kenapa kamu memilih wanita itu ketimbang aku yang memang istri kamu sendiri." ujarnya dalam hati.


Lastri sedikit sedih dan tak menghiraukan anaknya yang sedang makan dan minum didekatnya. Lastri pun tiduran di depan itu melamun tentang suaminya saat masih bersamanya waktu itu.


Lastri juga saat ini sangat merindukan belaian dan pelukan tubuh Rendy suaminya. Lastri yang selama ini melihat Rendy pendiam dan tak pernah mengeluh ternyata punya sisi yang lain tak terduga.


Lastri terlalu percaya diri kalau suaminya sudah pasti setia padanya dan tak akan pernah meninggalkannya. Tapi saat ini Rendy dan kekasihnya itu sudah menikah dan sekarang mereka sangat bahagia.

__ADS_1


Rendy dan kekasihnya sudah memiliki rumah dari hasil mereka bekerja dan menabungnya. Rendy yang sekarang sudah memiliki gaji yang cukup besar, karena sekarang sudah menjadi kontraktor dan banyak pekerjaannya yang mau di kerjakan. Kali ini Rendy lebih banyak bisa menyimpan dan memegang uang gajinya.


__ADS_2