
🌟 Sudah takdir dan garis jalan hidup diatur oleh Allah...
Apa pun yang kita sembunyikan pasti akan ada waktunya ketahuan juga...
***
Pagi itu Bima dan Aira sudah pergi ke tujuan mereka masing - masing, sekarang tinggal Diah dirumah yang mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Hari ini dia bermaksud akan mencuci pakaian, dan sambil membereskan rumah serta mengepelnya.
Kali ini dia akan memasukkan pakaian kotor ke mesin cuci nya, dan sebelum itu dia memisahkan dan memilah - milah terlebih dahulu. Bahkan memeriksa benda - benda yang ada disaku baju atau saku celana agar tak ikut tercuci.
Satu persatu dirogohnya dan di masukkan kedalam mesin, deterjen dan air sudah di masukkan. sekarang waktunya untuk di putar tombolnya.
Setelah itu mesin pun di tinggal olehnya, Diah menyapu kamar tidur Aira dan melihat baju Aira yang kemarin lupa untuk di cuci.
Akhirnya Diah mengambil baju itu dan membawanya ke mesin cuci, sampai disana Diah tak lupa untuk merogoh saku baju tersebut. Dan sesuatu benda tersentuh olehnya.
Diah mengambil benda tersebut yang ternyata hanya sebuah kertas biasa pikirnya. Diah pun tak menghiraukannya, dia malah meletakkan kertas itu di meja dalam kamar Aira lagi.
"Nanti siapa tahu Aira bertanya kertas ini." pikirnya.
kertas itu pun hanya terletak begitu saja di atas meja dan terlipat di sana.
Diah kembali menyapu, mengepel dan menjemur semua pakaian yang sudah di cuci nya.
Diah pun kecapean karena semua sekaligus dia kerjakan sendirian, duduk sejenak menatap keluar pintu rumahnya, membuat dia teringat akan suatu hal.
"Kenapa ya mas Bima selalu lebih banyak diam dan melamun saat ini? Apa ada yang salah dengan ku saat ini ya?" berpikir sendirian.
"Mama..." Aira menyapa saat sudah pulang dari sekolahnya.
" Loh Aira sudah pulang ya? kok hari ini cepat pulangnya?" tanya Diah penasaran.
" Iya ma, gurunya ada rapat. Jadi kami disuruh pulang deh." kata Aira dengan polosnya.
Diah pun terdiam mendengar penjelasan anaknya. Aira pun masuk ke dalam kamarnya dan melihat kertas di atas meja kecilnya.
Aira pun mengambil kertas itu dan bertanya pada mamanya.
__ADS_1
"Ma, ini kertas apa ma?" tanya Aira yang sambil membukanya.
"Oh itu kertas dari saku baju kamu yang kemarin, tapi kok bajunya gak kamu letak ke tempat cucian sih." Diah pun mulai cerewetnya.
"Oh, itu sebenarnya bukan punya Aira ma...., itu kemarin jatuh dari motor ayah ma! Saat mama mau isi minyak."
"Aira sudah kasih ke mama tapi mama bilang pegang atau kantongi dulu. Jadi ya Aira kantongi nya." pekik Aira yang menyerahkan kertas itu kepada Diah mamanya.
Akhirnya kertas itu pun di pegang oleh Diah dan bermaksud ingin tahu itu kertas apa.
"Nanti kalau mas Bima pulang aku akan beri kertas ini kepadanya." pikir Diah.
Kertas itu pun dibuka oleh Diah dan dia membacanya serta memahaminya.
Air mata mengalir seketika dan perasaannya saat ini sangat hancur, Bima suaminya menyimpan semua itu diam - diam untuknya sendiri dan tak ingin memberi tahu kepadanya.
Hiks, hiks !"
"Sudah selama ini, sudah ada 3 tahun mas Bima berbohong pada ku. Pantas saja Tiara datang saat itu dan hanya mau mencari mas Bima saja katanya." dalam batin.
Saat ini Diah lemas dan tak bisa apa - apa lagi, tiba - tiba Diah pingsan saat Aira datang menghampirinya.
"Mama...!"
Kebetulan Sania datang bersama anak - anak, dan melihat Aira menangis Sania buru - buru masuk dan bertanya.
Aira pun mengatakan semuanya, sekarang Diah di bawa ke klinik yang ada di daerah sekitarnya.
Sania pun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya itu.
Dokter pun memeriksa Diah dan menyadarkannya dari pingsan tersebut.
Lalu tak berapa lama Diah dan Sania pun pulang ke rumah, hari itu juga. Diah tak kuat untuk melangkahkan kakinya sendiri untuk berjalan, wajahnya merasa sedih dan pilu.
Sania menyarankan kakaknya untuk istirahat saja saat ini, Sania dan anak - anaknya pun pulang ke rumahnya lagi setelah mengantarkan sedikit makanan ke Aira.
Kertas itu masih terletak dilantai, dan Diah memungutnya lalu melipatnya kembali. Diah masih tak habis pikir kenapa Bima menyembunyikan semua ini dari dirinya. Bahkan ini bukan masalah yang kecil bagi Diah, semua ini menyangkut rumah tangganya sendiri.
Diah pun memutuskan untuk menunggu Bima pulang dari tempat kerjanya dan akan menanyakannya secara langsung kepadanya.
__ADS_1
"Untung kertas ini tak di baca oleh Sania, dan aku tak harus malu akan permasalahan rumah tangga ku kepadanya. Bagaimana kalau tadi dia sampai tahu, mau dimana aku letak muka ku ini." ujarnya Diah dalam hati.
***
Hari itu Diah sudah bersiap untuk mandi sore. Dan akan menunggu Bima pulang dari kerjanya, dia sudah menyiapkan teh dan makanan kecil untuk suaminya.
Masih dengan wajah sembab karena dari tadi menangis terus menerus, akhirnya Bima pun pulang dengan motornya itu.
Di depan rumah Bima tersenyum melihat istrinya yang sudah menanti dirinya dengan minuman dan camilannya.
"Sayang..., kau menunggu ku ya..?" tanya Bima yang belum menyadari mata istrinya.
Bima pun masuk kedalam rumah, dia mendekati istrinya saat itu juga. Bima terkejut melihat mata istrinya sembab sekali.
"Ma? kamu kenapa? kok mata kamu sembab begitu...?!" Bima bingung dan mencoba menunggu jawaban dari Diah.
Namun Diah diam saja, malah dia menunjukkan kertas yang ada isi perjanjiannya itu ke Bima.
"Mas, coba jelaskan ke aku maksud dari isi surat tersebut sekarang." kata Diah dengan ketus.
"Ini bukan apa - apa kok sayang..." ucap Bima yang menghibur istrinya.
"Kenapa mas tak mengatakannya kepada ku? selama 3 tahun mas menutupinya dari ku mas?! Apa gunanya aku bagimu?! Apa aku tak berarti lagi di matamu mas, hingga kau tak memberi tahu hal yanga sebesar ini kepada ku?!" Diah mulai tak terkontrol emosinya.
"Ayah, mama?" Aira datang ingin menghampiri.
Namun Bima duluan menghampiri dan menyuruh Aira agar berada di dalam kamarnya saja dulu untuk sementara.
" Aira..., anak ayah yang pintar main di kamar saja dulu ya nak. Kamu boleh menggambar atau mewarnai, ayah ingin bicara sebentar dengan mama ya nak..?" ujar Bima lembut sambil mengantar Aira ke kamarnya.
" Iya yah, Aira mau mewarnai saja di kamar." Aira pun menuruti permintaan ayahnya itu.
Lalu Bima dan Diah melanjutkan pembicaraan dan pembahasan tentang surat tersebut.
Bima pun menceritakan semuanya kepada Diah, bagaimana kondisi dia saat di rumah sakit saat itu.
Bima juga menjelaskan betapa panik dirinya saat tahu golongan darah Diah yang tak ada stok di rumah sakit itu.
Dan yang terutama Bima mengatakan pada Diah, bahwa betapa takutnya dia akan kehilangan dirinya.
__ADS_1
Semuanya sudah dia ceritakan dan Bima jelaskan saat peristiwa itu terjadi pada dirinya.
"Ma..., ayah memang sudah salah menutupi ini dari mama. Tapi ayah punya alasan untuk itu ma...? Ayah takut mama akan tinggalkan ayah dan pergi bersama Aira. Ayah gak mau hal itu terjadi ma..., maafkan ayah sekali lagi." Bima berlutut di depan Diah dan ingin meyakinkannya bahwa yang dia katakan itu benar apa adanya.