Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 70. Sangat Merindukan


__ADS_3

🌟 Keesokan paginya Bima sudah mandi pagi-pagi sekali, dan mengenakan pakaian rapi sekali. Ibunya sampai pangling melihat anaknya yang terlihat tampan dan rapi.


" Kamu mau kemana Bim?" tanya ibunya yang melihat Bima hari ini tampil sangat berbeda.


" Iya bu, mau cari pekerjaan yang lebih baik dan dapat merubah kehidupan ku." ujar Bima yang sudah duduk di depan meja makan.


Bima yang sarapan itu terlalu bersemangat, dan dia tak mau terlen dan terhanyut terus. Dia akan buktikan ke dunia dan pada saudaranya kalau dia bisa berdiri sendiri.


Dan setelah itu mencari istrinya tanpa henti dimana pun berada, Bima selalu berdoa agar di jodohkan dan di pertemukan kembali.


"Bima pergi ya bu," Bima pergi dengan sepeda motornya.


Ibunya dan Lastri menganggap sepele dengan Bima, karena Bima gak akan bisa melebihi adik dan kakaknya yang lain. Ibunya selalu mengutamakan anak yang lebih sering memberinya uang jajan kepadanya atau membantu keuangannya,dari pada anak yang selalu membantunya dalam hal lain.


Namun Bima tak pernah meluapkan rasa sakit hatinya pada ibu, karena Bima menghargai orang tuanya.


Sekarang yang dia sesali dulu tak mengerti apa yang di rasakan istrinya Diah ketika mereka selalu mencerca dirinya itu.


"Diah, tunggu mas akan terus mencari mu dan Aira anak ku." ucapnya dalam hati sambil mengemudikan motornya.


***


Sampai di kantor Dito...


Bima masuk memarkirkan motornya di parkiran, dan segera masuk ke gedung yang besar dan indah itu.


"Ini kantornya? aku gak percaya, Dito memang anak sultan. Dari dulu dia sahabat aku yang paling akrab saat di sekolah." dalam hatinya bergumam.


Bima masuk ke dalam begitu ramai orang dan semua melihat dirinya, Bima berjalan perlahan dan menghampiri meja resepsionis yang ada di depannya.


"Permisi.., saya mau tanya ruangan Dito...,pak Dito dimana ya? Saya mau bertemu dengan Dito, eh pak Dito. Maaf." ucap Bima yang masih baru.


"Kau orang baru ya? Apa kau yang bernama Bima?" tanya wanita yang berada di depan meja itu.


"Iya benar, saya Bima." ujarnya lagi.


"Oh, kalau begitu tunggulah disini sebentar. Pak Dito belum datang, mungkin sebentar lagi akan sampai." ucap wanita yang ada disitu.


"Oke baiklah terima kasih." ucap Bima lagi dan segera duduk di ruangan kecil yang ada di dekat wanita itu.


Dan tak beberapa lama kemudian, Dito pun masuk dari depan pintu kantor itu. Seluruh karyawan menyapanya satu persatu, dan Dito berjalan menghampiri meja resepsionis.


"Selamat pagi pak Dito, orang yang anda pesankan tadi sedang menunggu anda disana." ucap Lira karyawannya.

__ADS_1


"Oh, baiklah terima kasih ya." kata Dito dan langsung menuju kesana.


"Hai Bima, sudah menunggu lama ya?" sapa Dito.


"Oh, selamat pagi pak Dito." ucap Bima yang berdiri lalu bersalaman.


Lalu mereka pun duduk disana dan berbicara tentang bagaimana nanti dia bekerja disana. Bima dan Dito sudah berbicara selama 10 menit, dan Bima sudah mengetahuinya.


Setelah itu Dito meminta Lira untuk mengantar Bima ke ruangannya dan memberikan beberapa berkas untuk mulai dikerjakannya.


Dito pun pergi ke ruangannya dan mulai beraktivitas, seluruh karyawan pun bekerja dan melakukan aktivitas biasanya.


tak beberapa lama Dito datang ke ruangan kerja Bima, lalu Dito memperkenalkan Bima kepada mereka semua. Dan Dito meminta seluruh karyawan untuk membantu Bima bila ada yang tak tahu.


Seluruh karyawan menyapanya dan bersalaman kepadanya.


"Salam kenal semuanya, dan mohon bantuannya ya manteman..," ucap Bima dan memberi senyuman.


Setelah itu semua pun berjalan seperti biasanya, semua karyawan sangat baik menurut Bima.


Namun mau dimana pun pasti ada yang pro dan kontrak kepada karyawan baru.


Bima sudah menyiapkan semua pekerjaannya dan dia membawakannya ke Dito dan memperlihatkannya ke temannya itu yang sekarang adalah atasannya.


Bima sangat senang dan bertambah semangat jadinya, dia juga sampai tak kenal lelah untuk menyiapkan tugasnya. Ketika jam makan siang Bima pergi ke kantin kantor di bawah, lalu Dito datang menghampirinya.


"Hai Bima, bagaimana disini betah kerjanya?" tanya Dito.


"Aku suka kerja disini, oh ya terima kasih ya pak Dito. Kamu sudah membantu ku saat ini, jujur aku ingin cerita permasalahan ku tapi gak bisa sekarang. Nanti hari weekend aku main kerumah bapak lagi boleh ya?" tanya Bima.


"Ya boleh lah.., ayo kita makan lagi." kata Dito yang menyantapnya.


Semua karyawan sangat iri melihat Bima orang baru sudah akrab sekali.


"Kamu lihat tuh si Bima, anak baru juga sudah sok akrab sama pimpinan." Luis merasa tak senang.


"Ya gak apalah Luis.., mungkin mereka dulu teman akrab dan biasakan?" ucap Bimo.


"Ngapain juga kamu pikirkan hubungan mereka, yang terpenting kita kerja yang benar saja." Bimo menasehati temannya.


Namun Luis masih tak puas dan tak senang, Luis pun pergi dan tidak melanjutkan makan siangnya lagi.


Bimo hanya menghela nafas dan sudah mengerti bagaimana temannya itu.

__ADS_1


Luis memang suka tak senang dan merasa tersaingi bila ada orang yang lebih dari dirinya. Bimo sudah menasehati untuk tidak berprasangka buruk ke orang-orang agar nanti hidupnya tetap tenang.


Tapi Luis memang tak bisa di bilangin dan selalu mencari masalah, dan suka tak jujur dengan hatinya sendiri.


Bimo juga pernah di jauhi oleh Luis hanya karena Bimo berteman dengan orang yang tak Luis suka.


***


5 Bulan kemudian...


Bima sudah bekerja keras dan mendapatkan gajinya, sekarang Bima sudah pindah dan hidup sendiri di kosannya yang sangat dekat dengan kantornya itu.


Bahkan bisa berjalan kaki dari kantor ke tempat kosannya. Ibunya sangat tak ingin Bima pergi dari rumah itu, dan tinggal sendirian di kosan.


Namun Lastri sudah berkata kalau Bima harus mandiri dan tunjukkan kalau bisa hidup sendiri.


Sebenarnya Bima sudah tahu kalau Lastri kakaknya itu tak suka sama Bima, malam itu dia pernah mendengar untuk mengusir Bima dan hanya ibu dan bapak saja yang boleh ada di rumah itu.


Bima yang mendengarkannya pun mengerti keinginan Lastri yang memang sebenarnya ingin mengambil rumah orang tuanya yang atas nama dirinya di surat rumah itu.


Bima kali ini dengan tekad yang kuat akan membuktikan kepada kakak dan adiknya Monik kalau dia bisa berdiri sendiri dan menghidupkan anak dan istrinya sendiri tanpa meminta bantuan dari mereka.


Mulai saat itu Bima semakin tak kenal waktu untuk bekerja dan mengumpulkan pundi-pundi yang dia dapat sedikit demi sedikit.


Untuk meraih kesuksesan dan mendapat kehormatannya lagi dari saudaranya sendiri tanpa diremehkan oleh mereka lagi.


***


Setiap malam, Diah selalu menangis dan menahan kesedihannya.


Sebenarnya dia masih mencintai suaminya, namun sekarang dia berpikir Bima dan Tiara sudah resmi menikah dan bahagia.


Diah juga tak ada ponsel untuk menghubungi kedua orang tuanya dan Sania adiknya itu. Ponsel diah diambil orang saat naik bis pergi berangkat ke Yogyakarta. Jadi semua nomer yang tersimpan di ponsel tak dia tahu lagi saat ini.


"Mas.., kenapa disaat aku pertaruhkan semuanya untuk mu, menerima semua hinaan mereka terhadap ku. Kau malah sekarang pergi bersama yang lainnya. Hiks, hiks..," Diah menangis dan berkata dalam hatinya.


Saat Diah yang jauh disana menangis teringat suaminya, Bima juga menangis dan merasa sangat rindu akan pelukan hangat dan senyuman manis Diah ketika mereka bersama dahulu.



Hati mereka masih saling terpaut dan rindu yang sudah menahun kini baru terasa menyiksa hati keduanya.


Namun pemikiran yang sudah membuat semua ke salah pahaman ini kini harus di tanggung dalam diri mereka. Kasihan Aira yang juga menjadi korban kedua orang tuanya, padahal dia tak mengerti apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


Tetapi dalam hati kecilnya Aira, masih ingin berkumpul kembali seperti dahulu, ada ayah dan mama bersamanya. Aira juga ingin kedua orang tuanya tak berteman seperti ini lagi suatu hari nanti.


__ADS_2