Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 36. Menyalahkan Ibunya


__ADS_3

🌟 6 bulan kemudian...


Harinya sudah di tentukan surat undangan juga sudah di sebar, dan 2 Minggu lagi Monik akan menikah dengan Damar kekasihnya.


Semua keluarga pada repot mempersiapkannya, semua undangan di kirim kesana dan kemari.


Ibu dan bapaknya Monik sampai - sampai mengantar ke kampung - kampungnya berdua dengan motornya saja.


Hujan panas mereka pergi untuk mengantarkan, sementara Monik hanya santai dan mengadakan makan malam bersama teman - temannya di cafe. Dan sibuk memilih kain bakal bersama temannya untuk busana Bridesmaids di pernikahannya.


Monik ingin terlihat mewah dan perfek di acaranya sendiri. Semua cinderamata sudah di beli, segala keperluan tenda dan sebagainya sudah di bayar separuh.


Monik memakai tukang masak dan tukang angkat - angkat, semua dia ingin pakai orang saja.


Uang belanja tak lagi di kasih ke ibunya semenjak kejadian lamaran kemarin.


Uang belanja sekarang di serahkan pada Vera kakaknya yang merupakan adik dari Bima sendiri.


Tinggal 2 Minggu lagi waktu yang tersisa, jadi semua harus segera di lakukan mulai dari sekarang.


Damar memberi uang untuk resepsi sebesar 50 juta ke Monik, dan beberapa perhiasan dan perlengkapan tempat tidur nanti menyusul saat sudah pindah rumah.


Monik inginnya selesai resepsi dia dan suami langsung mencari rumah sewa mereka. Monik sebenarnya sudah gak tahan tinggal di rumah ibunya yang menurutnya merepotkan dan susah di bilangin.


Bima juga mengundang beberapa teman kerja dan atasannya di tempat kerja. Diah juga mengundang beberapa temannya dan saudara - saudaranya.


Diah juga banyak andil dalam pelaksanaan pestanya Monik saat itu.


Diah merasa teringat akan sesuatu, seharusnya seminggu lagi dia akan datang bulan. Diah sedikit cemas akan hal itu, karena akan tidak nyaman bila sedang datang bulan.


Tapi Diah setelah itu tak menghiraukannya, seharusnya perkiraannya saat ini sudah datang bulan, tapi Diah berpikir mungkin agak terlambat karena kecapean mengurus semuanya.


***

__ADS_1


2 Minggu kemudian...


Besok adalah hari Minggu, persediaan semua sudah di siapkan. seperti pasang dekor pelaminan dan lain sebagainya.


Vera juga belanja dan membawa dagingnya pulang ke rumah ibunya. Hari sabtu itu penuh dengan pekerjaan semuanya, mana yang mau di masak, di racik - racik.


Diah juga ikut mengerjakan bersama ibu - ibu tetangga disana. Sebenarnya saat itu Diah sedang sakit kepalanya namun dia tetap membantu untuk acara.


" Seharusnya aku Minggu lalu sudah datang bulan kenapa sekarang terlambat sekali ya? kepala juga sakit, dan tensi darah sepertinya menurun. Kira - kira kenapa ya?" bertanya dalam hatinya.


" Nanti setelah pesta ini berakhir akan aku cek lah ke bidan atau bagaimana." ucapnya lagi dalam hatinya.


Diah pun membantu sampai malam menjelang. Saat sehabis maghrib, ada keributan di dapur rumah mertuanya Diah.


Bibi Monik adiknya mertua Diah datang dan berjalan ke dapur ingin melihat cabe yang akan digiling ke pasar untuk besok pagi.


Saat itu Monik melintas ingin ke kamar mandi melewati bibinya yang sedang memetik cabe disana.


" Monik, ini cabe kok banyak yang busuk - busuk sih ?!"


Bibinya Monik ( bik Sundari ) suka sekali berkata tanpa pakai disaring.


Sementara Monik yang mendengar perkataan itu menjadi kesal kepada ibunya.


Sebenarnya uang belanja tak ada sama ibunya, dari awal juga uang belanja sudah di serahkan ke Vera. Jadi semua itu Vera yang berbelanja, namun entah apa maksud Monik mencari ibunya.


" Bu ! apa maksudnya ibu beli cabe busuk semua seperti itu?! Tolonglah bu, jangan uang itu di korupsi sajalah..., kebiasaan mengambil uang orang ibu ini.!" ucap Monik menuduh ibunya.


" Siapa yang ambil uang belanja dan korupsi. Ibu gak ada ambil uang dari situ..." ibunya berbicara kepada Monik tapi dia malah pergi tak menghiraukan.


" Hiks, hiks, aku saja gak tahu uang itu berapa dan uang itu bagaimana. Aku gak ada beli atau belanja untuk keperluan pesta sedikit pun...!"


" Biar kalian tahu itu, yang pegang uang itu si Vera, dan yang belanja ini semua juga Vera bukan aku...! Tapi aku selalu di salahkan, cabe dan yang lainnya aku juga yang disalahkan.., hiks, hiks..." ibunya menangis dan lari ke kamar Diah.

__ADS_1


Adik ibu mertuanya dari kampung yang sudah datang bertanya kepada kakaknya.


" Kenapa kak...? ada apa? kenapa si Monik kasar dan marah - marah begitu..?" tanya adiknya susi dari kampung.


Ketika ibunya ingin menjelaskan ke Susi, Monik keluar dari kamarnya dan kembali memarahi ibunya lagi di depan orang banyak dan para tamu - tamu.


Orang tua menjadi tak memiliki harga dirinya di mata para tamu.


" Sudahlah bu, gak usah mencari pembelaan dari mana - mana lagi. Memang kebiasaan ibu yang suka mengurang - ngurangin uang untuk belanja." ucap Monik lagi yang membentak ibunya.


" Bukan begitu nak..., ibu gak ada beli atau belanjakan uang kamu..! Bukan ibu yang belanjakan itu semua...!" ucap Ibunya sambil menangis karena sakit hatinya.


Tapi Monik tak perduli, dia langsung pergi ke depan karena ada temannya yang datang. Monik menyambut mereka dengan menghampirinya ke depan rumahnya.


Sementara ibunya menangis di dalam rumahnya dan mengadu ke adiknya.


Sementara Monik menyambut temannya dengan ramah dan senyuman di bibirnya.


Di dalam kamar Diah...


" Sudahlah kak.., jangan lah menangis lagi. Aku tahu bagaimana sifat anak - anak kakak, tak usah kakak pikirkan lagi besok sudah mau acara nanti kakak sakit pula jadi kerjaan lagi sama anak - anak." ucap Susi adiknya.


Ibu mertuanya lalu pergi entah kemana, dia malah tidur dirumah tetangga dan tak keluar kembali.


Bibi Susi lalu bercerita pada Diah bagaimana sifat anak - anak kakaknya ke Diah menantu dari kakaknya.


"Mereka memang begitu semua, dari kecil bibi yang menjaga dan mengasuh mereka. Jadi bibi tahu bagaimana mereka satu persatu." ucap bibi Susi kepada Diah.


" Lastri juga sering datang dan menelpon ke kampung. Lastri juga selalu suka bercerita tentang kamu disana. Lastri selalu menjelekkan kamu disana, baru - baru ini dia berkata ibu sekarang sudah dia yang menjaga dan bukan kalian lagi. Bapak juga sudah mengusir kalian dari rumah ini." ucap bi Susi malam itu.


Diah hanya mendengarkan saja ucapan bibi Susi itu, awalnya mereka yang di kampung sempat percaya akan ucapan Lastri. Tapi setelah mencari tahu dan menelpon secara langsung ke kakaknya baru mereka mengetahui kebenarannya.


" Bibi gak menyangka kalau Lastri sanggup berbohong dan memfitnah kamu Diah dan Bima." ucap bibi kepada Diah istri Bima.

__ADS_1


Diah tak begitu banyak bicara namun bibi itu mengerti bagaimana penderitaan Diah di rumah itu saat ini.


" Diah, bersabarlah dulu dengan Bima. Nanti pasti ada jalan dan semua pasti akan kena ganjaran dari Allah dengan perilaku mereka." ucap bibi Susi.


__ADS_2