
~ Sampai di Bali tepatnya sudah malam dan sudah mengantuk. Diah dari tadi sudah tertidur di dalam mobil, begitu juga dengan Aira. Setelah berhenti sebentar untuk makan malam, mereka melanjutkan lagi perjalanan. Saat itu kantuk pun datang, Bima selalu minum kopi kemasan dalam perjalanan untuk menghilangkan kantuknya.
Tit, tit, tit." mobil di masukkan ke dalam garasi.
Bima pun membangunkan Diah untuk turun dari dalam mobil lalu masuk ke rumah. Aira yang masih tidur di gendong Bima dan membawanya masuk kedalam rumahnya.
"Sayang masuk saja, barang-barang nanti biar mas yang keluarkan dari dalam bagasi mobil." ucapnya Bima.
Diah pun menurutinya, dan berjalan masuk mengikuti Bima saat keluar dan masuk dari pintu yang ada disana. Diah mencari keberadaan Aira di ruangan yang baru dia lihat. Lalu dia bertanya kepada Bima yang masih sibuk mengurus barang mereka.
"Mas, dimana Aira?" tanya Diah yang mencari anaknya.
"Aira di kamar atas sebelah kiri. Nah kalau kamu mau tidur sayang..., kamarnya di sebelah kanan, ya...?" Bima mengatakannya sambil membelai rambut Diah.
Bima melanjutkan membereskan barang dan beberapa pekerjaannya yang berserakan di atas meja ruang tamunya.
Sedangkan Diah sudah naik ke atas dan membuka kamar sebelah kiri, terlihat kamar bercat pink dan pernak-pernik anak cewek banyak disana. Bima sudah lama siapkan itu semua untuk anaknya, dan semua itu untuk anaknya Aira.
Diah pun menutup pintu kamar itu, lalu dia beralih ke Kamar yang ada di sebelah kiri. Dibukanya pintu itu, dan lampu dinyalakan. Nuansa yang berbeda ada disana, kamar itu terlihat lebih teduh dan nyaman. Dindingnya diberi cat berwarna pastel dan tak terlalu banyak furniture didalamnya.
Hanya ada Ranjang, lemari dan meja rias untuk wanita.
Diah masuk dan melangkahkan kakinya ke dalam kamar, dia melihat sekelilingnya disana. Lalu rasa kantuk itu datang dan kali ini sudah tak bisa ditahan lagi. Diah langsung merebahkan dirinya di atas kasur empuk itu. Dia pun terlelap dalam mimpinya, terasa sangat nyaman sekali kamar itu untuknya.
Bima pun sudah siap dengan barang dan pekerjaannya malam itu, Bima pun pergi naik ke atas dengan anak tangga disana. Bima sangat lelah dan berjalan masuk ke kamarnya. Lampu masih menyala, dan di lihatnya Diah sudah terlelap di atas kasurnya.
Lampu di matikan kembali oleh Bima, dia naik ke ranjang itu dan melihat Diah dengan wajah imutnya menurut Bima.
"Ini seperti mimpi bagi ku, kau hadir lagi dalam hidup ku kali ini."
__ADS_1
" Dua tahun ku mencari mu, sampai aku hampir gila karena mu."
"Terima kasih ya Allah.., kau telah kabulkan doa-doa hamba selama ini." ucapnya dalam hati.
Bima membelai pipi Diah yang lembut itu, dan mencium pipinya untuk ucapkan selamat tidur. Bima pun menyelimuti Diah dan masuk ke dalam satu selimut juga. Diah dan Bima akhirnya tidur satu selimut juga tinggal dan tidur dalam satu atap yang sama.
Hari Bima sangat senang namun masih sedikit sedih dengan sikap Diah yang masih marah. Mereka semua pun tertidur lelap dalam mimpinya.
****
Lastri mencari rumah sewa untuk dirinya dan anak-anaknya, kesana kemari tak tahu mau kemana. Dia bingung sekali semenjak kejadian itu Lastri menjadi sedikit linglung seperti orang kebingungan.
"Lastri?!"
"Lastri?!"
Seorang wanita yang mengenal Lastri menghampirinya, Lastri tadinya tak mengenalnya atau mengingatnya.
"Kamu siapa?" tanya Lastri.
"Aku susi teman kamu, masa kamu lupa ya?" celetuk Susi yang menjelaskan.
"Susi?!" Lastri mengerutkan dahinya untuk mengingat.
"Oh, Susi ya aku ingat sekarang." ujar Lastri.
"Kau mau kemana Lastri?" tanya Susi yang penasaran.
"Entahlah aku pun tak tahu, tapi aku mau cari rumah sewa untuk kami bertempat tinggal." ucap Lastri yang sedikit merendah.
__ADS_1
Cuaca di luar sangat panas dan begitu terik, Susi sangat kasihan melihat anak-anak Lastri yang pada kepanasan. Jadi Susi berinisiatif untuk mengajaknya kerumahnya.
"Lastri ayo bawa dulu anak-anak kerumah ku dulu. Nanti kita bisa cari lagi rumah sewanya." ujar Susi yang sangat kasihan pada mereka.
Lastri pun mengikuti Susi saat itu, dan tak berapa lama pun sudah sampai di rumahnya. Susi menyuruh mereka masuk dan mengambil bantal untuk mereka tiduran sebentar. Sementara Susi bertanya kepada Lastri sebab dia mencari rumah sewa itu.
Kebetulan di samping rumah Susi ada rumah yang disewakan. Tapi orangnya sedang tak ada di kota, melainkan sedang di luar kota. Dan bulan depan baru kembali ke rumahnya, maka Susi saat itu memberikan tumpangan tempat tinggal dirumahnya sementara.
Sambil menunggu dan menemani Susi dirumahnya, karena suaminya lagi keluar kota. Dan dua bulan lagi baru akan pulang ke rumah. Akhirnya Lastri pun menerima sikap baik dari Susi, dan ingin menemaninya saat suaminya tak ada.
Mereka pun disuguhkan makan siang oleh Susi, dan dia begitu memperhatikan anak-anaknya Lastri. Lastri belum memiliki anak, makanya Susi sangat perduli pada anak-anak Lastri saat ini.
Lastri sudah menceritakan bagaimana kejadian itu kepada Susi. Dan dia hanya mengatakan yang buruk-buruknya saja agar Susi iba kepada mereka saat ini.
Malam ini mereka akan tidur di rumah Susi dan menempati Kamar yang satunya lagi saat ini. Susi juga menanyakan keberadaan suaminya Lastri malam itu. Mau tak mau Lastri juga menceritakannya kepada Susi, dan permasalahan diantara mereka selama ini.
Susi benar-benar tak habis pikir dengan Rendy suaminya Lastri, dia sudah mensia-siakan Lastri dan anak-anaknya saat ini.
Lastri berkata kepada Susi dengan menangis dan menjelekkan suaminya. Agar terlihat suaminya yang bersalah dan juga wanita bersama suaminya itu.
Lastri masih tak berubah walau sudah begitu kehidupannya sekarang. Malah dalam hati Lastri akan membalas dendam pada mereka semua yang menyakiti dirinya nanti.
Lastri akan mengingatnya rasa sakit itu satu persatu.
***
Vera dan Monik sudah berbaikan dan Monik juga sudah tahu bagaimana Lastri saat ini. Vera juga sudah mengetahui tentang uang kirimannya yang selama ini untuk ibunya tak sampai semuanya ke ibu. Lastri sudah memakan uang itu, jadi Vera pun mengusir dan tak mengizinkan Lastri tinggal di rumah yang dia bangun saat itu
Monik juga sangat setuju dengan yang dilakukan Vera, untuk membuatnya mengerti sikapnya kepada orang tua. Lastri juga tak mu mengurus ibunya saat sedang sakit di rumah maupun di rumah sakit. Lastri tahunya mengkritik Diah saat masih bersama Bima dan tinggal serumah bersama ibunya Bima. Padahal dirinya sendirilah yang tak mengurus dan menjaga orang tua kandungnya.
__ADS_1