Dilema Suami Dan Mertua

Dilema Suami Dan Mertua
Bab 91. Cincin Itu Kembali


__ADS_3

Mama Damar pun pulang dengan adiknya naik motor saat setelah pulang dari kantor tempat dia bekerja.


Damar sedikit tak senang melihat Monik yang tak beri perhatian ke mamanya. Padahal mamanya hanya mau menanyakan obat padanya saat itu.


Damar tahu saat mamanya berkata kepadanya, bahwa tadi sudah tanya pada Monik. Damar tahu padahal ada obat lambung di kotak obat mereka tapi mamanya tak tahu.


"Berarti Monik tak memberikan obat itu dan membiarkan mama seperti itu dari tadi." berkata dalam hatinya.


"Mungkin kali ini aku harus bersikap lebih tegas kepada Monik dan memberikannya sedikit arahan." pikirnya lagi.


Damar masuk ke dalam kamarnya dan menghampiri Monik, Damar sudah mulai sedikit mengomel dan menunjukkan rasa kecewanya. Namun tiba-tiba perut Monik keram dan menegang membuatnya menjerit kesakitan.


"Argh..., mas perut ku sakit mas."


"Sakit sekali.., huh.., huh..," Monik tarik nafas dan membuangnya kembali.


Damar menjadi panik dan serba salah akhirnya Damar mengambilkan teh hangat dan mengelus perutnya Monik dan menciumnya. Monik sedikit tenang Damar pun tak jadi mengomel kembali. Kali ini anaknya sudah menyelamatkannya, dan Monik sedikit sangat senang karena bisa terbebas dari omelan Damar hari itu.


****


Malam setelah akan tidur, Diah masih duduk di dalam kamar kursi dekat jendela. Diah memandangi ke arah luar jendela dan entah apa yang ada di dalam pikirannya.


Tok...


Tok...


"Permisi sayang..," ujar Bima.


"Iya sayang masuklah, mama tak menguncinya kok." pekik Diah dari dalam.


Bima yang mendengarkannya langsung masuk ke dalam, dan langsung matanya menangkap keadaan Diah di kamar itu.


"Kamu sedang apa disana ma..?" tanya Bima.


"Ternyata belum tidur? Yah, gagal dong surprise mas jadinya." Bima sedikit cemberut.

__ADS_1


Diah tersenyum dengan tingkah suaminya itu, Bima berjalan ke arah Diah yang masih di depan jendela.


Bima pun langsung memberikan sebuah buket bunga yang ada di tangannya.


"Ini untuk merayakan apa mas? Kok pakai-pakai bunga segala sih? Kamu malam ini sweet banget sayang..," kata Diah yang menghargai pemberian dari suaminya.


"Iya gak ada perayaan atau apa pun ma..., ini cuma ucapan terima kasih atas makan siang yang en..ak banget."


"Terima kasih ya sayang..," Bima mencium kening istrinya.


"Ini terlalu berlebihan kali mas.., kamu ada-ada saja." Diah pun memperhatikan bunganya dan langsung pergi mengambil sesuatu.


"Sayang kamu mau kemana..?!" tanya Bima.


"Sebentar saja.., tunggu ya nanti pasti kembali." Diah berlari dan langsung melesat seketika.


"Hah.., Diah ini belum selesai juga romantisnya gimana sih..?!" Bima terlihat sebal.


Lalu Diah kembali dengan sesuatu di tangannya, Bima berpikir untuk apa toples kaca itu. Tapi Diah berjalan dengan senyumannya, dan meletakkan buket itu di toples tersebut.


Bima pun juga tersenyum dan setuju dengan istrinya itu. Bima meraih tangan Diah dan menggenggamnya matanya menatap mata Diah saat itu.


Diah pun terkejut dan dengan perlakuan Bima malam itu, mata Diah pun menatap serius ke mata Bima namun penuh cinta dan kasih sayang.


"Ma, maaf selama ini mas belum bisa memberikan kebahagian, bahkan kamu masih saja dirundung kesedihan. Mas juga belum bisa memberikan sesuatu yang berharga untuk mama." ucap Bima.


Tangan kanan Bima pun melepaskan genggamannya, lalu merogoh saku celananya. Bima mengambil kotak kecil berwarna merah di sakunya itu.


Kotak itu pun diletakkannya di atas meja putih yang ada mawar disana dan menyodorkannya ke arah Diah.


"Ini apa mas?" tanya Diah yang sedikit kaget melihat kotak kecil itu.


"Ini hanya janji yang belum mas bayar ke kamu sayang. Coba kamu bukalah dulu lihat isinya." kata Bima lagi kepada Diah.


Diah pun membuka kotak merah itu dan terkejut melihat isi yang ada di dalamnya. Itu sangat persis sekali bagai kepunyaannya dulu yang di berikan Bima kepadanya disaat hari melamar Diah dirumahnya.

__ADS_1


"Mas, ini... sangat sama persis seperti punya mama yang kamu berikan pertama kali melamar ku." kata Diah yang sangat heran.


"Iya ma.., aku tadinya mencari-cari yang sama lagi dan ingin ku belikan untuk mama. Tapi sulit untuk di dapat yang sama persis, akhirnya aku suruh mereka untuk membuatkannya untuk kamu istri ku." kata Bima kepada Diah.


"Dan ini sudah dari sebulan yang lalu mas buatnya." Bima berkata lagi.


Diah terharu dan menangis, matanya melihat ke arah Bima dengan rasa tak percaya, bahwa cincinnya itu balik lagi ke jari manisnya. Bima mengambil dan mengenakannya kembali di jari manis istrinya itu.


Diah sangat senang cincin itu sekarang sudah di kembalikan oleh Bima lagi suaminya. Bagi Diah itu cincin sangat berharga dan itu pemberian Bima saat dia menyatakan ketulusannya kepada orang tua Diah.


🗓️ Flast Back


Cincin nikah itu sempat di jual saat Bima tak ada pekerjaan lagi dan dia di keluarkan dari pekerjaannya. Jadi Diah harus mengorbankan cincin yang ada di jari manisnya saat itu di jual ke pasar untuk mendapatkan uang dan berjualan. Memang uangnya untuk modal berjualan nasi lemak saat itu, dan setiap hari Diah yang memasak nasi lemaknya harus bangun jam 4 pagi.


Dan pukul 06:30 pagi Bima sudah keluar untuk keliling berjualan nasi-nasi lemak dan nasi goreng dengan motornya yang sudah tua.


Saat itu Bima belum ganti motor seperti yang sekarang.


Diah semakin mengerti ketulusan hati Bima kepadanya. Dan ternyata Bima memang sudah menyiapkan segalanya untuk menanti Diah kembali lagi ke sisinya seperti saat itu.


***


"Terima kasih ya ma.., kamu memang suami ku yang terhebat dan terbaik." ucap Diah memeluk Bima suaminya.


"Terima kasih ya Allah, kau berikan aku suami yang sangat baik dan tulus cintanya kepada diri ku."


"Buatlah kami selalu bersama terus sampai tua dan hanya maut yang dapat memisahkan kami selamanya."


"Lalu pertemukan kami lagi di surga indah mu yang kekal dan abadi itu." doa Diah dalam hatinya.


Kini Diah sudah merasa tenang dan benar-benar menerima kembali Bima dalam hidupnya. Bahkan Diah tak akan mau berpisah lagi dari Bima untuk selamanya.


Malam itu pun mereka tidur dengan pelukan mesra, Diah memeluk erat tubuh suaminya seakan tak mau kehilangan dan jauh lagi dari suaminya itu.


Aira anaknya malam itu tidur dan tersenyum, dia bermimpi keluarga kecilnya itu utuh kembali seperti dulu yang diinginkannya. Bahkan sampai selamanya dan dalam mimpinya itu Aira juga sukses meraih cita-citanya sebagai seorang dokter ahli bedah.

__ADS_1


Namun Aira tak tahu bahwa keluarga kecil mereka sebenarnya memang sudah bersatu kembali. Dan sekarang Allah sedang menyusun jalan kehidupan untuk keluarga mereka yang baru kembali.


__ADS_2