
Malam harinya Tiara pergi dengan mobilnya kerumah Bima lagi. Saat mobil Tiara keluar, mobil Roby ada di luar jalan rumah Tiara. Lalu dengan cepat Roby mengikuti mobil Tiara saat itu juga. Roby ingin tahu mau kemana Tiara malam itu dengan menyetir sendirian.
Mobil Tiara berbelok ke kanan yang di ikuti oleh Roby dari belakang. Tiara tak tahu kalau mobilnya di ikuti oleh Roby yang tadi akan kerumahnya.
Tiara lalu menghentikan mobilnya di depan rumah Bima, dia keluar dari mobilnya dan berjalan menghampiri rumah Bima.
Roby hanya melihatnya saja dari dalam mobil dan mencari tahu tujuan Tiara ke rumah itu.
Tiara mengetuk pintu rumah itu, dan menunggu diluar pintunya.
Roby ingin tahu rumah siapa yang Tiara datangi malam-malam begini.
Setelah beberapa kali mengetuk namun tidak ada orang yang keluar dari dalam rumah itu.
Tiara pun masuk ke dalam mobilnya lagi namun tak menyalakan mesinnya.
Ternyata dia masih menunggu disana sampai Bima pulang ke rumahnya malam itu juga. Tiara akhirnya menunggu dan diam di dalam mobilnya, sambil mencoba menelpon Bima saat itu.
Tut..., tut...,tut...
Telpon dari Tiara tak di jawab oleh Bima, dan Bima juga tak tahu kalau ada telpon masuk karena terlalu riuh suara-suara di jalanan itu.
Akhirnya setelah menunggu selama 1 jam Bima terlihat pulang ke rumahnya oleh Tiara.
Tiara buru-buru keluar lagi dari mobilnya langsung menghampiri Bima yang baru turun dari motornya.
"Itu kan...?" Roby seperti mengenali pria yang Tiara hampiri.
"Mas, kamu baru pulang ya? kenapa malam sekali pulangnya?" tanya Tiara.
"Sudahlah bukan urusan mu..! Tolong jangan kesini lagi mencari ku, aku sudah bilang aku tak mau menikah.." terhenti.
Plak..!
Plak..!
Tiara menampar wajah Bima dengan dua tamparan, dan itu karena ucapan Bima membuatnya kesal.
__ADS_1
"Kau tak mengerti juga ya mas, aku sudah bersabar menghadapi mu sampai sekarang. Dan kau masih saja bersikap seperti itu kepada ku !"
"Kau tak tahu berterima kasih, kalau tak ada aku mungkin nyawa istri mu itu sekarang sudah tiada lagi !" pekik Tiara.
Plak..!
Bima menampar wajah Tiara yang berkata tak pantas untuk istrinya Bima. Emosi sudah tak terkontrol dan semua menjadi kacau, pikiran Bima lagi kalut karena masalah istri dan keluarganya. Di tambahkan beban lagi oleh Tiara yang terus mendesaknya untuk menikah dengannya.
"Oke mas kalau itu yang kau mau, aku akan memenjarakan mu secepatnya. Kau ingat tamparan mu ini kepada ku, aku tak akan melepaskan mu walau kau memelas atau berlutut kepada ku." ucap Tiara yang masuk ke dalam mobilnya dan pergi dari rumah Bima secepat mungkin.
Roby mengikuti Tiara dan memperhatikan kecepatan mobilnya. Roby takut terjadi apa-apa pada Tiara saat sedang dalam keadaan emosi.
Tiara langsung pulang ke rumahnya dan masuk ke kamarnya lalu menangis dan membanting semua yang ada di kamarnya.
Prang...!
Bagh..!
Bugh..!
***
Diah dan Aira sudah sampai di Yogyakarta, mereka mencari tempat untuk bertempat tinggal. Aira yang bingung dan sedih karena sudah beberapa hari tak bertemu dengan ayahnya.
"Aira.., sementara kita tinggal disini dulu ya? uang mama hanya cukup untuk ngekos saja, lagian kita cuma berdua tak usah rumahnya yang terlalu besar juga." ujar Diah kepada anaknya.
Ternyata Aira mengerti dan mau menerimanya. Mereka segera masuk setelah membayar uang kosnya dan mendapat kuncinya dari yang punya kos.
Tempatnya sejuk dan segar, suasananya juga sangat nyaman serta tak terlalu dekat dengan jalan jadi tak terlalu berisik.
Malam ini Diah dan Aira segera istirahat dan tidur dahulu lebih awal, agar besok bisa melakukan segala sesuatunya dan berpikir kedepannya biar lebih segar.
***
Lastri masih saja dengan kata-katanya yang berbisa, Lastri sukanya menceritakan keluarganya kepada tetangganya kalau Diah dan Bima sudah bercerai, dan Diah pergi meninggalkan suaminya tanpa memberi tahukannya.
Tetangga menjadi bersemangat kalau sudah ada gosip yang tersebar.
__ADS_1
"Ah, masak sih Las? nanti kau mengada-ada, bukannya mereka tidak pernah bertengkar sama sekali?" mereka pada bertanya dan tak yakin akan berita yang Lastri sebarkan.
"Aku gak bohong kok bu ibu.., kalian lihat saja Bima kalau kesini selalu tak bersama dengan istrinya." kata Lastri langsung kepada mereka.
Para tetangga juga suka lihat sudah 3 Minggu ini Bima kalau ke rumah ibunya memang tak bersama Diah.
Tapi mereka tak ada yang mau bertanya kepada Bima.
Lastri selalu memperkeruh masalah dan menyebar luaskan aib adiknya tersebut ( Bima ).
Namun Bima tak tahu menahu kalau Lastri kakaknya itu sangat licik dan tak punya hati kepadanya.
Lastri seorang pendendam dan kalau sudah marah atau ngamuk tak pakai logika.
Flash back...
Lastri pernah menyewa di suatu rumah dengan banyak tetangganya, dan disana dia pernah seperti orang gila karena mulutnya sendiri.
Lastri suka sekali bertengkar dan menceritakan tetangganya yang satu ke satu lainnya. Sehingga tetangganya itu tak menyukainya, dan membalasnya dengan membuatnya menjadi orang tak waras.
Dia pernah berlari kesana kemari tanpa busananya, dan itu membuat suami dan anak-anaknya malu sekali melihatnya. Orang tua Lastri juga sudah mengobatinya kesana kemari namun belum sembuh juga, akhirnya Lastri di suruh meminta maaf ke pada seluruh tetangganya yang di sekitar rumah tempat tinggalnya.
Sampai suaminya memohon agar istrinya bisa sembuh dan tak mengalaminya lagi. Akhirnya Lastri pun pindah dari rumah sewa itu, dan mencari rumah sewa yang lain, dan terjadi begitu lagi juga kepada dirinya.
Karena mulutnya sendiri yang membuat orang merasa benci dan jijik kepada sifatnya.
Padahal Lastri anak lulusan pesantren saat masih sekolah, ilmu agamanya bagus dan sholatnya tak pernah putus lima waktu. Namun hatinya yang kotor dan pikirannya yang selalu buruk membuat dirinya seperti itu.
Kini sakitnya itu sudah sembuh dengan di rukiyah oleh seorang Kiai tapi sesekali akan kumat lagi bila dia masih seperti itu dan tak mau merubahnya.
***
Itulah Lastri yang selalu penuh dengan sensasinya sendiri, dan dia masih juga tak mau mengerti dan sadar dengan dirinya sendiri.
Suaminya juga tak bisa menasehatinya karena karakternya itu sepertinya sudah mendarah daging di tubuhnya. Orang tua Lastri juga tak mau banyak urusi tingkah dan kelakuan Lastri yang sudah tak bisa di nasehati.
Lastri selalu senang dengan kehidupannya yang selalu menyebar cerita-cerita kemana-mana dan membuat kumpulan-kumpulan gosip dimana pun berada. Bahkan dia juga suka mencuci dan menghasut pikiran seseorang siapa pun itu.
__ADS_1