
🌟 Sudah 2 tahun berlalu ini Monik belum hamil juga, sementara dia dan suaminya sangat ingin sekali memiliki momongan. Lalu Monik mengecek semua dirinya dan juga suaminya, mana tahu ada sesuatu dari mereka yang membuat Monik belum hamil juga.
Namun setelah di cek semuanya normal dan tak ada yang salah dari mereka. Monik dan suaminya ternyata sehat dari pemeriksaan.
Cuma dokter berkata mereka hanya kecapean, lalu mereka pun di beri vitamin sama dokternya.
" Bapak, dan ibu harus banyak istirahat, karena dapat mempengaruhi kinerja hormon dan makanya sulit mendapat momongan." ucap dokter kandungan tersebut.
Monik dan Damar pun mengerti dan mereka langsung pulang setelah selesai dari pemeriksaan itu.
***
Sebulan kemudian...
" Mas! mas Damar! mas...!" Monik berteriak memanggil suaminya.
" Ada apa sih sayang...?" tanya Damar.
Monik menunjukkan hasil testpack yang dia lakukan di kamar mandi.
" Ini apa Monik? mas gak mengerti." Damar menggaruk kepalanya.
" Ish..., gimana sih mas. Ini artinya aku positif hamil mas..." kata Monik sangat senang.
" Hah! Iya kah ?!" Damar tak percaya dengan yang dia dengar.
" Iya mas..., aku hamil..!" Monik berteriak karena sangat senang.
" Sayang..., aku sangat sayang pada mu. Kalau begitu sebentar lagi mama akan menjadi oma, dan ini harus kita bilang ke mama." ucap Damar yang ingin memberi tahukan kabar itu ke mamanya.
" Iya baiklah sayang, nanti sore kita akan ke rumah mama." ucap Damar.
" Aku tak mau kesana mas, lebih baik kabari lewat ponsel saja." kata Monik yang tak ingin bertemu dengan mamanya Damar.
Monik sebenarnya tak suka sama mamanya Damar, karena selalu meminta uang saja ke Damar anaknya. Seharusnya itu wajar bila Damar mampu, memberi uang ke anaknya. Karena papanya Damar sudah lama meninggal, Damar juga sudah lama menjadi tulang punggung keluarganya.
Dan kini dia sudah menikah bagaimana mamanya akan menafkahi keluarganya sendiri sementara adiknya masih kuliah dan memerlukan banyak biaya.
Tetapi Monik selalu menghasut suaminya untuk tidak terlalu fokus ke mama dan adiknya setelah menikah.
Dan Damar mengikuti perkataan Monik istrinya, karena Damar juga sedikit kesal dengan mamanya yang menikah secara diam - diam dengan pria yang lain.
__ADS_1
Damar tak suka dengan pria pilihan mamanya itu, sedangkan adiknya tak mau ambil pusing akan semua yang terjadi.
Monik menjadi istri terlalu banyak mengatur kehidupan keluarga dari suaminya. Seharusnya anak lelaki itu bertanggung jawab anak keluarganya, yaitu adik dan mamanya. Dan sebagai istri harus mengingatkan suaminya dengan tanggung jawabnya itu. Tapi lain dengan Monik yang selalu menghasut untuk tidak mendengarkan ucapan mama ke suaminya.
Saat ini Damar masih dibutakan oleh cintanya ke Monik, dia lebih mendengarkan ucapan Monik karena takut kehilangannya saat ini.
Sementara dia tak berfikir sebelum dia bersama Monik, selama 29 tahun dia sudah hidup bersama mamanya dan membuatnya seperti sekarang adalah mamanya.
Sementara Monik mendapatkannya setelah dia sukses dan bekerja di bagian perusahaan yang ternama.
Damar terlalu membawa kesalnya kepada papa tirinya dan perilaku mamanya yang tak bilang kepadanya kalau ingin menikah lagi.
***
Dirumah Diah...
Mama dan adik - adiknya yang lain sudah pulang sore itu, lalu Bima menelpon Diah.
" Hallo yah ada apa?" tanya Diah.
" Hem... dirumah apa masih ramai ma?" Bima bertanya perlahan.
" Oh, mama sama adik sudah pada pulang yah. Ada apa ?" tanya nya lagi.
Mereka pun pergi ke rumah sakit xxx itu dengan angkutan umum yang lewat ke arah sana. Diah dan Aira pun sampai di depan rumah sakit itu, mereka turun dan masuk ke dalam lalu naik ke lantai 3 dimana itu tempat ibu mertuanya dirawat.
" Assalamualaikum..." ucap Diah dan Aira.
" Nenek...!" Aira berlari ke arah neneknya.
Aira sangat senang bertemu dengan neneknya, dan begitu juga dengan ibunya Bima.
" Bu..." Diah menyapa mertuanya.
" Diah? kau datang kesini. Maafkan ibu ya Diah..., selama ini ibu baru sadar bahwa kamu sudah tak dapat keadilan selama tinggal di rumah ibu." ucap Ibu mertuanya.
" Tak ada yang perduli sama ibu di rumah, Diah..." kata ibu mertuanya lagi.
" Maafkan ibu ya? mereka juga sudah tak baik kepada mu. Sekarang Lastri selalu marah - marah dan selalu tak mau membantu di rumah itu. Lastri sekarang sudah tinggal dirumah ibu nak.., hiks, hiks, hiks !" mertuanya menangis.
" Sudahlah bu... jangan di sesalkan yang sudah terjadi. Diah sekarang sudah memaafkan semuanya, Diah dan Bima sudah bahagia sekarang." kata Diah sambil menggenggam tangan mertuanya.
__ADS_1
Bima yang melihat kedua wanita itu, menantu dan mertua yang akrab sangat senang. Namun dia kembali teringat sekarang sudah 2 tahun 3 bulan terlewat. Dan beberapa bulan lagi Bima harus menepati janjinya kepada Tiara.
Diah lalu mengurus ibu mertuanya dan menggantikan bajunya saat itu. Pakaian yang kotor dibawa pulang oleh Diah untuk di cuci di rumahnya.
Masih di rumah sakit...
Hari sudah sore, dan bahkan 5 menit lagi akan maghrib, Bima, Diah dan Aira masih menunggu ibu di rumah sakit sampai bapaknya Bima datang kesana.
Tiba - tiba Lastri datang terburu - buru masuk ke ruangan ibunya di rawat.
" Ibu..., sudah makan kah? sebentar lagi bapak akan pulang dan..." Lastri berhenti berbicara.
Lastri melihat tempat makan ibunya sudah kosong dan ibunya sudah bersih berganti baju saat itu.
Lastri melirik ke arah Diah dan Bima, lalu dia berjalan lebih dekat lagi pada ibunya.
" Ibu sudah agak enakan? bagaimana makanannya apakah enak tadi ibu makan..? aku akan belikan yang lain saja bila tak enak." ucap Lastri.
" Sudahlah..., Diah sudah mengerjakan semuanya untuk ku. Kau tak perlu repot - repot melakukannya lagi." ibunya lalu membalikan badannya membelakangi Lastri.
Lastri mencoba memijat kaki ibunya, dan dia menyadari bahwa bapaknya sudah datang melihat dari jendela kamar tersebut.
Bapaknya pun masuk dan melihat Lastri yang sibuk menjaga dan merawat ibunya. Lalu Lastri sibuk sendiri dan mencari muka pada bapaknya di depan semua orang disana.
" Bapak sudah datang?" ucap Lastri yang sibuk agar diperhatikan oleh bapaknya.
Sementara Bima dan Diah hanya diam saja dan menyalami bapaknya.
Tak berapa lama Bima dan Diah pamit untuk pulang kerumahnya.
" Bu, kami pulang dulu ya..., jaga kesehatan ibu dan semoga cepat sembuh." ucap Bima.
Aira dan Diah menyalaminya dan pamit untuk pulang kerumah mereka segera. Mereka pulang karena sudah malam dan lagi bapaknya sudah ada disana.
Diah dan Aira juga tak lupa berpamitan kepada Lastri saat itu yang ada di samping ibunya sedang memijat kaki.
" Kak pulang dulu ya kak...?" ucap Diah berpamitan.
" Huh !" Lastri hanya diam saja dan tak membalas ucapan Diah sama sekali.
Dia berpura - pura tak mendengarkannya saat itu, namun matanya selalu melirik merasa tak senang kehadiran mereka disana.
__ADS_1
Bima, Diah dan Aira pun pulang malam itu juga dengan motornya, dan Aira tertidur dijalan karena terpaan angin di wajahnya membuatnya mengantuk