Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda

Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda
Bab 10 Cerita Berawal.


__ADS_3

"Tiba-tiba aku merasa demam dan tidak enak badan Paman." jawab Mita.


"Kamu istirahat, nanti Paman akan memasak bubur untuk mu." sahut ayah Karen, kemudian Ayah Karen pergi ke dapur lalu memasak bubur, setelah itu dia datang ke kamar Mita dan memberikan bubur kepada Mita, sambil makan ayah Karen berkata.


"Makan lah, kemudian minum obat, tadi Paman ke warung membeli obat demam untuk mu," setelah menyerah kan obat demam kepada Mita, ayah Karen mau keluar tapi Mita berkata.


"Paman pandai memasak, bahkan bubur biasa pun terasa enak," ucap Mita sambil makan, kemudian Ayah Karen duduk di samping Mita sambil berkata.


"Terima kasih Nak!"


"Apakah Paman pernah bekerja di restoran?" tanya Mita, Ayah Karen menggeleng kan kepala lalu bilang.


"Dulu aku seorang pemulung dan hari itu aku sedang memulung sampah lalu di sebrang jalan aku melihat sebuah mobil mogok yang tiba tiba berhenti di depan ku, tidak lama kemudian keluar lah seorang pria dan supir nya, juga anak nya yang kira-kira masih berusia 10 tahun tapi karna ayah nya sibuk menelpon, supir nya juga seperti nya sibuk menelpon bengkel sehingga tidak ada yang memperhatikan anak nya, sambil duduk di pinggir jalan karna lelah dan dengan menjadi kan topi sebagai kipas, aku memperhatikan anak itu yang sedang main bola di jalan tapi tiba-tiba dari arah belakang datang sebuah mobil pick up dengan kecepatan tinggi, tanpa fikir panjang aku langsung berlari menyelamat kan anak itu tapi malang nya aku yang terjatuh dan kaki kiri ku yang di lindas ban mobil itu kemudian kaki ku patah lalu aku pingsan, ketika aku sadar aku sudah berada di rumah sakit entah sudah berapa lama, aku ketakutan karna tidak punya uang untuk membayar biaya di rumah sakit kemudian aku pergi diam-diam dari rumah sakit lalu pulang ke rumah, ketika tiba di rumah, ibu nya Karen tidak pernah bisa menerima keadaan ku, setiap hari kerjaan nya marah-marah saja kemudian setelah beberapa hari dia pergi meninggal kan rumah dan juga Karen yang saat itu baru berusia 10 tahun kemudian karna tidak ada yang bisa mengurus kami di rumah, kami pun memutus kan untuk pergi ke desa ke tempat bibi nya Karen.


"Dasar pria tidak tahu terima kasih,seharusnya nya dia memberikan uang kompensasi kepada Paman." ucap Mita sambil menyeka air mata nya.


"Sebenar nya waktu kecelakaan itu terjadi, aku memang tidak membawa identitas apa pun,jadi entah dia mencari ku atau tidak aku juga tidak tahu," sahut ayah Karen sambil tersenyum.


"Oooowww.....," sahut Mita kemudian ayah Karen bilang lagi.


"Hari ini aku bertemu pria itu di kantor tempat Karen bekerja, tapi aku merasa malu menyapa nya karna aku terlalu takut di hina dikata-katain hitam, dekil, pincang, jelek dan miskin,kasihan Karen jika dia di permalukan di depan atasan nya."

__ADS_1


"Siapa bilang! Paman jelek, hitam dan dekil? Paman itu masih terlihat keren," sahut Mita menyemangati, tapi ayah Karen berkata.


"Hari ini teman-teman kantor Karen berkata begitu dan sakit di hati ku masih bisa aku tahan, tapi rasa malu Karen justru membuat hati ku lebih sakit, mereka boleh menghina ku di depan ku, tapi aku tidak bisa menerima ketika mereka menghina ku di depan Karen,kasihan dia."


"Paman yang sabar ya? kita orang miskin memang harus siap di hina, di toko bunga juga aku sering di hina tapi apa boleh buat pasrah saja." ucap Mita sambil menyemangati diri nya sendiri juga, tidak lama Kemudian Mita selesai makan dan ayah Karen berkata.


"Kamu minum obat lalu istirahat." setelah berkata begitu kemudian Ayah Karen keluar dari kamar Mita dan Mita pun tertidur setelah minum obat.


*****


Sore hari Karen pulang dan di rumah ayah nya sudah selesai memasak, Karen dan Mita makan malam bersama, Mita berkata.


"Karen! ayah mu pandai memasak." Ayah Karen pun tersenyum sambil bilang.


"Siapa bilang hidup ayah tidak berguna? justru hidup ayah sangat penting bagi ku, dan aku janji bahwa aku tidak akan pernah meninggal kan ayah." Kemudian suasana menjadi lebih baik, setelah selesai makan mereka pun tidur.


*****


Keesokan pagi nya ketika Karen sedang membersihkan ruangan pak Romi, ketika melihat Karen, pak Romi bertanya kepada Karen.


"Apakah ayah mu sudah di jemput?"

__ADS_1


"Iya tuan, sekarang ayah tinggal di kost bersama saya dan teman saya." sahut Karen, di saat yang sama Kemudian terdengar suara ketukan pintu dari luar lalu pak Romi berkata.


"Masuk!" Narin pun masuk lalu dia duduk di depan ayah nya kemudian bertanya.


"Ayah memanggil ku?" lalu Ayah nya mengambil alamat dari dalam laci meja nya kemudian menyerahkan nya kepada Narin sambil berkata.


"Narin! pergi lah ke alamat ini dan kamu lihat lah lokasi di tempat itu karna kita akan buka pabrik teh di tempat itu nanti karna katanya banyak kebun teh di sana." Narin melihat alamat nya lalu bertanya.


"Sejak kapan ayah tertarik untuk membangun pabrik teh? bukan kah selama ini perusahaan Wijaya bergerak di bidang yang berbeda?"


"Jangan pikir kan tentang hal itu Narin! karna nanti kita akan di awasi oleh ahli nya dan juga alasan aku tertarik untuk membangun pabrik teh yaitu untuk membantu menambah penghasilan warga di sana." sahut ayah nya kemudian Narin membaca lagi alamat yang tertulis kemudian berkata.


"Ayah, tempat ini sangat jauh, ada banyak tanjakan, hutan dan juga pegunungan yang harus di lewati, hari ini Hanan juga sedang libur karna ayah nya harus dibawa ke rumah sakit lagi karna asma nya kambuh, jadi aku ragu untuk pergi sendirian" ucap Narin mencari alasan karna dia sangat malas bepergian jauh, kemudian Karen berkata.


"Pasti tuan muda takut di jalan dan melewati hutan, karna tuan muda kan pengecut." sahut Karen sambil menjulur kan lidah kepada Narin kemudian dengan kesal Narin berkata.


"Aku bukan pengecut seperti mu."


"Aku tidak takut karna meski aku perempuan setidak nya aku bukan pengecut yang pengecut itu tuan muda, percuma punya burung dan telur nya jika ternyata pengecut." ejek Karen.


"Kenapa kamu berpikir aku takut? aku hanya malas saja karna tempat itu terlalu jauh," Sahut Narin, kemudian Karen tidak mau kalah dan berkata lagi.

__ADS_1


"Jauh bukan alasan untuk menutupi rasa takut." Kemudian Narin berdiri.


"Mengapa kamu sangat menyebalkan?" teriak Narin.


__ADS_2