
Hanan dan Mita sangat terkejut mendengar berita itu dan mereka pun segera pergi ke rumah sakit untuk memastikan bahwa wanita itu memang Karen dan setelah di pastikan wanita itu memang Karen mereka juga yakin pria yang mati di dalam mobil adalah Narin.
Tidak ada yang tahu kejadian yang sebenar nya dan yang tahu hanya lah Karen tapi Karen mengalami koma, kemudian Hanan memutus kan Karen di pindah kan perawatan nya di rumah sakit terbaik dan di rawat oleh dokter pilihan.
Narin palsu pun juga di makam kan di samping makam ayah nya dan kesedihan menyelimuti kediaman keluarga Wijaya lagi,tapi Hanan menyuruh Mita berhenti bekerja dan pokus mengurus si kembar dan juga mengurus rumah saja, Mita pun setuju.
Mita memperlakukan si kembar Aure dan Ekre dengan baik, seperti anak nya sendiri sementara Kanza sangat terluka dengan keadaan ibu angkat nya dan sering murung,hati nya sudah memahami rasa sakit dan takut kehilangan, meski Mita juga memperlakukan nya dengan baik, tapi Kanza tidak bisa mengabaikan rasa sakit di hati nya karna memahami keadaan ibu angkat yang sangat dia sayangi itu.
Setiap hari Minggu Hanan dan Mita membawa Si kembar dan juga Kanza ke rumah sakit, tapi Karen tidak menunjukan tanda-tanda akan sadar, hanya mata nya saja yang mengeluar kan air mata ketika si kembar atau Kanza yang menangis di samping nya dan dokter sudah memperingatkan kepada mereka bahwa kemungkinan Karen sadar sangat kecil tapi Mita dan Hanan tidak pernah kehilangan harapan.
*****
Hari itu di tempat Narin jatuh atau tepat nya di bawah jurang, ada ayah dan putra nya yang sedang mencari kayu bakar menemukan Narin kemudian mereka membawa Narin ke rumah mereka dan Narin pun di rawat oleh anak perempuan mereka yang bernama Ningsih.
Ningsih adalah wanita desa yang cantik dan juga masih muda, berusia 25 tahun dan belum menikah, ketika melihat wajah Narin meski sedang dalam keadaan penuh memar dan penuh darah tapi ketampanan dan pesona Narin mampu membuat Ningsih jatuh hati kepada nya.
"Rawat pemuda ini," ucap ayah nya kepada Ningsih.
"Ya ayah." sahut Ningsih dengan bersemangat.
"Besok aku akan melapor kan ke polisi tentang penemuan pria kita ini," ucap kakak laki-laki nya yang bernama Wisnu.
"Kita tunggu sampai dia sadar saja Ka' Wisnu." pinta Ningsih kepada Kaka nya.
kemudian pagi pun datang dan Narin sadar, Narin mencoba bangkit dari tempat tidur nya dan di saat yang sama Ningsih datang kemudian membantu nya untuk duduk.
__ADS_1
"Kaka sudah sadar?" tanya Ningsih, tapi Narin tidak langsung menjawab dan dengan bingung Narin memandangi tempat di sekitar nya.
"Di mana aku?" tanya Narin dengan tangan kanan nya memegangi kepala nya yang masih terasa pusing.
"Kaka kemaren ditemukan ayah di bawah jurang, lalu membawa Kaka ke rumah ini." Ningsih menjelas kan seraya menyuapi Narin dengan bubur hangat yang baru saja dia buat.
Narin pun makan kemudian Ningsih bertanya.
"Kaka dari mana? dan nama Kaka siapa?" pertanyaan itu membuat Narin berteriak karna kepala nya sakit.
"Aaaa....."
"Kaka kenapa! apakah Kaka baik-baik saja?" tanya Ningsih dengan sangat panik.
Kemudian Ningsih memberikan minum kepada Narin dan Narin mulai tenang kemudian.
Pernyataan Narin membuat Ningsih yakin bahwa Narin adalah jodoh nya dan dia pun berusaha menutupi rasa penasaran nya dengan berkata.
"Jangan berusaha keras untuk mengingat siapa diri Kaka sebenarnya karna mungkin masa lalu kaka memang tidak penting untuk kaka ingat." seraya Ningsih melirik ke jari manis Narin yang memakai cincin kawin.
Kemudian Narin berbaring dan dia memejamkan mata nya.
Sore itu datang lah ayah dan juga kakak nya dengan membawa kayu bakar dan Ningsih berkata.
"Aku ingin menikah dengan pria itu, tolong jangan biar kan siapa pun menemukan nya." dengan mata berkaca kaca Ningsih memohon kepada ayah dan saudara nya,kemudian mereka pun sepakat untuk menyembunyi kan Narin dan tidak mengabarkan penemuan Narin kepada siapa pun dan juga rumah mereka jauh dari tetangga bahkan tidak bisa di tempuh dengan mobil atau pun motor, jadi bukan lah hal sulit untuk menyembunyikan keberadaan Narin yang tinggal di rumah mereka.
__ADS_1
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan Narin pun kondisi nya semakin membaik karna dia kehilangan ingatan nya jadi dia sudah terbiasa hidup di pedesaan dan di perkebunan sebagai petani.
Malam itu ketika semua orang sedang makan ayah nya Ningsih memulai percakapan.
"Nak' sampai sekarang kamu belum ingat siapa nama mu, dan kami akan memanggil mu Karta! dan di rumah ini kami memiliki anak perempuan rasa nya tidak enak sama tetangga kalau laki laki dan perempuan tinggal serumah tapi tidak menikah,jadi karna! apakah kamu bersedia menikah dengan Ningsih?" tanya Jatmiko kepada Narin.
Narin yang melupakan semua nya juga merasa tidak punya pilihan dan kalau dia menolak dia juga bingung mau pergi kemana kemudian.
"Baik lah,saya akan menikahi Ningsih" sahut Narin dengan yakin.
Dan pagi itu Jatmiko dan anak anak nya bersama Narin datang ke rumah penghulu yang berjarak kira kira 1 kilo meter dari rumah nya dan Jatmiko berkata kepada penghulu.
"Pa' penghulu! kedatangan saya kemari mau menikah kan anak perempuan saya dengan pria pilihan nya"
"Ningsih?" tanya penghulu.
"Iya Pa' penghulu." sahut Jatmiko.
"Sama pria dari mana Ningsih akan menikah?" tanya penghulu heran karna merasa belum pernah melihat wajah Narin,maklum mereka tinggal di bawah bukit dengan jumlah penduduk yang terbatas dan bahkan tidak ada listrik saking tertinggal nya tempat itu dan karna penduduk nya sedikit jadi dengan mudah mengingat semua orang jika orang itu berasal dari desa itu juga.
"Ooohhh... Karta ini adalah kekasih Ningsih dari kota! Pa' penghulu." sahut Jatmiko menjelaskan.
"Ooo...kenal di mana?" tanya penghulu lagi kepo, sedikit cerewet memang itu Pa' penghulu.
"Di jodoh kan oleh keluarga kami yang bekerja di kota." sahut Jatmiko berbohong.
__ADS_1
Kemudian pernikahan Narin dan Ningsih pun terjadi dan Narin pun bekerja dengan rajin di sawah dan ladang, kadang juga ikut mencari kayu bakar di dalam hutan.
Kehidupan dalam kemiskinan itu di lalui Narin dengan bahagia karna Ningsih juga wanita yang sangat baik dan sangat menghormati Narin dan juga membuat Narin merasa nyaman tapi tidak ada yang berani meminta Narin untuk melepas kan cincin pernikahan Narin yang melingkar di jari manis nya, semua orang mengabaikan keberadaan cincin itu dan Narin juga tidak faham apa arti cincin itu di jari manis nya.