
Setelah faham rencana Isna kemudian Ningsih pamit pulang.
"Baik lah Bu! sudah waktu nya aku pulang, kalau kelamaan nanti suami ku kebingungan mencari ku," ucap Ningsih dengan bangga.
"Baik lah! ibu antar kan kamu ke pangkalan ojek." sahut Isna, kemudian Isna mengantar kan Ningsih ke pangkalan ojek dan kepada tukang ojek Isna mengatakan.
"Bang! antar kan ke istana Wijaya ya Bang!" Isna memberi tahu tukang ojek dan tukang ojek pun mengangguk, Ningsih pun tiba di rumah Wijaya, saat Ningsih datang, Narin sedang duduk di sofa bersama Aure dan Karen juga duduk di sofa bersama Akre dan ketika melihat Ningsih datang, Narin berjalan mendekati pintu untuk menyambut kedatangan istri nya dan meninggal kan Aure, kemudian Narin memeluk Ningsih sambil berkata.
"Sayang kamu dari mana? aku mengkhawatirkan mu," tanya Narin sambil mencium kening Ningsih dan pemandangan itu juga di lihat Karen.
Ningsih yang berdiri menghadap Karen sengaja pamer karna berada dalam pelukan Narin, Ningsih sangat memahami perasaan cemburu nya Karen kemudian Ningsih semakin mesra dan mencium bibir Narin sambil berkata.
"Jangan khawatir suami ku! tadi aku dari pasar!" ucap Ningsih sambil menunjukan belanjaan nya di dalam kantong kresek hitam.
"Apa yang kamu beli istri ku?" tanya Narin sambil memeluk pinggang Ningsih dari belakang, dan Ningsih pun merasa belum puas kemudian Ningsih berkata.
"Gendooong," ucap nya dengan manja, kemudian Narin menggendong nya dan barang belanjaan nya dia jatuh kan begitu saja di lantai, Narin membawa Ningsih ke kamar dan tentu saja ada banyak adegan yang di bayangkan Karen tentang Narin dan madu nya tapi Karen berusaha membiasakan diri demi bisa selalu melihat wajah suami nya,tangisan dan air mata Karen sudah tidak bisa lagi terhitung jumlah nya dan kehancuran hatinya juga tidak bisa lagi dia lukis kan dengan kata-kata, hanya Karen yang faham arti dari penderitaan nya.
Pagi itu ketika Karen keluar dia melihat Narin sudah di bawah tangga menuju keluar rumah untuk berolah raga, Karen hanya mampu melihat nya dari kejauhan tanpa berani menegur nya dan dia hanya melamun, tapi kemudian lamunan nya hilang ketika madu nya memanggil nya.
__ADS_1
"Karen!" mendengar nama nya di panggil Karen pun segera menoleh ke arah suara itu berasal.
"Ya?" sahut Karen, kemudian madu nya masuk ke kamar dan Karen mengikuti nya dibelakang, kemudian madu nya terlihat kebingungan.
"Karen! mau kah kamu membantu ku? anting ku yang satu seperti nya terlepas semalam saat aku dan suami ku bercinta, mungkin suami ku terlalu ganas semalam mencumbu ku sehingga anting ku terlepas dan aku tidak menemukan nya, apakah kamu bisa membantu ku mencari nya di tempat tidur ku, aku sudah mencari nya tadi tapi tidak menemukan nya dan aku sangat haus, jadi aku mau ke dapur untuk mengambil minum, apakah kamu keberatan membantu ku mencari nya di tempat tidur ku?" tanya Ningsih seraya dia memegang anting di kuping sebelah kanan nya, dan Karen juga melihat sebelah kiri madu nya tidak ada anting.
Karen pun mengangguk dan madu nya pun pergi keluar dari kamar nya, Karen juga mengobok-obok tempat suami dan madu nya tidur dengan perasaan sejuta luka, tapi kepolosan Karen membuat nya berniat untuk membantu madu nya mencari anting milik madu nya.
Di luar, Ningsih menemui Narin dan saat itu Narin sedang di taman untuk olah raga sambil menikmati sinar matahari kemudian Ningsih mendekati Narin dan berkata.
"Suami ku! tadi ketika aku keluar kamar, aku melihat Karen datang ke kamar kita dan entah apa yang akan dia lakukan di kamar kita!"
"Apa yang kamu lakukan di kamar ku!!!" bentak Narin.
"Ya ampun Karen! kenapa kamu melakukan ini kepada Kamar kami? apakah kamu sangat membenci ku sehingga kamu melampiaskan nya dengan mengamuk di tempat tidur kami?" ucap Ningsih dan Karen yang polos balik bertanya.
"Bukan kah tadi kamu yang minta bantuan ku untuk mencari anting mu?" tanya Karen kepada Ningsih seraya Karen melirik kedua kuping Ningsih yang sudah menggunakan dua anting dan Karen pun faham bahwa dia sedang dijebak oleh madu nya, Karen melihat ke arah CCTV yang sudah dia perintah kan untuk di non aktif kan, dalam hati nya berkata kalau CCTV itu aktif pasti dia punya bukti bahwa dia tidak bersalah.
"Benar kan sayang? Karen sedang mengamuk di kamar kita." ucap Ningsih sambil menangis.
__ADS_1
"Karen! menjauh dari kebahagiaan kami dan jangan mengganggu kami!" ucap Narin dengan membentak Karen dan Karen terlalu kecewa, bahkan mulut nya tidak lagi mampu berkata apapun, tidak ada kemampuan yang di miliki Karen untuk membela diri, dia hanya keluar kamar dengan air mata yang mengalir tanpa henti, setelah kepergian Karen, Ningsih pun berkata.
"Suami ku! aku takut kalau Karen akan melakukan hal yang lebih mengerikan lagi." Ningsih pura-pura menangis dan Narin memeluk nya, Narin sangat membenci sikap Karen yang di anggap Narin sangat keterlaluan.
Siang itu Ningsih melihat Karen sedang duduk di sofa bersama si kembar dan Kanza kemudian Ningsih mendekati Karen lalu berkata.
"Sebaik nya kamu mengalah dan tinggal kan suami ku." ucap Ningsih, dan si kembar yang sejak awal tidak menyukai Ningsih kemudian mendorong Ningsih sehingga dia jatuh ke lantai dan Karen yang tidak tega pun bergegas mendekati Ningsih kemudian Karen segera mengulur kan tangan nya.
"Maaf kan kelakuan anak-anak ku! Ayo aku bantu kamu berdiri." saat yang sama, di tangga terdengar suara Narin memanggil Ningsih.
"Sayang! apa yang terjadi?" tanya Narin sambil berlari menuruni anak tangga dan Ningsih pun berusaha berbohong lagi ketika Narin di depan nya.
"Suami ku! Karen menyuruh anak-anak nya untuk mendorong ku." ucap Ningsih sambil menangis dalam pelukan Narin.
"Bohong!!!" sahut Karen dengan tegas.
"Diam!" bentak Narin.
Kemudian bak melihat malaikat maut, Karen pun langsung terdiam membeku mendengar Narin membentak nya, Karen pun hanya menangis melihat Narin menggendong madu nya dan dalam pelukan Narin kemudian Ningsih melihat ke arah Karen dengan tersenyum, sementara Karen tidak mampu menahan air mata nya dan dia hanya menangis tanpa suara, tapi air mata nya mengalir tanpa henti, berulang kali di bersih kan dengan tisu tetap saja air mata nya mengalir dan membasahi pipi nya lagi dan lagi.
__ADS_1
Kanza mengambil kan air putih untuk Karen dan si kembar segera memeluk Karen, karna pelukan tangan kecil anak-anak nya hati nya merasa lebih tenang dan wajah tampan anak-anak nya bisa menahan air mata nya yang selalu ingin jatuh tanpa meminta izin kepada nya.