
Setelah beberapa menit menunggu Raura pun datang dan mereka sama-sama duduk di bangku yang ada di taman, kemudian Raura bertanya.
"Kamu di Jakarta tinggal sama siapa?"
"Ibuku."
"Dimana ayah mu?"
"Sudah lama berpisah dengan Ibuku." sahut Ekre sedih dan Raura bisa melihat nya jadi dia mengubah topik pembicaraan pada hal lain tentang makanan kesukaan, tentang musik, tentang film, bahkan tentang animasi karna mereka memiliki hobi yang sama Raura merasa senang pada Ekre dan tanpa menyelidiki lebih banyak tentang Ekre, Raura pun berkata.
"Ekre! aku suka semua hal tentang kamu dan aku merasa kita bisa jadi pasangan yang cocok." ucapan Raura langsung membuat Ekre kaget dan tidak menyangka kalau Raura akan menembak nya.
"Raura! simpan nomor whatsapp ku tapi jangan hubungi aku jika bukan aku yang menghubungi kamu terlebih dahulu,karna aku bekerja sambil kuliah." ucap Ekre tapi bukan itu alasan yang sebenarnya, karna yang sebenarnya adalah ponsel nya bisa saja ada di tangan Aure bahkan sekarang juga ponsel nya di pegang Aure.
"Ini, kamu masukan nomor kamu," sambil Raura memberikan nomor nya kepada Ekre, setelah memasukan nomor nya dan ekre juga menyimpan nomor Raura, kemudian Raura bermaksud memeskol nya tapi langsung di hentikan Ekre dengan alasan.
"Ngapain di meskol, kita sekarang sedang bersama kan?" dengan senyuman nya dia mampu memupuk kepercayaan Raura kepada nya.
"Raura! aku mencintai mu."
"Kau pria yang sangat capat terus terang,"
"Bukan begitu, maksut ku...!"
"Apa?" tanya Raura sambil memandangi wajah Ekre.
"Maaf jika aku tidak bisa menyembunyikan perasaan ku," saking malu nya Ekre dia sampai menggigit bibir nya lalu menundukkan kepala nya.
"Aku suka Ekre,"
"Benar kah?" semangat Ekre datang lagi sambil memandangi wajah Raura, Ekre pun tersenyum.
"Iya," sahut Raura malu-malu, sambil membetulkan rambut nya yang menutupi wajah nya.
__ADS_1
"Bagaimana kalau aku melamar mu?"
"A..apa!" langsung terbelalak mata Raura karna ucapan Ekre membuat Raura sangat terkejut karna biar bagaimana pun juga mereka bahkan baru saja jadian.
"Aku serius."
"Ekre! memang nya tadi pagi kamu sarapan apa? apakah kamu lupa kalau kita baru saja jadian?" tanya Raura dengan heran.
"Ya.. maaf! soal nya aku tidak pernah pacaran, jadi maaf jika aku menganggap hubungan kita serius." ucap Ekre seperti sedang ngambek.
"Bukan begitu maksut ku, menurut ku kamu terlalu terburu-buru dalam membuat keputusan." ucap Raura sambil memegang bahu Ekre.
"Ya sudah! kita pacaran saja dulu," ucap Ekre serius.
"Usul yang bagus." sahut Raura.
Mereka berdua pun terkejut saat ponsel Ekre berdering dan tertulis dari Ekre yaiya lah yang memanggil nya adalah Aure.
"Kamu di mana Ekre?" tanya Aure kepada Ekre begitu panggilan di terima.
"Ok! aku kesana sekarang." sambil Aure menutup panggilan.
"Ok! aku tunggu di taman," tapi begitu di lihat Ekre panggilan sudah di tutup dan Ekre menggerutu.
"Pelit amat ngomong nya!" merasa Ekre akan ada kesibukan Raura pun berkata.
"Baik lah Ekre' kita bertemu lagi nanti karna aku ada pekerjaan." Ekre pun mengangguk kemudian Raura pun pergi dan setelah 30 menit menunggu, Aure pun datang sambil tertawa terbahak-bahak karna dia merasa pasti mereka memiliki cerita lucu yang sama.
"Ekre ceritakan bagaimana kisah nya?"
"Ayah kesal kepada ku karna aku semalam tidur dengan ayah dan ayah juga heran melihat aku memasak nasi goreng buat ayah untuk sarapan." langsung ternganga Aure mendengar cerita itu lalu dengan nada malu.
"Yaa...ampun...bukan gue bangeeet...," ucap Aure sambil menghamburkan susunan rambut nya yang sudah rapi.
__ADS_1
"Apakah Kaka tidak pernah bersikap seperti itu sebelum nya?" tanya Ekre heran.
"Ya engga lah! memang nya aku bayi?" terdengar jelas kalau Aure sedang kesal.
"Entah di titip kan dimana nanti harga diri ku saat aku bertemu ayah." tambah Aure lagi.
"Bagaimana dengan ibu? apakah Kaka juga memiliki masalah dengan ibu?" Ekre pun juga penasaran dengan kelakuan nya.
"Setahu ku tidak ada masalah hanya ada masalah tentang bangun kesiangan saja." sahut Aure sambil mengingat-ingat lagi.
"Malam ini aku akan bersama ayah karna aku harus membersihkan nama baik ku." ucap Aure sambil menyerahkan ponsel nya kepada Ekre dan setelah menyalin nomor Raura kemudian menghapus nomor dari ponsel Aure, Ekre juga menyerahkan ponsel Aure lalu Aure juga melepaskan baju nya, setelah mengganti baju mereka pun kemudian pulang ke tempat tujuan masing-masing.
Malam itu Aure berencana pergi ke bar dan Aure bertemu Narin di ruang tamu kemudian Aure berkata.
"Ayah! aku pergi." ucap Aure menyapa Narin sambil buru buru.
"Aure!" panggil Narin.
"Ya, ayah!" sahut Aure sambil menghentikan langkah nya lalu dia mendekati ayah nya, Narin memandangi wajah Aure dengan tatapan aneh karna merasa anak nya sekarang berubah-ubah seperti Bonglon.
"Apakah kamu sudah sadar seperti apa sifat mu?" tanya Narin sambil memandangi wajah Aure, karna merasa di curigai Aure pun berusaha mengendalikan diri nya dengan beralasan.
"Ayah! apakah ayah pernah jatuh cinta? entah mengapa Yah, ketika hati sedang jatuh cinta rasa nya semua hal ingin aku ubah dan rasa nya semua hal terasa berbeda." sahut Aure sambil melingkarkan tangan nya di leher Narin.
"Ooo... wow sekarang apakah anak ku sedang naksir gadis Jakarta?" tanya Narin serius tapi hanya di balas senyuman saja dari Aure sambil Aure melepaskan tangan nya yang tadi di leher Narin.
"Kan aku sudah dewasa Yah!" sahut Aure gugup.
"Tidak masalah jika kamu mau menikah, secepat nya kenal kan kepada ayah wanita yang bisa menjinakan mu itu," ucap Narin sambil berjalan pergi.
"Heeee...," sahut Aure sambil tersenyum lebar dengan mengeluarkan gigi nya karna dia merasa kebohongan nya seperti bomerang.
"Mau di cari di mana coba wanita itu? apakah ada jika aku cari di g*ogle?" hati nya berkata, kemudian malam itu Aure pergi ke ba*r dan dia mulai minum sambil otak nya memikirkan sesuatu yaitu harus menemukan wanita untuk di pertemukan dengan ayah nya, memikirkan hal itu membuat Aure mengabaikan dua wanita yang ada di samping nya.
__ADS_1
Setelah minum beberapa botol Aure pun pergi ke mobil nya dan tertidur sampai pagi datang dia pun bangun jam 6 pagi dan langsung pulang, dengan lesu Aure berjalan menutup pagar, di saat yang sama Narin juga keluar dari rumah dan di saat yang sama juga lewat lah kucing tetangga yang bernama Devi Monica Lupita sari di depan pagar kemudian Narin repleks berkata.
"Kucing lewat," sambil tangan nya menunjuk ke arah kucing itu.