
"Berani berani nya kamu memukul Kaka ku! dasar wanita pembawa sial!" sambil Lila juga menampar pipi Karen, melihat kejadian itu Hanan langsung menarik tangan Lila kemudian menampar nya sehingga Lila jatuh ke lantai, tidak terima dengan perlakuan Hanan kepada adik nya kemudian terjadi perkelahian antara Hanan dan Rico.
Isna juga kemudian menampar Karen beberapa kali tapi Karen tidak berusaha melawan atau pun menghindar, Narin pun menggunakan tubuh nya untuk melindungi Karen dari amukan ibu mertua nya, sementara beberapa orang yang lain melerai perkelahian Rico dan Hanan sehingga mereka tidak sadar bahwa bos mereka sedang mendapat kan hadiah utama dari ibu mertua nya, setelah memisah kan Rico dan Hanan kemudian mereka menangkap tangan Isna dan mereka bertiga di pegang oleh anak buah Narin, tapi Isna walau pun tangan nya tidak bisa bergerak tapi mulut nya tidak ada henti nya melontar kan kata-kata sakti untuk menyakiti hati Karen.
"Dasar anak pembawa sial! sejak aku melahirkan kan mu aku sudah sial, ayah mu di PHK dari pekerjaan nya dan aku juga kehilangan rahim ku karna melahirkan mu! kemudian setelah kamu besar ayah mu kecekakaan dan sekarang ayah mu juga mati karna mu! jika saja kamu tidak menikah dengan pria yang memiliki rumah bertingkat maka ayah mu tidak akan jatuh dari tangga dan mati! Karen aku harap kamu segera mati agar hidup ku lebih baik tanpa harus melihat wajah mu yang menjijikan itu lagi!" dan kesaktian ucapan Isna mampu melukai hati Karen walau tidak berdarah tapi rasa sakit nya melebihi di cakar harimau dan Karen tidak lagi berusaha mempertahan kan sikap nya untuk menghormati ibu nya dia pun berkata.
"Jika ibu tidak mau lagi melihat ku, ibu tinggal kan saja rumah suami ku, silahkan pintu keluar nya ada di sana." sambil tangan Karen menunjuk ke arah pintu keluar dan setelah berkata begitu Karen pun pergi menaiki anak tangga menuju ke kamar nya tanpa menoleh kebelakang lagi dan di ikuti Narin di belakang nya kemudian Hanan berkata kepada ketiga orang itu.
"Sebaik nya kemasi barang-barang kalian dan cepat tinggal kan tempat ini." Ucap Hanan.
Dengan dendam yang sangat membara trio parasit pun pergi meninggal kan rumah Narin dan mereka tidak punya pilihan selain kembali ke gubuk lama mereka, peninggalan almarhum ayah nya Rico, Rico sangat marah kepada Isna sehingga Isna kembali menjadi pembantu dan kehidupan mereka pun semakin hari semakin sulit, Rico hanya mampu menjadi pemulung saja reputasi buruk nya di grub Wijaya sangat cepat tersebar dan membuat Rico tidak di terima di perusahaan mana pun, semua lamaran nya di tolak dengan alasan yang sama dan karna tidak punya pilihan lain demi membiayai anak anak tiri nya Isna membuka rumah bordil dan mempekerjakan beberapa pelacur termasuk Lila juga, karna hanya pengalaman itulah yang di miliki Isna.
*****
Beberapa bulan kemudian Karen juga sudah kembali bersemangat meski dia penasaran di mana keberadaan mertua nya tapi Narin dan Mita berusaha agar Karen sibuk dan tidak banyak bertanya tentang mertua nya Karen juga banyak belajar memasak dari Mita dan Karen pandai memasak semua jenis masakan dan hari itu tepat nya hari Minggu jam 9 pagi pengacara ayah nya Narin datang ke rumah dan Karen sedang di taman berjemur bersama Narin sambil lari pagi mengelilingi taman.
__ADS_1
Kemudian mereka di kaget kan oleh bunyi bel di gerbang dan Narin yang membuka pagar nya terkejut karna melihat pengacara ayah nya yang datang dan Karen pun juga ada di samping nya sehingga Narin tidak bisa berbicara banyak kepada pengacara nya.
"Saya kemari karna ingin menyerahkan surat wasiat Tuan Romi Wijaya Kusuma," ucap pengacara itu dan Karen bertanya.
"Lalu sekarang di mana ayah?" sambil Karen memandang wajah Narin yang sedang melamun, kemudian Narin menarik nafas nya lalu berkata.
"Ayo kita masuk,"
Setelah masuk ke dalam rumah mereka duduk di ruang tamu dan pengacara menyerah kan beberapa kertas untuk di tanda tangani Narin dan Karen, mata Narin hanya pokus pada kertas saja seolah menghindari tatapan mata Karen karna dia tahu sekarang Karen menyimpan banyak pertanyaan kepada nya.
Tanda tangan pun selesai dan Narin yang merasa serba salah di pandangi istri nya yang membuat nya merinding Narin berkata kepada Karen.
Kemudian Karen berdiri dan berjalan menuju dapur untuk membuat teh lalu membawa nya ke ruang tamu dan dia sempat mendengar saat pengacara berkata.
"Sesuai surat wasiat almarhum Pak Romi yaitu harta beliau di bagi menjadi dua bagian yaitu untuk anak nya 50% dan menantunya 50% tapi dalam beberapa bagian ada perbedaan dan tidak berada di tempat yang sama yaitu berbeda-beda dan di bagi secara terpisah seperti rumah ini adalah atas nama ibu Karen rumah di Jakarta atas nama tuan Narin dan begitu juga aset lain nya berbeda nama dengan harga yang sama, apakah ada pertanyaan?" Narin menggelengkan kepala nya, pengacara berkata lagi.
__ADS_1
"Sekarang tugas saya sudah selesai, jika ada pertanyaan silahkan hubungi saya." Narin mengangguk lagi kemudian pengacara berkata lagi.
"Saya tutut berduka atas Kematian tuan Romi," mereka di kejut kan oleh suara terlepas gelas minuman dari tangan Karen dan Karen langsung pingsan, Narin mengangkat tubuh Karen dan meletakan nya berbaring di sofa kemudian pengacara pun berkata.
"Maaf tuan, saya permisi," Narin mengangguk kemudian dia memanggil-manggil nama Karen berulang kali tapi Karen tidak sadar juga lalu Narin menggendong tubuh Karen dan membawa nya ke kamar.
Beberapa jam berlalu, Karen belum sadar juga, sore pun tiba, Mita datang dan masuk ke kamar ayah nya Narin karna memang di sanalah dia tidur, Narin mendengar suara kunci pintu terbuka dia menyadari kedatangan Mita dan segera dia menemui Mita, Narin masuk ke kamar Mita yang saat itu sedang berbaring di ranjang karna kelelahan dan Narin langsung masuk ke begitu saja kamar Mita tanpa minta izin dan lupa menutup pintu, Narin langsung berkata.
"Mita!" Mita sangat terkejut ketika dia mendengar nama nya di panggil dari belakang kemudian Mita bertanya.
"Kaka Narin! apa yang kaka lakukan di sini?"
"Mita! Aku sedang bingung sekarang karna Karen seperti nya sudah tahu tentang kematian ayah ku," sahut Narin dengan nada sangat panik kemudian Mita bertanya.
"Tapi sampai kapan Kaka akan berusaha menyembunyi kan semua nya? Mungkin sudah saat nya Karen tahu tentang kematian paman Romi,"
__ADS_1
"Tapi apa yang aku harus katakan kepada Karen? aku takut Karen belum siap menerima kabar ini! dan aku takut Karen akan sakit lagi,"
Kemudian Narin terduduk di lantai, dia sangat sedih sambil menahan air mata nya dia berkata.