Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda

Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda
Bab 69 Bertemu Burhan.


__ADS_3

"Ayo pergi ke laut," tanya Aure dengan mata yang berkedip-kedip dan membuat Kolin heran karna dia tidak menyangka akan di ajak juga.


"Tapi aku tidak bisa berenang," sahut Kolin.


"Ayo ke laut, aku juga ikut." sahut Ningsih yang tiba-tiba datang.


"Ayoo....," Aure menarik tangan Kolin kemudian Ningsih pun buru-buru berjalan menuju mobil Narin, dia langsung duduk di depan bermaksud duduk di samping Narin tapi di luar dugaan nya ternyata mereka menggunakan mobil Aure dan yang duduk di depan adalah Kolin dengan Narin dibangku pengemudi, Ningsih menyadari ketika suara mesin mobil Aure di nyalakan kemudian dengan rasa malu bercampur kecewa dia pun pindah mobil kemudian duduk di samping Aure.


Mereka pun tiba di tempat tujuan yaitu pantai kuta, setiba nya di pinggir pantai mereka duduk santai di atas pasir sambil menikmati suara ombak, melihat Kolin yang sedang duduk santai Aure yang jahil menyiram kepala Kolin dengan pasir, kemudian Kolin mengejar nya dengan membawa pasir di tangan nya, Narin hanya memperhatikan kelakuan mereka dan merasa bahagia, Narin pun teringat Karen lagi karna melihat tawa lepas nya Kolin yang menurut Narin sangat mirip seperti Karen, siapa yang sangka itu adalah pertama kali nya Kolin tertawa dan merasa sangat bahagia bermain di pasir bersama Aure.


"Aku haus, apakah kamu juga mau di belikan minuman?" tanya Ningsih kepada Narin.


"Tidak! terima kasih." ucap Narin sekilas melihat Ningsih kemudian kembali melihat Kolin dan Aure yang terlihat sangat akrab.


Di warung saat Ningsih membeli minuman dia di dekati oleh seorang pria yang tertarik melihat perhiasan yang di kenakan Ningsih, kalung emas dan gelang emas nya membuat pria itu berusaha mendekati nya dan mulai merayu nya.


"Hallo cantik," pria itu tidak setampan Narin dan terlihat usia nya juga lebih tua dari Narin, tapi bagi Ningsih wanita yang kesepian, cukup untuk membuat nya bagaikan di atas awan dan berfikir untuk meladeni pria itu berbicara.


"Hallo juga tampan!" sahut nya.


"Datang ke sini sama siapa Ade'?"


"Sama suami Mas!"

__ADS_1


"Oooo..., udah punya suami ya?"


"Ya ngga papa Mas, suami juga sekarang sedang bersama kekasih baru nya," sahut Ningsih memberikan lampu hijau.


"Ooohh gitu ya De,"


"Mas bisa panggil saya Ningsih,"


"Nama saya Burhan."


Siapa yang sangka pria itu adalah mantan kekasih Isna yang pernah berada di penjara tapi sekarang telah bebas dan berada di Bali.


"Mas! lanjut bicara nanti malam di Wa ya Mas! ini catat nomor Wa saya," Ningsih pun menyerahkan ponsel nya kepada Burhan lalu Burhan menyalin Nomor Ningsih, kemudian Ningsih pun pergi karna tidak mau membuat Narin curiga.


Setelah puas menikmati suasana lautan kemudian mereka pun kembali ke rumah dan Ningsih masuk ke kamar nya, dia pun mulai berbicara dengan Burhan, Ningsih curhat tentang suami nya yang tidak lagi perduli kepada nya dan juga kehadiran wanita lain dalam pernikahan nya dan Ningsih bertemu pria yang tepat yaitu Burhan adalah pria yang pandai merayu karna dia banyak pengalaman dalam merayu dan membuat Ningsih merasa nyaman berbicara dengan Burhan karna Burhan juga sudah berumur banyak, jadi dia memiliki pengalaman segudang dalam merayu wanita.


Tapi hubungan Ningsih dan Burhan tidak berlangsung lama karna pagi itu saat sedang sarapan Kolin yang datang terlebih dahulu ke dapur untuk sarapan, tapi karna Kolin malas mendengar kan ocehan Ningsih dia pun menggunakan headset meski pun musik nya tidak menyala tapi Kolin terlalu pokus pada diri nya sendiri dan benar saja saat melihat wajah Kolin Ningsih pun mulai mengoceh.


"Seharusnya kamu malu numpang tinggal di rumah orang, sudah 28 hari kamu tinggal gratis, istri bukan keluarga juga bukan, tapi aku tidak heran kamu tidak tahu malu karna kamu seorang pelacur yang berasal dari tempat sampah." merasa tidak ada respon dari Kolin Ningsih pun melihat ke arah Kolin yang terlihat sedang menggoyang kan kepala nya dengan hedset bando yang menempel di telinga nya.


Ningsih pun sadar kalau dia seperti berbicara sendiri, dia pun kemudian makan roti yang tersedia di depan nya, 1 menit kemudian ponsel nya berbunyi lalu dia melihat nama pemanggil di ponsel itu dari Burhan kemudian Ningsih pun bersemangat menerima panggilan itu lalu mereka pun janjian mau bertemu di penginapan dan Kolin mendengar kan dengan sangat jelas tempat dan jam nya setelah menutup panggilan selingkuhan nya Ningsih pun kemudian meninggal kan Kolin yang seolah sedang menikmati musik di hedset nya, ketika Ningsih pergi Kolin pun membuka hedset nya dan tersenyum sinis karna merasa mampu menyingkir kan Ningsih.


Jam yang di tunggu Ningsih pun tiba, tapi dia tidak sadar kalau Kolin sedang mengawasi nya kemudian Kolin membiar kan Ningsih pergi terlebih dahulu karna Kolin juga sudah tahu nama tempat yang akan di tuju Ningsih.

__ADS_1


Kolin pun masuk ke kamar Aure dan menarik tangan Aure.


"Ayo Aure,"


"Kita mau kemana?"


"Sudah ikut saja."


Aure pun mengikuti Kolin sampai ke parkiran dan Kolin pun membuka GPS lalu menunjukan tujuan nya kepada Aure, Aure sempat berfikir kalau Kolin mau menemui seorang pria di alamat penginapan itu dan dia pun terpaksa mengantar kan Kolin.


Di perjalanan Kolin menelpon Narin.


"Apakah Tuan sibuk?"


"Aku sedang bekerja! Apakah ada hal penting yang ingin kamu katakan? Jika tentang tiket mu sudah aku siap kan dengan jadwal penerbangan besok pagi,"


"Bukan tentang tiket ku Tuan! Apakah Tuan bisa menyusul ku di sebuah penginapan?" tanya Kolin.


"Dimana?"


"Akan aku kirimkan alamat nya nanti kepada Tuan," lalu Kolin menutup panggilan.


Narin pun sempat berfikir Kolin akan pamitan kepada nya karna mungkin Rama sudah menjemput nya, ponsel nya pun berbunyi sebuah pesan dari Kolin baru saja masuk dan Narin membuka nya ternyata itu adalah alamat sebuah penginapan yang tidak jauh dari tempat Narin sekarang berada, jadi Narin pun segera mengikuti perintah Kolin untuk datang dan tanpa menunda sedetik pun Narin langsung meluncur ke tempat yang di sebut Kolin.

__ADS_1


Ketika sampai di parkiran penginapan itu, Aure dan Kolin melihat Ningsih sedang berpelukan di tempat parkir membuat Aure naik darah dan mau turun dari mobil bermaksud datang di depan Ningsih tetapi Kolin memegang tangan Aure lalu berkata.


"Kita tunggu ayah mu," ucap nya dingin tanpa ekspresi.


__ADS_2