
Ningsih dan Burhan kemudian masuk ke dalam kamar, setelah 20 menit mobil Narin juga tiba dan kedatangan Narin pun langsung di sambut oleh Aure dan juga Kolin.
"Ayah! Kami ada berita yang akan membuat ayah sangat terkejut." ucap Aure memperingatkan Narin, Narin melihat ke arah Kolin dengan ekspresi wajah yang di penuh rasa penasaran, tapi sebalik nya tidak ada respon apapun dari Kolin, kemudian Kolin berjalan di depan lalu Aure mengikuti nya,Narin yang tidak faham juga mengikuti Kolin tanpa banyak bertanya lagi dan langkah Kolin terhenti di depan sebuah kamar.
Kolin pun mengetuk pintu kamar itu dan beda dengan pintu yang lain pada umum nya, karna ketika pintu itu terbuka daun pintu nya membuka ke arah luar sehingga ketika pintu itu terbuka Narin dan Aure terpaksa menyingkir dan berada di balik pintu seolah Kolin hanya datang sendirian, ketika Narin mau keluar dari tempat persembunyian nya Aure memegangi tangan Narin sambil menggelengkan kepala, Aure memberi isyarat kepada Narin untuk diam dan mendengarkan, Narin pun menuruti perintah Aure untuk tetap bersembunyi.
Ningsih yang membuka pintu sangat terkejut ketika melihat Kolin dan Ningsih langsung bertanya kepada Kolin.
"A-aapa yang kamu lakukan di sini?"
"Melihat mu," sahut Kolin dengan nada cuek sambil mengangkat alis nya.
"Ooohh.., aku tahu, kamu berada disini pasti karna ingin menjual tubuh mu kan?" tanya Ningsih sinis.
"Siapa sayang..?" tanya Burhan yang berada di bawah selimut nya dan dia menolak menunjukan wajah nya juga menolak melihat wajah Kolin karna Burhan sudah tela*njang.
"Bukan tamu yang penting sayang," sahut Ningsih mesra.
"Ayo sayang... udah ngga tahan nih.." ucap Burhan manja.
"Sebaik nya kamu segera pergi karna aku dan kekasih ku sedang ingin bermesraan," ucap Ningsih seolah sedang pamer kepada Kolin.
__ADS_1
"Aku ragu kalau kekasih mu bisa membuat mu puas di atas ranjang, karna menurut ku tidak akan ada pria yang bisa mengalah kan keromantisan suami mu," ucap Kolin dengan nada mengejek.
"Kamu salah dalam berfikir karna Burhan sangat pandai di atas ranjang bahkan membuat aku ketagihan setiap hari." ucap Ningsih sambil tertawa senang, tapi senyuman itu langsung berubah jadi tangisan karna kesabaran Narin sudah habis dan dia keluar dari tempat persembunyian nya bersama Aure.
"Jadi seperti ini kelakuan mu!" tanya Narin dengan santai karna dia juga tidak tertarik untuk mempermasalah kan nya terutama karna Narin juga tidak cemburu.
"Aku membutuh kan pria seperti Burhan dan jika kamu masih mau bersama ku maka kamu harus bisa seperti Burhan." ucap Ningsih berharap Narin yang memohon kepada nya.
"Baik lah Ningsih binti Jatmiko, mulai detik ini kamu aku talak!" ucap Narin dengan wajah santai dan tidak terlihat seperti pria yang sedang patah hati.
"Ok, aku terima talak dari mu, dan aku juga minta bagian ku karna aku juga ingin seperti Karen yang mendapat kan bagian harta sebagai kompensasi perceraian," ucap Ningsih dengan yakin.
Setelah kepergian semua orang kemudian Burhan memberanikan diri nya keluar dari dalam selimut nya lalu bertanya.
"Jadi kamu tidak mendapat kan bagian harta apapun dari suami kamu?" tanya Burhan kecewa, tapi dia melirik yang ada di tangan dan leher Ningsih yang masih memakai banyak perhiasan emas.
"Sekarang aku harus bagaimana?" tanya Ningsih.
"Jangan khawatir sayang! karna masih ada aku." ucap Burhan menenangkan Ningsih kemudian Burhan memapah Ningsih ke ranjang dan mereka pun memulai aksi nya.
Narin pun melarikan mobil nya ke rumah nya dengan kecepatan tinggi dan Aure bahkan kewalahan mengejar nya walau pun Aure juga suka ngebut tapi kali ini dia kalah tanding dengan ayah nya.
__ADS_1
Sesampai nya di rumah, Narin pun masuk ke dalam kamar Ningsih lalu memasukan semua pakaian Ningsih ke dalam sebuah koper dan membawa nya ke ruang tamu, kemudian Narin duduk melamun di ruang tamu, tidak ada air mata atau pun ekspresi kesedihan di wajah Narin.
Aure dan Kolin pun datang, kemudian Aure mendekati Narin lalu duduk di samping Narin tapi tidak ada yang mau memulai berbicara,Kolin juga hanya duduk diam saja sambil memandangi koper yang sudah berisi baju baju Ningsih.
Setelah 1 jam saling diam dan tidak ada yang berbicara kemudian Ningsih masuk langsung membuat semua orang kaget karna teriakan nya.
"Aku juga mau bagian ku." Kolin pun mendekati Ningsih dan mendorong koper ke arah Ningsih kemudian berkata.
"Ini bagian mu." kemarahan Ningsih kepada Kolin tidak mampu dia tahan lalu Ningsih mengayunkan tangan nya berharap mampu menampar Kolin tapi sebalik nya Kolin menangkap tangan Ningsih dan menggenggam nya dengan erat sehingga membuat Ningsih berteriak kesakitan tapi Narin hanya menonton saja bersama Aure.
"Tapi ini tidak adil untuk ku! Karen mendapat kan lebih banyak bagian dan bahkan sebuah rumah mewah kamu tinggal kan untuk Karen." protes Ningsih.
"Sebaik nya kamu pergi sebelum aku menyeret mu keluar." ucap Narin dengan datar dan tanpa ekspresi.
"Aku juga sudah tidak betah hidup bersama mu, Burhan seribu kali lebih baik dari mu," sahut Ningsih sambil membawa tas nya keluar dari rumah Wijaya dan dia tidak mendapat kan harta apa pun kecuali semua perhiasan yang ada di tubuh nya.
Kemudian Ningsih pun meminta Burhan untuk menjemput nya dan dengan perasaan sedikit kecewa Burhan menjemput Ningsih lalu membawa nya ke pondok kecil nya di sewa oleh Burhan sebuah pondok di tepi sawah yang jauh dari kata layak untuk di tinggali oleh 2 orang dan puluhan tahun tinggal di rumah mewah membuat Ningsih merasa bosan berada di tempat itu meski baru beberapa menit.
"Kok kamu ngga ngomong kalau kamu semiskin ini?" tanya Ningsih kecewa, tapi Burhan masih mengincar perhiasan Ningsih jadi dia masih bersikap baik kepada Ningsih.
"Ya sayang, kita bisa menjual beberapa perhiasan mu lalu kita cari tempat yang lebih baik." Ningsih pun memberikan salah satu gelang emas nya kepada Burhan dan setelah beberapa jam Burhan menjemput Ningsih lagi untuk tinggal di rumah kontrakan yang juga masih sangat sederhana tapi demi cinta nya kepada Burhan maka Ningsih pun menerima nya dengan pura-pura bahagia.
__ADS_1