
"Bagaimana jika nanti ada orang yang mengintip ku lewat lobang dan melihat tubuh ku juga?" ucap Karen dengan polos membuat Narin tertawa lagi.
"Sayang...! ini hotel berbintang dan bukan kamar kost," sahut Narin sambil berusaha menahan tawa nya.
Kemudian Narin berjalan menuju jendela lalu membuka tirai di jendela itu, Narin memandang ke bawah dan melihat banyak mobil lewat, kesempatan itu di gunakan Karen untuk pergi ke kamar mandi, kemudian dia mandi dan memakai pakaian nya, ketika keluar kamar mandi Narin sudah menyiap kan handuk Kering dan juga sisir kemudian berkata.
"Duduk lah! aku akan bantu kamu mengurus rambut mu," Karen pun duduk di tepi ranjang, Narin membantu mengering kan rambut Karen dengan handuk, kemudian menyisir rambut nya dan setelah selesai mereka pun meninggal kan hotel lalu kembali ke istana Wijaya, setiba nya di istana Wijaya, saat memasuki istana Wijaya, Karen sedikit terkejut karna dia melihat nyonya montok dan ibu Sari yang juga datang bersama teman-teman Karen juga.
Ketika Karen melihat tangga rumah Wijaya, Karen tiba-tiba pingsan, lalu Narin menggendong nya sampai di kamar, kemudian Mita menceritakan kronologi kematian ayah nya Karen di tangga itu sehingga menjadi alasan bagi Karen trauma melihat tangga itu.
Setelah Narin meletakan Karen di ranjang, kemudian Narin turun untuk menemui tamu nya Karen dan berkata kepada mereka.
"Maaf! Karen pingsan dan dia tidak bisa bertemu siapa pun karna seperti nya dia masih trauma dengan rumah ini,"
"Kaka Narin! aku sudah memberikan uang tunai kepada mereka berjumlah 2 milyar dan tadi aku menggunakan uang ku, tapi jika Kaka Narin atau Karen mau restoran itu maka silahkan bayar kepada ku saja," ucap Mita,kemudian Narin memandangi ibu Sari dan berkata.
"Aku tidak faham tentang hal ini, jadi nanti kalian tanya Karen saja," Mita pun selesai mengurus pembayaran dan Narin berkata.
"Begini saja! sebelum Karen menemui Ibu' maka Ibu urus restoran itu seperti milik ibu sendiri dan jika nanti Karen menginginkan nya dia akan datang ke tempat ibu, tapi sementara Karen belum membuat keputusan maka ibu masih pemilik nya." ucap Narin.
__ADS_1
"Baik lah kalau memang begitu keputusan nya, jadi inti nya adalah ibu yang bertanggung jawab dan bagaimana dengan sistem penghasilan nya, apakah bagi hasil atau...?" tanya ibu Sari ragu dengan pertanyaan nya.
"Untuk sementara tidak ada sistem bagi hasil dan ibu yang mengurus semua nya anggap saja seperti milik ibu sendiri dan aku juga belum tahu apa yang akan Karen lakukan dengan restoran itu." ucap Narin .
"Baik lah kalau begitu restoran akan berjalan seperti biasa dan tidak ada yang akan berubah sampai Karen yang membuat keputusan," sahut ibu Sari dan Narin mengangguk.
"Baik lah Tuan Narin dan Nyonya Mita! kami permisi dulu dan sampai kan salam kami kepada Karen, kalau ada waktu silahkan berkunjung ke restoran kami karna kami menyediakan makanan yang enak di restoran kami yaitu resep dari Karen." ucap Sari dengan bangga.
"Sebenar nya resep restoran kami juga sama seperti restoran ibu dan kalau ibu mau lebih ramai dan lebih terkenal maka pasang saja nama restoran itu dengan nama restoran grub Wijaya dan bilang saja restoran ibu adalah cabang restoran Karen Wijaya," ucap Narin.
"Waah ide bagus tu' karna resep masakan nya sama dan rasa masakan nya juga pasti sama, jadi tidak ada salah nya nama restoran nya juga diberi nama yang sama." sahut Sari bersemangat.
Suatu hari anak buah Narin yang bernama Pirman mengundang mereka ke acara ulang tahun pertama anak mereka yang bernama Marsa dan Narin datang bersama Karen, ketika Karen mendekati Marsa, Karen memandangi wajah imut Marsa tanpa berkedip dan Marsa pun menangis mau di gendong oleh Karen, kemudian Karen menggendong nya dan selain Marsa ada beberapa bayi lain lagi, ada bayi bernama baby Arista yang berusia 3 bulan dan juga baby Mekael yang berusia 5 bulan, Karen menggendong mereka semua dan naluri ke ibuan nya pun bangkit, ketika dia menggendong Baby Arista Karen berkata kepada Narin.
"Tuan muda! aku juga mau punya bayi!" ucap Karen dengan suara manja kepada Narin.
"Apakah kamu yakin?" tanya Narin dengan ragu karna dia tidak yakin Karen siap.
Karen pun mengangguk dan menyerah kan baby Arista kepada ibu nya kemudian Karen memeluk Narin dengan pelukan hangat, penuh cinta kepada Narin dan Narin juga memeluk nya sehingga membuat semua yang melihat menjadi iri dengan melihat cinta mereka yang sangat besar dan tulus.
__ADS_1
Setelah pesta berakhir Narin dan Karen segera pulang kemudian masuk ke dalam Kamar, Karen mandi setelah itu Karen berbaring di ranjang, lalu Narin juga mandi dan setelah selesai mandi Narin berjalan mendekati Karen, karna Karen polos dia pun bertanya kepada Narin.
"Apakah tuan muda tahu cara nya membuat bayi?" Narin mengambil ponsel nya dan menelpon Hanan untuk bertanya.
"Hanan! kirim kan aku 1 Vidio yang eemmm.... gimana ya mengatakan nya?" ucap Narin dengan malu tapi Hanan faham dan dia berkata.
"Ok!"
Kemudian Narin bertanya.
"Apa nya yang Ok?" belum selesai Narin bicara panggilan sudah di tutup Hanan, kemudian Narin memandangi Karen dan Karen kebingungan lalu Narin berkata.
"Karen! apa kau tahu, aku seolah menggadaikan harga diri ku kepada Hanan demi sebuah Vidio!" ucap Narin sambil mengusap leher nya karna dia merinding membayangkan reaksi Hanan besok.
Tidak lama kemudian 1 vidio hot pun di kirim kan Hanan kepada Narin dan Narin mendekati Karen, Narin duduk di samping Karen lalu Narin membuka vidio itu dan di tunjukan kepada Karen, Karen tegang saat melihat nya, Narin memegang ponsel nya dengan tangan gemetar sehingga beberapa kali dia menjatuh kan ponsel nya,
Vidio belum berakhir Karen pun mulai mempraktekan cara nya, Narin pun juga melakukan hal yang sama sehingga malam itu adalah malam pertama mereka, karna kelelahan kemudian Karen tertidur dalam pelukan Narin saat bangun pagi Karen tidak lagi berteriak karna dia sangat menyukai Narin dan Karen suka hal romantis semalam sehingga Karen dan Narin terikat dalam sebuah cinta sejati.
Tidak ada lagi pertengkaran dan juga rasa kesal dalam hubungan Karen dan Narin yang ada hanya hal romantis saja yang mereka lalui, sampai suatu pagi Mita dan Hanan sudah di meja makan untuk sarapan, datang lah Karen dan Narin juga, saat makan Hanan memulai pembicaraan.
__ADS_1