
"Tadi pagi aku sudah minta maaf kepada ibu dan memberikan hadiah juga,"
"Bagaimana?"
"Aku sudah membelikan ibu tas mahal dan aku berikan kepada ibu lalu meminta maaf."
"Seperti nya Kaka punya banyak uang sehingga Kaka bisa membelikan ibu sebuah tas mahal,"
"Justru itu lah masalah nya, karna uang ku tidak cukup kemudian aku memecahkan celengan yang ada di dalam kamar mu yang berbentuk ayam jago."
"Kenapa Kaka membunuh ayam kesayangan ku...?" tanya Ekre dengan ekspresi wajah sedih.
"Justru karna melihat hal itu ibu pun jadi baper."
Mereka berdua pun di kejut kan oleh suara sepatu Narin yang mulai mendekat, bergegas Aure memberikan kunci motor kepada Ekre dan juga menukar ponsel mereka, kemudian Ekre pun pergi, lalu Aure masuk ke kamar nya.
*****
Di rumah Karen, ketika Ekre datang Ekre pun masuk ke dapur karna dia merasa lapar kemudian Karen yang melihat kedatangan Ekre langsung berkata.
"Duduk lah Na' ibu masih memasak dan sebentar lagi selesai lalu setelah itu kita makan." Ekre pun duduk sambil memperhatikan ibu nya kemudian setelah semua di siap kan di meja mereka pun makan bersama.
"Ibu tidak bekerja?" tanya Ekre dengan gugup karna dia masih belum yakin dengan yang dia lihat setelah kejadian semalam.
"Ibu sengaja bangun pagi-pagi dan ambil cuti hari ini karna ibu ingin makan bersama mu." sahut Karen dengan senyuman manis untuk Ekre.
"Ibu, maaf!"
"Sudah, jangan di fikir kan, tapi ibu penasaran kamu dari mana sepagi ini? tadi ibu ke kamar mu dan ibu tidak menemukan mu di kamar." Ekre pun gugup tapi Karen tidak memaksa Ekre menjawab pertanyaan nya.
"Habis kan makan mu," ucap Karen lagi.
Ekre pun makan dan setelah selesai makan kemudian Ekre masuk ke kamar nya lalu tertidur, Ekre terbangun jam 2 siang lalu Ekre menghubungi Raura dan mereka janjian ketemuan di taman.
*****
__ADS_1
Ekre duduk di bangku taman menunggu Raura, setelah 10 menit Raura datang mereka pun berbicara dengan bahagia tapi suasana berubah setelah kakak laki-laki Raura datang di depan mereka dengan 3 orang teman nya untuk melarang hubungan Ekre dan Raura bahkan tanpa alasan yang jelas mereka memukuli Ekre sehingga membuat Ekre terbaring di atas rumput, setelah Ekre tidak bergerak kemudian Kaka nya Raura langsung menarik Raura untuk ikut dengan nya meski Raura berusaha melawan tapi dia tidak berdaya dan terpaksa menurut.
Dengan sisa tenaga nya, Ekre pun langsung menghubungi Aure untuk meminta Aure datang.
"Kaka' datang lah ke taman." setelah berkata begitu panggilan pun terputus sehingga Aure sangat khawatir dan melaju kan mobil nya dengan kencang menuju lokasi Ekre, sampai nya di taman Aure terkejut melihat adik nya duduk di bangku dengan beberapa lebam di wajah nya.
"Apa yang terjadi dengan wajah mu?"
"Tadi Kaka nya kekasih ku mengeroyok ku tanpa alasan."
"Tapi mengapa? apakah kamu sudah melakukan hal buruk kepada adik nya?"
"Seingat ku tidak pernah,"
"Lalu mengapa dia menghajar mu?"
"Entah lah."
"Beritahu Kaka siapa saja mereka agar Kaka balas perbuatan mereka."
"Ngga perlu Ka' nanti yang ada Kaka juga ikutan bonyok."
"Eee...."
"Hanya ee..?"
"Aku sedang bingung Ka' apa yang harus aku katakan kepada ibu jika ibu melihat wajah ku seperti ini"
"Kalau begitu jangan pulang ke rumah ibu, tapi pulanglah ke rumah ayah."
"Lalu apa yang akan di fikir kan ayah?"
"Entah lah! tapi aku fikir lebih baik perduli pada yang di fikirkan ibu dan mengabaikan tentang apa yang akan di fikir kan ayah." sahut Aure.
Ekre pun pulang ke rumah ayah nya, ketika dia masuk ke rumah ternyata Narin sudah duduk di sofa dan dia sedang mengerjakan sisa pekerjaan nya melalui laptop, melihat wajah anak nya yang penuh lebam dia pun dengan kaget bertanya.
__ADS_1
"Aure! apa yang terjadi dengan wajah mu?"
"Ini..." Ekre pun tidak faham cara menjelaskan kepada Narin kemudian Narin menyuruh Ekre duduk di sofa, lalu Narin bergegas pergi ke dapur untuk mengambil kain dan es batu untuk mengompres memar di wajah anak nya.
"Ayah penasaran, memang berapa orang yang mengeroyok mu? setahu ayah kamu pandai berkelahi," tanya nya heran.
"Mungkin karna lagi apes Yah!" sahut Ekre sambil merasakan dingin nya kain yang di usap ke wajah nya dan setelah merasa lebih baik Ekre pun masuk ke kamar nya.
*****
Di perjalanan Aure menuju ke rumah ibu nya karna dia di liputi rasa ingin balas dendam kepada orang yang sudah menghajar adik nya maka Aure pun merasa tidak tenang sehingga tanpa sadar dia melanggar lampu merah dan menabrak seorang wanita, beruntung bukan tabrakan keras karna motor yang dia kendarai juga sedang pelan.
Aure pun meninggal kan motor nya yang sedang berbaring di aspal dan langsung menolong wanita tadi yang sudah di tabrak nya.
"Nona maaf." ucap nya sambil membantu wanita itu berdiri.
"Tidak apa-apa, aku baik-baik saja dan tidak ada yang sakit, aku terjatuh karna kaget saja." sahut wanita muda itu yang membuat Aure melamun karna mengagumi kecantikan nya.
"Hy! apa kah kamu sedang memikirkan sesuatu?" tanya wanita itu lagi karna dia merasa penasaran juga di perhatikan oleh Aure.
"Kenapa kamu sangat cantik?" Aure bergumam.
"Apa?"
"Maksut ku, siapa nama mu?" tanya Aure dengan malu karna dia sadar bahwa terlalu cepat memuji wanita itu padahal mereka bahkan belum berkenalan.
"Nama ku Karina," sahut nya.
"Aku Aure Wijaya Kusuma." ucap Aure dan memang begitulah cara Aure menarik hati wanita yaitu dengan cara menyebut nama Kakek buyut nya di belakang nama nya dan tentu saja tidak akan ada wanita yang bisa menolak pesona pria tampan dan kaya seperti Aure, kecuali wanita itu buta dan tuli.
"Aku merasa sangat terhormat bisa bertemu langsung dengan pangeran Wijaya?" ucap nya berusaha menggoda Aure.
"Justru aku yang merasa sangat bahagia karna sudah berkesempatan melihat kecantikan mu di situasi yang tidak terduga ini." ucap Aure dengan tersenyum manis.
"Bisa saja," sahut Karina sambil tersipu.
__ADS_1
"Jika di izin kan apakah boleh aku mengajak mu untuk makan bersama ku?"
"Tentu akan aku terima tawaran mu dengan senang hati," sahut nya, kemudian mereka berdua pun naik motor ke sebuah restoran, sambil makan mereka saling bertukar cerita lalu sepakat untuk pergi ke hotel, dan setelah menyelesaikan ritual kemudian Aure mengantar kan Karina ke rumah nya lalu sebelum berpisah mereka pun bertukar nomor ponsel.