
"Selama ini ibu tidak pernah meminta apa pun dari mu, tapi ini pertama kali nya ibu meminta yaitu jangan sebut nama ayah mu di depan ibu." ucap Karen dengan tegas.
"Tapi ini tidak adil untuk Kaka' Bu! kenapa ibu juga tidak memberikan kesempatan kepada Ka' Aure, agar bisa bersama kita" Ekre pun berusaha membela Aure.
"Sejak Aure meninggalkan kita, maka Aure adalah bagian dari ayah mu, yang arti nya lebih baik jangan datang ke hadapan ku." sahut Karen dengan emosi.
"Bu' tolong fahami perasaan kami dan berikan kami ke adilan." pinta Aure sambil berdiri lalu mendekati ibu nya.
"Ini adalah peringatan dari ibu, yaitu jangan pernah lagi menyebut tentang Ayah mu dan juga Kaka mu di hadapan Ibu, atau Ibu akan mengusir mu dan menganggap kamu mati, seperti ibu yang juga sudah menganggap Aure sudah mati." Karen mengucap kan itu sambil mengacungkan telunjuk nya ke wajah Ekre.
"Karna ibu terlalu egoes hanya memikir kan tentang perasaan ibu sendiri saja dan tidak pernah berusaha bertanya apa yang aku ingin kan dan juga perasaan ku." teriak Ekre.
Mendadak 5 jari Karen dia hadiah kan di pipi kiri Ekre dan tamparan itu berhasil membungkam mulut Ekre, setelah itu Karen keluar dari kamar Ekre.
Ekre mengambil ponsel dari balik selimut nya dan melihat Aure yang terlihat sedang memegang dada nya karna hati nya terasa sakit ketika mendengar perkataan ibu nya, tapi Aure berusaha menguasai diri nya dan menghibur adik nya dengan berkata.
"Tenang lah sayang, kita masih saling memiliki, aku memiliki mu dan kamu memiliki ku, percayalah suatu hari nanti ayah dan ibu akan bersatu lagi, itulah janji ku kepada mu." ucap Aure, agar adik nya bisa tenang, kemudian Aure menutup panggilan dan dia juga menangis, baru kali ini rasa sakit datang di hati nya sehingga dia merasa hal ini sangat menyiksa batin nya.
*****
Keesokan pagi nya Ekre yang kesulitan tidur di malam hari, kemudian jam 8 pagi, Ekre sudah menghubungi Aure lalu bertanya.
"Kaka' apakah Kaka sibuk?"
"Aku ini pengangguran, jadi menurut mu apa kesibukan ku?" sahut Aure kesal karna dia bahkan baru saja terlelap dan semalaman juga kesulitan tidur.
"Semalam aku tidak bisa tidur ka' dan hari ini aku membutuh kan mu."
"Baik lah, aku akan tiba di taman setelah 2 jam," sahut Aure karna dia faham bagaimana perasaan adik nya ,mereka pun bertemu di taman dan begitu Aure berdiri di depan nya Ekre langsung memeluk nya kemudian dengan berpura pura tegar Aure pun berkata.
"Sudah jangan terlalu di fikirkan, ada aku di sini." kemudian Ekre melepaskan pelukan nya dan bertanya.
__ADS_1
"Kaka' bagaimana kalau kita tanya pendapat ayah?"
"Jangan!"
"Kalau Kaka' takut biar aku saja yang akan bertanya."
"Jangan lakukan itu, karna nanti jika kamu di marahi ujung ujung nya kamu sedih lagi dan kecewa lagi."
"Kan ada Kaka yang selalu bersama ku, pelukan Kaka mampu memberikan ku ketenangan,"
"Gombal, tapi tetap saja aku tidak setuju."
"Ayolah Ka!" sambil Ekre memohon kepada Aure dan Aure pun terpaksa menuruti nya lalu mereka bertukar tempat lagi.
Ketika sampai di rumah Aure langsung memecahkan celengan Ekre dan suara brisik itu membuat Karen datang ke kamar nya kemudian setelah mengumpul kan semua uang, Aure pun pergi tanpa menyapa Karen yang sedang kebingungan karna anak nya memecahkan celengan ayam jago kesayangan nya, lalu Aure membelikan tas mahal untuk Karen sebagai permintaan maaf, sehingga membuat Karen merasa terharu lalu Karen berkata.
"Bertahun tahun kamu memberikan ayam mu makan dan sekarang kamu memutuskan untuk menggunakan uang nya untuk membelikan ibu tas." sambil Karen memeluk anak nya.
"Ya ibu sudah memaafkan mu," Sambil Karen memeluk anak nya.
*****
Malam itu Ekre gelisah menunggu kepulangan Narin dan duduk di ruang tamu sambil menonton televisi, tapi karna jam 10 malam, ayah nya belum datang maka Ekre pun ketiduran di sofa dan saat Narin datang kemudian Narin pun mematikan televisi sambil berusaha membangun kan anak nya.
"Aure, kalau mau tidur pindah lah ke kamar mu."
"Ya ayah." sahut Ekre kemudian Narin pun pergi ke kamar nya tapi Ekre masih tetap di sofa lalu dia ketiduran lagi.
Pagi datang dan Ekre terbangun karna dia terjatuh dari sofa, setelah lihat kiri dan kanan kemudian Ekre bergumam.
"Apa! sudah pagi? berarti aku ketiduran di sofa Doong."
__ADS_1
"Seperti nya memang begitu." sahut Narin yang tiba-tiba sudah berdiri di belakang Ekre,karna Narin baru saja dari luar untuk berolah raga.
"Aku bermimpi bertemu ibu dan Ekre." ucap Ekre sambil melihat ke arah Narin dan Ekre bisa melihat ekspresi wajah Narin langsung berubah karna dia tidak suka ke dua nama itu di sebut di depan nya.
"Bukan kah kita sudah sepakat untuk tidak lagi menyebut ke dua nama itu?" ucap Narin dengan sedikit meninggi kan suara nya.
"Tapi Ayah...,"
"Mereka berdua tidak ada hubungan apa pun lagi dengan kita dan selama ini kita bisa hidup tanpa mereka, jadi belajar lah melupakan mereka untuk selama nya!" mendengar itu Ekre pun terdiam dan dia langsung terduduk di lantai karna dia tidak mau membuat ayah nya bertambah marah kamudian memberikan nya hadiah juga seperti yang sudah diberikan Karen semalam di pipi nya, karna dia sudah tahu tentang jawaban ayah nya yang menurut nya sudah cukup jelas arti nya.
Setelah Narin pergi ke dapur, kemudian datang Aure yang langsung memeluk Ekre, seperti anak kecil Ekre pun menangis dalam pelukan Aure sambil berkata.
"Ternyata ke dua orang tua kita tidak ada yang perduli kepada kita, mereka terlalu sibuk dengan perasaan mereka sendiri tanpa pernah berusaha mencari tahu bagaimana perasaan kita."
"Tenang lah sayang, semua akan baik baik saja, aku janji, mereka akan bersama lagi dan kamu akan mendapat kan keluarga mu kembali, tolong percaya lah kepada ku." ucap Aure sambil memeluk Ekre.
"Tapi apa salah ku sehingga ayah juga tidak merindukan ku?"
"Aku yakin jauh di dalam hati nya, ayah juga sangat merindukan mu," bujuk Aure.
"Bagaimana Kaka yakin dan berfikir begitu?"
"Karna dia adalah ayah kita dan aku sangat mengenal nya sehingga aku percaya bahwa ayah sangat menyayangi kamu dan juga ibu." ucap nya sambil melepas kan pelukan nya, kemudian Aure pun menghapus air mata adik nya, dia tahu penderitaan adik nya yang mengalami penolakan dari ayah dan ibu nya.
"Apakah Kaka berkata benar?" Aure mengangguk.
"Sekarang kamu pergilah ke rumah ibu dan Kaka mu yang tampan ini yang akan mengurus ayah nanti."
"Tapi aku juga masih takut bertemu ibu karna pasti sekarang ibu masih marah kepada ku,"
"Tentang ibu kamu jangan khawatir karna Kaka mu yang tampan ini sudah mengurus ibu."
__ADS_1
"Apa yang Kaka lakukan pada ibu?"