
Karen pun mengambil beberapa selimut dari kamar nya dan juga kasur kecil, kemudian dia membuat tempat tidur pribadi di samping ranjang mertua nya dan dia merawat mertua nya dengan baik, selalu berusaha membuat mertua nya tertawa dengan menceritakan kisah masa lalu nya dengan Narin sehingga mertua nya merasa sangat terhibur bersama Karen dan Karen selalu siaga bahkan siang dan malam dia berada di kamar mertua nya dan tidak tidur di kamar bersama Narin.
1 minggu kemudian Karen sakit demam dan pagi itu seperti biasa Narin sebelum berangkat kerja dia selalu datang ke kamar ayah nya, tapi pagi itu Karen belum bangun, tidak seperti biasa nya karen sudah bangun dan Narin melihat tubuh Karen berkeringat, kemudian Narin menyentuh dahi Karen dan berkata.
"Karen demam! aku akan membawa nya ke kamar ku,"
Ayah nya mengangguk lalu Narin menggendong Karen menuju kamar nya dan membaring kan nya di ranjang, tapi Karen tidak sadar karna dia masih pingsan, karna khawatir Narin pun menelpon dokter dan dokter pun datang kemudian memeriksa Karen.
"Sebaik nya bawa Karen ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut, karna seperti nya Karen mengalami demam berdarah," ucap dokter.
"Kalau begitu dokter kirim kan ambulans ke sini," sahut Narin, dokter pun mengangguk lalu pergi.
Narin pun ke dapur dan bertemu Isna di dapur kemudian Narin membuat kan teh untuk Karen dan ayah nya, Isna penasaran jadi dia bertanya.
"Kamu membuat teh untuk siapa?"
"Untuk Karen dan ayah, Karen sakit dan aku pikir teh baik untuk nya," Isna pun mendapat kan akal lalu dia berkata.
"Kalau begitu biar aku saja yang merawat Karen dan ayah mu,"
"Bibi merawat pak Romi saja dan biar aku yang merawat Karen," sahut Mita yang tiba-tiba datang di belakang Isna dan langsung bicara.
__ADS_1
"Usul yang bagus, nanti kamu ikut di ambulans karna sebentar lagi ambulans akan datang," ucap Narin kepada Mita, kemudian Isna mengangguk.
Bagi Isna siapa saja yang bersama nya tidak masalah karna tujuan nya sebenar nya memang ingin membunuh kedua nya, di luar ambulans pun datang dan Rico bergegas ke dapur lalu dia bertanya kepada ibu nya..
"Bu! ada ambulans di luar! apakah pak Romi baik-baik saja?" nada bicara nya seolah panik,kemudian Narin dan Mita segera berlari keluar, setelah kepergian Narin dan Mita, Isna berkata Kepada Rico.
"Rico! ibu ingin kamu mencari obat untuk Romi agar kondisi nya bertambah parah, ibu ingin segera menyingkir kan nya." Rico mengangguk dan mengacung kan jempol nya sambil berkata.
"Beres." kemudian dia pergi.
Karen pergi ke rumah sakit naik ambulans bersama Mita, sementara Narin pergi ke kamar ayah nya.
"Biar ibu saja yang merawat ayah mu, jadi kamu pergi saja bekerja dengan tenang, percayakan ayah mu kepada ibu," ucap Isna dengan wajah sangat yakin, kemudian Narin berkata kepada ayah nya.
"Ayah! apakah ayah tidak masalah jika aku pergi?" ayah nya pun mengangguk, kemudian Narin pun pergi ke rumah sakit dan di rumah sakit Karen masih pingsan, Narin sangat sedih dan juga khawatir, tapi Mita bahkan masih malu dengan kejadian waktu itu sehingga Mita jangan kan bicara untuk menghibur nya bahkan dia tidak berani menatap wajah Narin di saat seperti ini.
*****
Siang itu Rico datang ke dapur dan memberikan obat kepada ibu nya sambil berkata.
"Bu! obat ini bisa membunuh Romi secara perlahan," sambil Rico memberi kan obat itu kepada Isna dan Isna tersenyum bahagia melihat obat itu, dia bergegas memberi kan makan kepada Romi lalu memberi kan Romi obat ajaib nya, tentu saja bahkan Romi tidak menyadari apa pun, kemudian Romi bertanya kepada Isna.
__ADS_1
"Bagaimana keadaan Karen?" dan ketika Isna mau bicara dari belakang datang Narin yang berkata.
"Ayah! sekarang Karen sedang di rawat di rumah sakit karna demam berdarah jadi ibu yang akan merawat ayah," Narin menceritakan kepada ayah nya dengan sangat hati-hati tapi ketika mendengar berita itu ayah nya langsung pingsan, Narin berusaha memanggil ayah nya tapi tidak ada respon dari ayah nya dan di waktu yang sama Narin juga menerima panggilan dari Mita yang mengatakan Karen sudah siuman, Narin tidak sadar bahwa bukan karna berita tentang Karen sakit, yang membuat ayah nya pingsan tapi karna obat ajaib Isna yang sudah bekerja, tanpa curiga Narin berfikir ayah nya akan baik-baik saja karna bagi Narin saat ini melihat keadaan Karen lebih penting sehingga dia tidak kepikiran mau memanggil dokter ke rumah.
Ketika Narin masuk ke ruangan tempat Karen di rawat, ketika melihat wajah Narin, Karen langsung bertanya kepada Narin.
"Bagaimana keadaan ayah?"
"Jangan fikir kan tentang ayah, karna ada ibu yang merawat ayah, jadi kamu fikir kan saja kesembuhan mu sendiri," sahut Narin sambil dia menahan diri nya agar tidak menunjukan kesedihan nya di depan Karen.
"Sebaik nya tuan muda pulang saja untuk menemani ayah, karna kadang ayah perlu orang di samping nya, karna kadang ayah kehausan dimalam hari, kasihan ayah," ucap Karen, mendengar itu Narin melirik ke arah Mita sambil berkata.
"Mita! kamu pulang saja dan ganti kan ibu menjaga ayah di malam hari," Mita pun mengangguk, setelah malam hari Romi pun sadar dari pingsan nya dan dia tidak bisa bicara seluruh tubuh nya tidak bisa bergerak karna dia mengalami stroke.
Isna pun malam itu masuk ke kamar Romi dengan tujuan berusaha memastikan keadaan Romi, disaat yang sama datang lah Rico kemudian Rico bertanya.
"Bagaimana obat nya Bu!"
"Seperti nya obat itu sangat ampuh dan bekerja dengan baik, lihat lah pria ini sekarang tidak berdaya, aku yakin dia akan segera mati dan kita akan segera menguasai semua harta keluarga Wijaya, setelah Romi mati target selanjut nya adalah Karen, anak pembawa sial itu juga harus mati!" ucap Isna dengan lantang, sambil Isna menarik tubuh Romi dan menjatuhkan nya dari ranjang, Romi memang tidak bisa bergerak dia hanya bisa menangis saja saat mendengar Karen dalam bahaya juga, kemudian Isna dan Rico menaikan tubuh Romi kembali ke ranjang dan Isna kembali memberikan obat ajaib nya untuk Romi, meski Romi berusaha menolak nya tapi Isna menutup hidung Romi sehingga Romi terpaksa menelan obat ajaib Isna dan Romi pingsan lagi, setelah selesai memberikan obat Isna menyelimuti tubuh Romi dan di saat yang sama Mita datang dari belakang langsung berkata.
"Bibi istirahat saja dan malam ini biar aku saja yang merawat Paman di sini," ucap Mita tiba-tiba, yang membuat Isna dan Rico sangat terkejut, tapi isna berusaha mengendalikan kegugupan nya dengan berkata.
__ADS_1