
"Aku baik baik saja ayah" sahut Ekre sambil memeluk Narin lagi kemudian Narin mulai kesal dengan keanehan sikap anak nya lalu berkata.
"Aure! kamu mulai membuat ku takut." ucap Narin sambil memegang leher nya yang merasa mulai merinding dengan keanehan yang terjadi pada anak nya.
Kemudian Narin pun pergi menuju kamar nya dan di ikuti oleh Ekre, tanpa Narin sadari ketika dia membuka baju nya untuk mandi Narin terperanjat melihat penampakan anak nya ada di samping nya dan mulai gugup dengan tingkah aneh anak nya.
"A-apa yang kamu lakukan di kamar ku?" tanya Narin dengan sangat heran kemudian Ekre berbaring di ranjang ayah nya sambil berkata.
"Apakah boleh malam ini aku tidur dengan ayah?" sontak pertanyaan itu membuat Narin kaget dan berfikir anak nya sudah benar-benar dalam masalah mental yang sangat akut.
"Ayo kita pergi ke rumah sakit untuk memeriksa otak mu," ucap Narin serius sambil menarik tangan Ekre.
"Aku baik baik saja ayah!" sahut Ekre.
"Apakah kamu yakin?" sambil Narin melepaskan pegangan tangan nya dari tangan anak nya.
Kemudian Ekre pun berbaring di ranjang ayah nya sambil memejamkan mata nya kemudian Narin berusaha mengabaikan nya lalu mandi.
Setelah selesai mandi Narin melihat anak nya sudah tidur kemudian Narin berbaring di samping anak nya sambil dia juga memejamkan matanya lalu tertidur.
Tanpa di sadari pagi pun datang, Narin terbangun ketika tangan anak nya mendarat di atas dada nya membuat Narin merasa jijik karna biar bagaimana pun juga Narin dan anak nya tidak pernah tidur sekamar.
Narin repleks melempar kan tangan Ekre sehingga membuat Ekre terbangun tapi ketika melihat wajah ayah nya dia langsung memeluk ayah nya sambil berkata.
"Syukurlah ini semua bukan mimpi,"
"Aure hentikan! apakah kamu kehabisan perempuan yang bisa kamu ajak berkencan?" sambil Narin berusaha melepaskan pelukan Ekre, tanpa di duga Ekre mencium pipi ayah nya sehingga membuat Narin tambah merinding.
"Aure, oh ya Allah! astaga! apa yang kamu fikirkan saat ini?" tanya Narin sambil melompat karna merasa anak nya mulai tidak normal kemudian Narin mengambil handuk nya lalu berjalan menuju kamar mandi dan berpesan.
__ADS_1
"Aku mau mandi! jadi jangan mengintip!"
"Apakah boleh aku mandi dengan ayah?" tanya Ekre dengan polos tentu saja Narin tidak akan setuju tapi malah langsung membanting pintu kamar mandi, Ekre pun tersenyum puas karna dia sudah bertemu ayah nya, yang lebih menyenangkan adalah ayah nya tidak sadar kalau dia bukan Aure.
Kemudian Ekre pun mencari kamar Aure dan dia menemukan sebuah kamar yang pintu nya terlihat terbuka Ekre pun kemudian masuk kekamar itu, dia melihat banyak foto Aure di meja dan juga di dinding kamar nya tapi kamar Aure sungguh sangat berantakan seperti pernah terjadi tsunami di kamar itu, maklum karna belum ada pembantu di rumah itu.
****
Di tempat Karen, pagi itu Aure belum bangun jam 7 pagi dan membuat Karen harus datang ke kamar nya karna tidak biasa nya Ekre bangun kesiangan ketika masuk ke kamar Ekre, Karen pun langsung menarik selimut Aure sehingga membuat Aure terkejut karna tentu saja Aure tidak pernah tahu kebiasaan Ekre jadi dia santai saja bangun nya bahkan berencana bangun siang.
"Ekre, kenapa kamu hari ini bangun kesiangan? cepat bangun dan ibu menunggu mu di taman." ucap Karen sambil melipat selimut Aure lalu membuka jendela kaca di kamar anak nya.
"Ke taman? ngapain Bu!" tanya Aure heran.
"Kok?" Karen balik bertanya dengan heran karna anak nya bertanya seperti orang asing.
"Oohh... iya taman Ok, ibu pergi saja duluan nanti aku susul," sahut Aure gugup, kemudian Karen pun pergi lalu Aure bergumam.
"Ekre! tadi ibu membangun kan aku dan bilang menunggu ku di taman, ngapain pergi ke taman sepagi ini?"
"Ooohh... itu untuk berolah raga Ka' kami biasa nya jam segini udah ada di taman untuk lari pagi," sahut Ekre.
"Apa? sepagi ini?"
"Iya! jangan bilang sekarang Kaka masih ada di kamar." tanya Ekre curiga.
"Emang masih di kamar!" sahut Aure cuek.
"Ya ampun Kaka' segera pergi ke taman sebelum ibu berteriak melalui jendela, kalau bangun kesiangan ibu pasti membuka jendela agar teriakan nya bisa di dengar," ucap Ekre panik karna dia tidak biasa membantah ibu nya.
__ADS_1
"Ekre..." teriak Karen dari bawah jendela.
"Kau benar ibu sudah berteriak." Aure memberi tahu kepada Ekre.
"Bilang sama ibu untuk menunggu sebentar," perintah Ekre.
"Sebentar Bu!" teriak Aure kepada Karen.
"Cepat Kaka!" perintah Ekre.
"Iya-iya! bawel! ibu dan anak sama bawel nya!" Aure menggerutu karna dia merasa sangat tersiksa jika harus bangun sepagi ini mengingat dia biasa bangun jam 10 siang bahkan jam 12 siang, setelah mencuci muka nya kemudian Aure pergi ke taman untuk menyusul Karen.
Di tempat Narin pagi itu setelah mandi Ekre pergi ke dapur untuk memasak nasi goreng untuk dia dan ayah nya karna di rumah mereka memang belum ada pembantu, juga karna Ekre memang suka memasak dan Narin sangat terkejut ketika melihat penampakan anak nya di dapur dengan heran Narin memanggil.
"Aure!"
"Selamat pagi Ayah...ayo makan, aku sudah memasak untuk ayah," ucap Ekre sambil memberikan piring yang berisi nasi goreng itu ke hadapan ayah nya sehingga membuat Narin tambah heran kemudian Narin mengaduk aduk Nasi goreng yang ada di depan nya.
"Apakah ini layak untuk di makan?" tanya Narin ragu, pertanyaan itu membuat Ekre sadar bahwa itu bukan kebiasaan Aure dan dia harus memutar otak nya untuk membuat alasan tapi dia kesulitan membuat alasan.
"Katakan apa yang terjadi?" tanya Narin keheranan.
"Tadi ada kucing yang lewat di depan rumah," ucap Ekre asal sebut saja karna pertanyaan yang seperti itu jawaban nya belum dia siap kan.
"Kucing? lalu apa hubungan nya dengan nasi goreng?" tanya Narin dengan heran sambil dia mencicipi masakan anak nya.
"Itu...melihat kucing jadi kepikiran nasi goreng," sahut Ekre gugup tentu saja jawaban yang asal-asalan itu membuat Narin merasa heran, tapi bahkan dia yang sangat pandai pun tidak bisa membedakan apakah itu anak yang selama ini bersama nya atau bukan.
"Kalau begitu kamu besok melihat sapi, siapa tahu kamu kepikiran buat bikin rendang," sahut Narin sambil bergegas menghabiskan makan nya karna dia akan segera pergi untuk bekerja.
__ADS_1
"Ya ayah!" sahut Ekre lega karna merasa sudah aman, setelah makan kemudian Narin pun pergi dan Ekre bersiap mau pergi ke taman untuk bertemu Raura yang janjian mau ketemuan jam 8 pagi.