Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda

Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda
Bab 94 Perjanjian keluarga.


__ADS_3

"Setelah Ekre membayar 50 juta rupiah kemudian Raura akan di nikahkan dengan Ekre dan keluarga Raura tidak berhak menuntut apa-apa lagi di kemudian hari, mereka boleh datang ke acara pernikahan tapi tidak boleh mengajak Raura tinggal bersama keluarga nya karna dengan keluar nya surat perjanjian ini maka keluarga Ekre memiliki hak penuh terhadap Raura."


Tentu saja pihak Raura langsung tanda tangan tanpa menunggu banyak bicara kemudian setelah semua urusan selesai Karen dan keluarga nya pulang.


Persiapan pernikahan mulai di lakukan dan Raura juga mengundang semua keluarga nya atas izin Karen dan setelah tahu tentang Ekre, semua keluarga Raura langsung terkejut bahkan ibu tirinya sampai pingsan karna menyesal harga yang mereka terima terlalu sedikit untuk seorang pria yang berasal dari rumah Wijaya.


Dua hari sebelum pernikahan, Ekre malam itu datang ke kamar ibu nya dan di dalam kamar itu sudah ada Kanza dan juga Kolin kemudian Ekre duduk di samping ibu nya lalu berkata.


"Bu..aku akan menikah jadi bisa kah ibu mengundang ayah dan juga Kaka Aure?" tanya Ekre dan pertanyaan itu membuat Kolin sangat terkejut karna dia tidak pernah tahu bahwa Aure itu kembar sekarang Kolin faham siapa pria yang selama ini ada di depan nya dan bukan pria yang pernah dia kenal.


"Boleh saja, tapi jika ayah mu datang maka ibu yang akan pergi." sahut Karen dengan tegas.


"Bu....!" pinta Ekre.


"Pilihan ada pada mu! aku atau ayah mu!"


"Tapi Bu...?"


"Silahkan keluar! ibu sudah selesai bicara." perintah Karen.


Dengan sangat kecewa Ekre pun keluar dari kamar ibu nya lalu pergi ke kamar nya, Kanza memberi isyarat kepada Kolin untuk menyusul Ekre karna Kanza menemani ibu nya menulis nama di surat undangan.


Kolin pun masuk ke kamar Ekre kemudian menutup pintu nya lalu Ekre melihat ke arah pintu yang terdengar suara di buka lalu di tutup, Ekre sangat berharap yang datang adalah ibu nya dan dia langsung kecewa karna yang datang bukan Karen.


"Jadi nama mu Ekre dan bukan Aure?"


"Apa maksut mu!" tanya Ekre heran.


"Aku mengenal Aure dan juga tuan Narin." sahut Kolin.


"Berbohong!" bantah Ekre.


"Mereka tinggal di Bali."


"Bukan!"

__ADS_1


"Lalu?"


"Bisa kah Kaka ipar menyimpan rahasia?" tanya Ekre serius.


"Bahkan selama ini aku tidak pernah menunjukan bahwa aku pernah mengenal salah satu di antara kalian." sahut Kolin dengan tegas.


Kemudian Ekre melakukan panggilan Vidio call kepada Aure dan saat itu lagi lagi Aure sedang dalam ritual nya bersama Mayang sehingga Ekre yang polos jadi serba salah melihat nya.


"Nanti aku hubungi lagi." ucap Ekre.


"Bagaimana keadaan ibu?"


"Ibu baik baik saja dan sekarang sedang sibuk mengurus undangan."


"Apakah ada nama ku di dalam daftar tamu undangan mu?"


"Kaka maaf!" sahut Ekre dengan sedih dan tertunduk sehingga membuat Aure jadi salah tingkah kemudian Kolin berkata.


"Biar aku yang menjelaskan."


"Siapa di samping mu? apakah itu calon istri mu?"


"Bagaimana bisa kamu mempercayai orang lain untuk menyimpan rahasia kita?" tanya Aure kesal kemudian Ekre melihat ke arah Kolin dan Kolin merebut ponsel Ekre dari tangan nya lalu menyapa.


"Hello Aure!"


"Kolin?" ucap Aure dengan sangat terkejut.


"Jangan khawatir, aku siap menjaga rahasia, tapi apa yang terjadi di antara kamu dan Ekre?"


"Panjang cerita nya." sahut Aure.


"Bagaimana kabar tuan Narin?"


"Kabar ayah baik, sebenar nya ayah meminta ku untuk mencari mu dan meminta mu menjadi tamu kami lagi karna sekarang kami tinggal di Jakarta."

__ADS_1


"Tapi dalam situasi seperti ini menurut ku lebih baik kita tidak saling terhubung secara langsung." ucap Kolin.


"Kau benar Kolin." sahut Aure.


"Apakah Kanza juga tidak boleh tau?" tanya Kolin.


"Berikan nomor mu, nanti aku kabari kamu ketika aku menemukan jawaban dari pertanyaan mu itu." sahut Aure, kemudian Kolin menceritakan semua yang di katakan Karen ketika Ekre berkata mau mengundang Aure dan ayah nya.


"Tapi aku tetap akan datang, meski aku datang aku akan bersikap dengan baik agar ibu tidak menyadari keberadaan ku." sahut Aure.


"Lalu tuan Narin?"


"Biar lah ayah ku tahu dengan cara nya sendiri." sahut Aure sedih sambil mengakhiri panggilan, kemudian Kolin menyerahkan ponsel kepada Ekre.


"Terima kasih Kaka ipar." Kolin pun tersenyum kemudian dia mengambil sebuah bangku dan meletakan di samping ranjang Ekre kemudian Kolin menceritakan semua yang pernah dia alami selama dia tinggal bersama Narin dan Aure, setelah cerita Kolin selesai kemudian Kanza datang dan bertanya.


"Apakah kamu baik baik saja Ekre?"


"Sangat baik Ka' karna ada Kaka ipar yang sudah menasehati ku." sahut Ekre.


"Berdo'a lah agar ibu berubah fikiran dan ini Kaka menyimpan dua undangan yang belum di beri nama dan semoga saja ibu berubah fikiran." ucap Kanza sambil menyerahkan undangan itu, lalu Kanza dan Kolin pun meninggalkan Ekre.


Hari yang di tunggu pun tiba, di hari minggu sesuai jadwal yaitu upacara pernikahan pangeran Wijaya yang juga di tayangkan di televisi dan di lihat juga oleh Narin tapi dia bahkan tidak di kabari sebelum nya sambil melamun Narin melihat siaran langsung itu dan di saat yang sama lewat lah Aure di depan Narin lalu Narin bertanya.


"Aure, adik mu menikah!" sambil Narin menunjuk ke arah televisi yang sedang dia tonton.


"Lalu?" tanya Aure cuek.


"Kamu kapan?" tanya Narin dan pertanyaan itu membuat Aure tertawa.


"Apakah ayah mau datang ke acara itu?"


"Aku tidak di undang." sahut Narin kecewa.


"Kalau begitu jangan datang." sahut Aure cuek lalu berjalan pergi meninggal kan ayah nya.

__ADS_1


Acara pernikahan pun berlangsung sangat lancar dengan di hadiri banyak keluarga Raura yang tentu saja dengan beragam kelakuan, ada yang hobi nya mengumpul kan makanan untuk di bawa pulang, ada yang suka berkeliling rumah Wijaya, ada yang minta beberapa macam tanaman bunga yang tumbuh di kebun, bahkan ada juga yang sempat-sempat nya memancing di kolam ikan Wijaya, tapi di antara mereka semua yang paling parah adalah kelakuan ibu tirinya Raura, yaitu dia sibuk berfoto bahkan mungkin memory ponsel yang berjumlah 128 GB habis untuk foto-foto nya saja dan yang lebih memalukan lagi adalah dia menyimpan beberapa macam kue pengantin agar tidak di potong karna akan dia bawa pulang, Karen hanya menggaruk kepala nya saja ketika melihat tingkah besan nya itu, malu iya kesal juga.


Di tengah keramaian itu Aure datang dengan masker dan juga rambut kriting dengan kaca mata hitam, melihat Kaka nya dari kejauhan Ekre hanya mampu tersenyum tanpa berani menyapa nya.


__ADS_2