Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda

Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda
Bab 80 Pertemuan yang dinantikan


__ADS_3

Mendengar bel berbunyi Karen pun menyuruh pelayan nya membuka pintu pagar untuk mempersilahkan tamu nya masuk karna sejak kematian Hanan banyak orang yang tidak di kenal Karen yang datang mengunjungi nya.


Aure masuk ke dalam ruang tamu dia melihat Ibu dan adik nya yang sangat dia rindukan tapi meski mereka dekat tidak ada kemampuan apapun yang di miliki Aure untuk bisa memeluk mereka kemudian Aure menyebut.


"Ekre," yang membuat Ekre bersin sama seperti dulu saat mereka masih kecil, Ekre bergegas menarik tangan Aure lalu Aure pun mengikuti nya sampai di taman yang jauh dari rumah Ekre langsung memeluk Aure sambil menangis karna kerinduan nya yang banyak kepada Kaka nya sambil berkata.


"Ka' Aure, aku sangat merindukan Kaka!" Aure pun kemudian memeluk Ekre juga sambil bertanya.


"Bagaimana kamu bisa mengenali ku? sudah capek-capek menyamar ternyata masih juga bisa di kenali oleh mu," tanya Aure heran karna menurut nya penyamaran nya sudah sangat lah sempurna.


"Hati ku," sahut Ekre tanpa melepaskan pelukan nya kepada Aure dan setelah puas berpelukan mereka pun kemudian duduk di bangku di taman itu.


"Mengapa Kaka tidak langsung menunjukan diri Kaka kepada ibu?"


"Ayah belum memberikan izin kepada ku karna dia bilang belum siap bertemu ibu, beruntung kamu dan ibu tidak pindah ke tempat lain sehingga aku masih bisa menemukan kalian," sahut Aure.


"Lalu kapan ayah siap?"


"Mana aku tahu! pergi temui ayah!" sahut Aure jutek, tapi justru ucapan itu membuat Aure memiliki pemikiran yang menguntungkan, yaitu bertukar tempat untuk menyembuhkan kerinduan mereka kepada orang tuanya.


"Ekre bagaimana kalau kamu pulang saja ke rumah ayah, dan aku akan pulang ke rumah ibu maka kita akan bisa bersama mereka tanpa harus di ketahui oleh mereka," ucap Aure, tentu saja sejak kecil mereka kembar bahkan tidak bisa di bedakan satu dengan yang lain maka sangat mudah mereka bisa berganti peran.


kemudian Aure memberikan alamat rumah ayah nya kepada Ekre dan juga menukar ponsel sekaligus pakaian mereka agar pergantian peran itu tidak bisa di sadari oleh orang tua mereka.


Aure langsung melepas kan semua atribut di wajah nya kemudian Ekre berkata.


"Kaka aku belum siap," ucap nya gugup.


"Ya udah! kalau kamu mau dandan maka berdandan saja dulu! atau apakah kamu mau pergi ke salon dulu?" tanya Aure kesal.


"Kaka' aku serius...,"


"Dan apakah kamu juga tidak sadar kalau aku saat ini lebih serius lagi?" tambah kesal Aure melihat tingkah adik nya.


"Kaka seperti nya sedang dapet!" ucap Ekre bercanda agar Kaka nya tidak terlalu kesal kepada nya.


Kemudian Aure memberikan kunci mobil nya kepada Ekre sambil berpesan.

__ADS_1


"Ini kunci mobil ku yang aku parkir tidak jauh dari rumah ibu dan hati-hati membawa nya, kalau sampai tergores sedikit saja nyawa mu taruhan nya." ucap Aure masih dalam suasana bete, Ekre memegang dada nya sambil berkata.


"Kaka aku gugup!"


"Gugup atau takut?" tanya Aure sambil tertawa karna melihat tingkah adik nya yang tidak berubah sama seperti saat masih kecil yaitu nyali nya sedikit.


Setelah memeluk Ekre kemudian Aure pergi ke rumah ibunya sementara Ekre masih melamun di taman karna dia masih gugup dan belum siap berakting sebagai Kaka nya terutama dia tidak kenal sifat Kaka nya sekarang yang sudah banyak berubah.


Dalam lamunan nya ada seorang perempuan yang lewat mengejar kucing peliharaan nya yang berlari, dan perempuan itu terjatuh tepat di depan nya, kemudian Ekre membantu perempuan itu berdiri dan mereka pun mulai berbicara karna untuk pertama kali nya Ekre mengagumi seseorang dan wanita itu membuat jantung nya melompat ( hanya peri bahasa).


"Apakah kamu baik baik saja?" tanya Ekre.


"Iya ngga papa kok,"


"Kenal kan nama ku Ekre."


"Aku Raura,"


Melihat wanita cantik di depan nya membuat Ekre sangat gugup dan salah tingkah karna ini pertama bagi Ekre dia merasakan rasa yang aneh kepada seorang wanita.


"Raura! apakah kamu punya pacar?"


"Bisakah kita dekat?"


"Dekat bagaimana?"


"Aku menyukai mu, mungkin aku jatuh cinta kepada mu!"


"Kenali lah diriku lebih jauh lagi kemudian kamu pastikan apakah itu cinta atau cuma kagum saja," sahut Raura tapi Raura juga berharap memiliki kekasih seperti Ekre, Raura pun bangkit dari duduk nya kemudian Ekre bertanya.


"Mau kemana?"


"Pulang!"


"Tapi...,"


"Jangan khawatir, besok aku ke sini lagi."

__ADS_1


"Benar kah? jam berapa?" sahut Ekre sambil tersenyum lebar.


"Pagi jam 8," kemudian Raura berjalan pergi dan Ekre bergumam.


"Tadi apakah aku di tolak ya?" setelah itu Ekre pun pergi ke rumah ayah nya.


*****


Aure ketika sampai ke rumah, Karen masih duduk di sofa untuk menemani Mita yang masih dalam suasana berkabung dan saat datang, Aure mulai menempel kepada Karen memeluk Karen sambil menangis.


"Ekre, ibu bisa mengerti kamu pasti masih sedih karna kepergian Paman mu yang sangat tiba tiba itu!" ucap Karen karna anak nya memang menyayangi Hanan karna bagi Ekre Hanan bisa menggantikan sosok Narin.


"Aku sangat menyayangi ibu," sahut nya sambil tambah erat Aure memeluk Karen.


Karen yang tahu anak nya memang manja tidak heran ketika anak nya memeluk nya, Karen berfikir mungkin karna anak nya tidak siap kehilangan ibu nya seperti Hanan yang pergi secara tiba tiba.


*****


Di rumah Narin, sore itu Narin datang ke rumah dan Ekre pun sudah ada di ruang tamu menunggu kepulangan Narin, setelah Narin masuk ke dalam rumah Ekre langsung memeluk Narin sambil berkata.


"Aku rindu ayah," tentu saja hal itu membuat Narin sangat kebingungan karna tidak biasa nya anak nya bersikap seperti itu, bahkan saat lebaran saja anak nya tidak seperti itu, sempat terpikir oleh Narin apakah sikap anak nya adalah salah satu tanda-tanda kiamat.


"Kenapa sikap mu jadi sangat aneh hari ini?" tanya Narin heran.


"Aneh bagaimana yah?" sahut Ekre sambil melepaskan pelukan nya dari tubuh ayah nya.


"Sejak kapan kamu belajar cara memeluk ayah?"


"Memang sebelum nya aku tidak pernah memeluk, ya?" tanya Ekre gugup.


"Jangan bilang suasana Jakarta membuat otak mu bermasalah." tanya Narin cuek sambil Narin duduk di sofa, Ekre pun mengikuti nya duduk di samping nya sambil terus memandangi wajah Narin karna Ekre sangat merindukan ayah nya, tapi merasa di pandangi Narin merasa sangat risih dan bertanya.


"Aure apakah kamu sedang kesurupan?"


"Aku hanya sedang mengagumi ketampanan ayah!" sahut Ekre asal.


"Wwwoooaaahhh, apa-apaan kamu ini seperti nya sakit mu sangat parah, tapi kamu benar, memang sudah lama ayah juga menyadari kalau ayah memang tampan," sahut Narin sambil tersenyum kepada anak nya lalu menyentuh dahi anak nya kemudian bergumam.

__ADS_1


"Tubuh mu tidak demam,"


__ADS_2