
Kematian bayi nya membuat Karen selalu murung dan kehilangan semangat meski Narin selalu berusaha menghibur nya tapi kesedihan dan luka di hati Karen tidak mudah hilang, Karen lebih banyak menangis dan juga murung, bahkan Karen sangat sulit di ajak makan sehingga tubuh nya menjadi kurus dan duduk di kursi roda karna tubuh nya lemah dan kesulitan berdiri, Narin dengan sabar merawat nya walau pun Karen tidak mau bicara sejak pemakaman bayi nya.
Hari itu Narin mengajak Karen ke taman di pekarangan rumah nya, mereka di taman untuk menikmati cahaya matahari dan bel di depan pagar berbunyi kemudian Narin membuka pagar, dia mengenali tamu nya Roy dan Rani setelah mempersilah kan mereka masuk kemudian Narin membawa Karen bertemu mereka, Karen yang seperti mayat hidup itu bahkan tidak bisa mengenali siapa pun menbuat Rani menangis melihat nya.
"Karen, apakah kamu melupakan ku?" tanya Rani, Karen pun melihat ke wajah Rani dan dia melihat perut Rani yang sedang hamil kemudian Karen menyentuh perut Rani dan berkata.
"Bayi." kata pertama yang keluar dari mulut Karen membuat Narin sangat bahagia dia terharu dan menetes kan air mata nya.
Roy dan Rani juga menangis melihat Karen yang sangat periang menjadi seperti tumpukan tulang yang di balut kulit dengan wajah pucat seperti mayat hidup yang kehidupan nya hanya bergantung pada jarum infus saja.
"Karen! aku dan suami ku ke sini karna kami bermaksud mengundang mu untuk datang di acara 7 bulanan bayi kami, kamu bisa datang kan?" tanya Rani kepada Karen dan Karen pun memandangi Rani.
"Aku akan datang." jawab Karen, Karen tersenyum ketika tangan nya menyentuh perut Rani dan dia berkata lagi.
"Selamat Rani." mendengar kata-kata Karen kemudian Narin memeluk Karen dengan harapan yang tinggi akan kesembuhan Karen.
"Karen, kami masih harus mengundang beberapa teman lagi, kami pulang dulu." ucap Rani dengan lembut dan Karen mengangguk.
*****
__ADS_1
Acara 7 bulanan Rani pun tiba, Narin membawa Karen ke acara itu dan untuk pertama kali nya setelah kematian bayi nya dia mau makan dengan di suapi Rani dan Karen mulai banyak tertawa, perlahan keadaan Karen mulai membaik bersama Rani dan Roy pun berkata kepada Narin.
"Kalau kamu mau, Rani bisa tinggal bersama Karen sampai dia melahirkan dan siapa tahu Karen akan cepat sembuh."
"Apakah kamu tidak keberatan?" tanya Narin kepada Roy.
"Aku akan sangat senang jika aku bisa membantu," sahut Roy yang merasa sangat sedih karna wanita yang dia cintai dalam keadaan seperti itu.
Narin pun diam, dia hanya memandangi Karen dan Rani yang berada di depan nya dengan jarak sekitar 3 meter dari tempat nya berdiri dan Roy memulai bicara.
"Ajak Rani bicara dan aku akan menemani Karen." Roy berjalan mendekati Karen dan berkata kepada Rani.
"Rani! sebenar nya aku dan Roy sudah sepakat, jika kamu tidak keberatan, sebelum tiba waktunya melahirkan, tinggal lah di rumah keluarga Wijaya untuk menemani Karen, karna seperti nya Karen merasa nyaman bersama mu,"
Rani pun memandangi ke arah Karen dan dia melihat ke wajah Roy, Roy pun mengangguk kemudian.
"Baik lah jika Roy setuju maka aku juga tidak punya masalah." sahut Rani.
Acara pun berakhir, Karen dan Narin pun pulang dan keesokan pagi nya Rani datang dengan di antar Roy, tapi Roy tidak ikut masuk hanya Rani saja yang masuk.
__ADS_1
Setelah beberapa hari, kehadiran Rani mampu mereda kan badai di hati Karen dan perlahan kondisi Karen membaik, jarum infus nya di lepas kan karna dia sudah mau makan dan perlahan Karen juga mulai bangkit dari kursi roda nya dan belajar menggunakan kaki nya lagi.
Seiring berjalan nya waktu kondisi Karen mulai baik, Karen sudah mau makan dan sudah mau berbicara, dia juga mau berjalan dan berolah raga, hingga pada suatu hari Rani melahirkan bayi laki-laki dan bayi Rani lahir secara normal, Karen orang pertama yang menggendong bayi Rani dan dia sangat bahagia melihat bayi tampan itu sampai serasa semua beban hidup Karen seolah menghilang dan tidak lagi menghantui fikiran nya.
"Bayi mu sangat tampan," ucap Karen, sambil mencium bayi Rani, kemudian memberikan bayi itu kepada Roy, kemudian Karen memeluk Narin sambil berkata.
"Aku yakin suatu hari nanti kita bisa punya bayi lagi." Narin pun tersenyum lalu mengangguk.
"Kanza." ucap Roy.
"Kanza! nama yang bagus, aku suka nama itu." sahut Rani, dan bayi laki-laki itu resmi bernama Kanza.
Kehidupan keluarga Rani dan Roy sangat bahagia, dan kehadiran Kanza mampu membangkitkan semangat Karen.
Tapi kemudian badai datang di hari ulang tahun pertama Kanza yaitu, Rani dan Roy mengundang semua teman-teman yang pernah satu kampus dengan mereka dan termasuk Amelia juga, Amelia merasa iri dengan kebahagiaan Karen dan Rani karna menurut Amelia dia lebih baik dari Karen dan juga Rani lalu mengapa mereka yang bisa bahagia dengan pria yang nyaris sempurna sementaraa dia sendiri masih jomlo dan niat jahat pun datang di hati nya untuk menghancur kan kebahagiaan Rani dan Roy terutama Amelia juga dendam kepada Roy karna sejak dulu saat masih di kampus Amelia memang sangat mengagumi Roy, tapi sebalik nya Roy hanya mengabaikan nya dan malah memilih menikahi Rani.
Sejak hari itu, Amelia sering mengajak Rani ke mall dan liburan keluar kota, Rani juga sering menitip kan Kanza di rumah Karen bahkan sampai 1 atau 2 bulan dan bisa di bilang Karen lebih banyak merawat Kanza dan Kanza juga lebih akrab dengan Karen dan hubungan Kanza dengan ibu kandung nya mulai menjauh, tapi Rani tidak perduli karna dia sibuk dengan dunia nya sendiri.
Sampai suatu hari, Rani dan Amelia liburan ke bali, Rani mengenal seorang pria yang bernama Rodrego dan di situ lah awal perselingkuhan terjadi antara Rani dan Rodrego, Rani jarang pulang ke rumah nya dan pertengkaran selalu terjadi antara Rani dan Roy, karna Rani mulai bosan dengan Roy yang selalu sibuk dengan pekerjaan sementara Rodrego pengangguran dan bisa selalu bersama Rani bahkan setiap Rani membutuh kan nya, keretakan hubungan Roy dan Rani sudah mulai terjadi tapi Rani masih bertahan demi harta, karna Roy kaya dan Rani hanya berharap menunggu Roy membuat surat wasit pembagian harta untuk nya, Rani bertahan demi harta dan bukan demi Kanza, bahkan tidak ada yang pernah perduli pada perasaan Kanza karna itu Kanza lebih suka tinggal bersama Karen dan bagi Kanza Karen adalah ibu nya.
__ADS_1