Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda

Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda
Bab 68 Membuat Ningsih cemburu.


__ADS_3

"Aku akan lama tinggal di rumah ini, jadi belajar lah agar kamu terbiasa melihat ku," sahut Kolin sinis, Narin dan Aure hanya mendengar kan saja.


"Bagaimana aku akan terbiasa ketika setiap malam aku melihat suami ku tidur dengan wanita lain!" sahut Ningsih dengan geram.


"Apakah sebelum kehadiran ku, suami mu setiap malam tidur dengan mu?" tanya Kolin dengan ekspresi wajah mengejek, Aure tertawa, kemudian Narin mengambil paha ayam untuk menutup mulut Aure, Aure pun memakan nya, di meja makan seperti sedang di lakukan uji nyali karna suasana yang terasa sangat menantang.


"Ya, aku tidak heran jika kamu suka tinggal gratis di rumah ini karna mengingat asal usul mu juga dari tempat sampah, sehingga kamu tidak malu numpang di rumah orang lain seperti sampah." ucap Ningsih berusaha menyerang mental Kolin, tapi bagi Kolin yang di besar kan di rumah bordil dia sudah terbiasa dengan ucapan seperti itu.


"Aku dengar kamu juga bukan dari keluarga kaya, ayah mu juga hanyalah petani jadi aku juga tidak heran jika kamu berusaha mempertahan kan kemewahan di rumah ini dengan tanpa rasa malu, aku perhatikan hubungan kamu dengan suami dan anak tiri mu juga tidak terlihat baik." balas Kolin dengan percaya diri karna dia sudah faham semua cerita dari Aure.


"Dasar pelacur!"


"Pelacur dan pelakor sebenar nya sama saja." sahut Kolin dengan tenang.


Karna merasa tidak ada yang membela nya kemudian Ningsih pun pergi meninggal kan meja makan dan Kolin hanya cuek saja sambil melanjut kan makan nya sambil bertanya kepada Aure.


"Apakah kamu mau ku buat kan teh?" Aure mengangguk, Narin pun juga berkata.


"Buat kan satu juga untuk ku," sambil Narin tersenyum seolah tidak ada hal apapun yang baru saja terjadi.


"Baik lah." sahut Kolin, kemudian dia berdiri dan membuat kan teh untuk Narin dan Aure, setelah selesai minum teh kemudian Kolin masuk ke dalam kamar Narin dan tertidur sebelum Narin datang, Narin pun datang dan dia berdiri membeku tak bergerak ketika memandangi Kolin tidur, melihat wajah Kolin mampu mengurangi kerinduan nya kepada Karen dan karna tidak mau mengganggu tidur nyenyak Kolin, setelah Narin puas memandangi wajah Kolin kemudian Narin pun juga tertidur di sofa.

__ADS_1


Hari itu adalah hari minggu, Aure dan Narin sedang duduk di ruang tamu, Narin membaca Koran sementara Aure membaca majalah dan Ningsih baru keluar dari kamarnya, karna Ningsih tidak melihat Kolin dia pun mendekati Narin dan memberanikan diri untuk berbicara dengan Narin.


"Suami ku! aku tidak suka Kolin! seperti nya kehadiran Kolin ke rumah ini adalah sengaja di kirim kan seseorang untuk menghancur kan keluarga kita." Ningsih berusaha membujuk Narin agar Narin mengusir Kolin.


Narin tidak merespon lalu Aure menutup majalah di tangan nya dan berkata.


"Keluarga mana yang kamu maksut? yang aku lihat di rumah ini tidak ada hubungan yang bisa kamu sebut sebagai keluarga, kamu tidak punya anak dan keluarga yang sebenar nya adalah memiliki anak." sahut Aure sinis.


"Aure! aku ini ibu mu, berikan rasa hormat sedikit ketika berbicara dengan ku!" bentak Ningsih.


"Jangan membentak anak ku!" teriak Narin dengan mata melotot ke arah Ningsih.


"Aure benar, kita tidak punya anak yang arti nya kita memang bukan keluarga." tambah Narin dengan nada suara serius.


"Seperti nya ayah mu sedang kesal,"ucap Kolin yang dia tujukan kepada Aure.


"Kamu sangat hebat karna bisa memahami kekesalan ayah ku, padahal kamu baru mengenal ayah ku,"


"Sangat mudah memahami suasana hati ayah mu hanya dengan melihat wajah nya saja." ucap Kolin sambil membalik koran yang dia baca.


"Kamu wanita yang pandai karna bisa memahami ayah ku, apakah kamu tahu ayah ku sedang bosan kepada seseorang?" sindir Aure.

__ADS_1


"Tentu aku faham karna aku wanita yang cukup banyak mengenal pria yang bosan dengan istri nya," ucap Kolin tanpa ekspresi saat mengucap kan kalimat itu dengan mata memandangi koran di tangan nya tapi mulut nya sampai kemana-mana.


"Tapi mengapa sebagian orang di ciptakan tidak peka?" tambah Aure yang juga pokus pada majalah yang sedang dia pegang.


"Mungkin karna ada masalah dengan otak nya," sahut Kolin lagi yang membuat Ningsih meledak kemudian berusaha menampar Kolin tapi tenaga Kolin lebih kuat dan tangan Ningsih di tangkap oleh Kolin, kemudian Kolin melempar kan Ningsih ke lantai lalu mencekik Ningsih sambil berkata.


"Jangan berfikir untuk menyakiti ku karna aku tidak lemah," ancam Kolin setelah berkata begitu Kolin melepas kan tangan nya dari leher Ningsih dan bergegas Ningsih lari ke kamar Narin kemudian mengadu.


"suami ku! Kolin mencekik ku, dia berusaha membunuh ku," Narin pun mengabaikan nya, kemudian Ningsih menarik tangan Narin dan sampai di ruang tamu Ningsih dengan air mata berlinang mengadu.


"Di sini, dia mencekik ku! Dia berusaha membunuh ku." sambil Ningsih menunjukan tempat dia tadi di cekik oleh Kolin.


"Siapa membunuh siapa?" tanya Aure yang masih serius melihat majalah dan Kolin juga dengan santai membaca koran seolah dia tidak mendengar kan ucapan Ningsih.


"Kolin! Dia tadi mencekik leher ku," ucap Ningsih sambil memandangi wajah Narin berharap mendapat kan dukungan dari Narin.


"Kapan? aku tidak tahu?" tanya Aure kepada Ningsih dan membuat Ningsih seperti orang bodoh di samping Narin sehingga Narin pun kesal lalu berkata.


"Dulu! Kamu memfitnah Karen, dan sekarang kamu memfitnah Kolin! Apakah kamu akan berusaha memfitnah semua orang yang tidak kamu sukai?" bentak Narin dengan sangat marah, karna merasa tidak mendapat kan respon dari Narin kemudian Ningsih berlari ke kamar nya, Narin memandangi wajah Kolin yang terlihat seperti robot yang tidak pernah menunjukan ekspresi apapun, kemudian Narin pun berkata kepada Aure.


"Aure! bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan hari ini?" Aure berdiri dan menyentuh dahi ayah nya karna curiga ayah nya sedang demam karna seingat Aure, ayah nya tidak pernah mengajak nya pergi kemana pun sejak mereka tiba di Bali.

__ADS_1


"Kemana?" tanya Aure bersemangat.


"Bagaimana kalau ke laut?" ucap Narin sambil melirik ke arah Kolin, karna Kolin tidak merespon dan pokus membaca koran kemudian Aure pun mendekati nya lalu duduk di samping Kolin.


__ADS_2