
"Nyonya Isna di temukan meninggal dunia dan terbakar di dalam rumah itu." Sahut nya lagi.
"Dan di mana Lila?" tanya Kanza lagi.
"Tuuu...." sambil menunjuk ke arah Lila yang sedang bertingkah seperti orang gila atau lebih tepat nya Lila memang gila.
"Lalu di mana makam!" pertanyaan Kanza tentang makam isna langsung terhenti ketika Karen menginjak kaki nya, terlihat jelas bahwa Karen tidak perduli.
"Kanza! kita pulang saja." ucap Narin, kemudian semua orang pun pergi ke rumah sakit lalu menceritakan semua nya kepada Kolin, tetapi bukan nya sedih Kolin justru berkata.
"Mereka pantas mendapatkan nya, Isna selalu berkata buruk tentang ibu ku sehingga setiap hari aku mengutuk ibu ku dan kasihan ibu ku jika ibu ku adalah ibu Karen maka aku pasti sangat menyesal karna aku selalu mengutuk ibu kandung ku, sebelum aku tahu semua kebenaran nya." ucap Kolin sambil menangis kemudian Karen memeluk nya.
"Kamu tidak salah ketika kamu membenci ibu kandung mu karna kamu tidak tahu cerita yang sebenar nya dan ibu memaafkan mu." ucap Karen sambil mencium ke dua pipi Kolin.
"Ibu juga sangat menderita ketika mengetahui kabar kematian Putri ibu, aku sudah melihat nya di Vidio ayah yang pernah ayah tunjukan saat ibu sakit dan berada di kursi roda." ucap Kolin sambil menangis tersedu sedu karna dia merasa sangat bersalah kepada ibu nya yang ternyata tidak sekejam yang pernah dia fikirkan.
***
Setelah beberapa hari kemudian Kolin pun keluar dari rumah sakit dan hasil tes DNA juga keluar yang menyatakan bahwa Kolin memang keturunan keluarga Wijaya, sehingga semua orang masing masing mau memberikan nama kepada si kembar dan setelah perdebatan panjang kemudian di putuskan nama si kembar adalah Andara dan Indira.
Di ruang tamu malam itu, semua orang hanya duduk diam saja dan tidak ada yang mau berkata apa pun, kemudian Kanza yang memulai bicara.
"Ayah, ibu, apakah bisa kita mengabulkan keinginan terakhir Aure?" sambil Kanza melihat ke arah Narin dan Karen.
"Karen, maaf kan aku dan aku ingin kita bersama lagi seperti ke inginan anak kita." pinta Narin.
"Berjanjilah kamu akan setia kepada ku," sahut Karen dengan wajah serius.
__ADS_1
"Ayolah Karen, aku sudah tua, menurut mu wanita mana yang mau menjadi kekasih ku?" tanya Narin sambil menggoda Karen.
"Malu nya aku, menikah di usia tua," sahut Karen sambil merinding sehingga membuat semua orang tertawa.
"Ibu jangan khawatir karna wanita bernama Ningsih sudah aku usir." sahut Kolin.
"Bagaimana?" tanya Kanza, kemudian Kolin menceritakan semua nya dan Karen bertanya dengan nada cemburu kepada Narin.
"Apakah kamu meniduri anak kandung mu sendiri!?" tanya Karen.
"Sumpah dia hanya tidur di kamar ku bahkan aku tidak pernah bermesraan dengan nya." ucap Narin membela diri.
"Bohong!" sahut Karen mulai ngambek.
"Benar Bu... ayah seperti Kanza yang hanya tidur tapi tidak melakukan hal seperti itu walau pun saat Kanza mabuk dia pernah melakukan nya sekali kepada ku," ucap Kolin sambil tersenyum juga kepada Kanza sehingga membuat Kanza merasa sedikit malu.
"Aku ingat! saat itu kita pernah melakukan hal seperti itu jadi mungkin saja Andara dan Indira adalah anak ku juga." sahut Kanza tegang.
"Kalau mau yakin maka lakukan saja tes DNA tapi dengan catatan anak siapa pun si kembar tidak mengubah apa pun di dalam hubungan kita karna kita adalah satu keluarga." sambil Karen mencium pipi Andara.
"Kolin.." pinta Kanza, Kolin pun mengangguk.
"Baiklah aku yang akan menyusun rencana untuk menikahkan ayah dan ibu." ucap Kanza, di sertai teriakan yang bersemangat dari anak anak nya.
Pagi itu Kanza bersama Raura, Mita, Kolin dan Karen pergi ke rumah sakit lagi untuk melakukan tes DNA pada si kembar dan setelah pulang dari rumah sakit mereka semua pergi ke KUA karna Narin dan Ekre sudah menunggu mereka untuk menikahkan Karen dan Narin lagi.
Acara pun berlangsung lancar Karen dan Narin pun resmi menikah lagi.
__ADS_1
*****
Setelah beberapa hari hasil tes DNA si kembar pun keluar dan Kanza yang mengambil nya di rumah sakit tapi tidak membuka nya karna berencana membaca nya di depan seluruh keluarga.
Malam itu semua orang berkumpul di ruang tamu, Kanza menyerahkan hasil tes kepada Karen untuk membuka nya dan melihat nya terlebih dahulu.
"Bu' ini adalah laporan tes DNA nya si kembar aku belum melihat isi nya jadi Ibu saja yang membuka nya." pinta Kanza, Karen pun memegang hasil tes itu sambil melihat ke arah Narin yang sedang duduk di samping nya kemudian Narin mengangguk lalu Karen berkata.
"Dengar Kanza, dan kalian semua, sekali lagi aku tegas kan, yaitu apa pun yang tertulis di sini tidak akan mengubah hubungan kita yang sudah terbentuk ini jadi walaupun si kembar bukan darah daging Kanza tolong jangan ada yang berubah, kasih sayang kita kepada si kembar tetap sama, terutama kamu Kanza!" pinta Karen kepada semua orang sambil menunjuk ke wajah Kanza.
"Aku janji bu' aku akan menyayangi si kembar meski mereka bukan darah daging ku," sahut Kanza sambil mencium kening Kolin.
Karen pun membuka Amplop nya kemudian membaca nya, terlihat ekspresi kaget di wajah Karen sehingga membuat Narin yang berada di samping nya pun jadi sangat penasaran, Narin yang sangat kepo langsung mendekati Karen kemudian merebut kertas itu dari tangan Karen lalu Narin mengumum kan.
"Si kembar memang darah daging Kanza." ucap Narin, seolah tidak percaya dengan yang dia dengar kemudian Kanza bergegas merebut kertas itu lalu membaca nya.
"Si kembar anak ku...." ucap Kanza setengah berteriak kemudian dia menciumi pipi Kolin sampai Kolin jadi kesal di buat nya, lalu mendorong Kanza yang meski terduduk di lantai tapi masih kegirangan sambil memegang kertas di tangan nya.
"Sekarang keluarga kita sudah berkumpul dan kebahagiaan kita juga sudah lengkap dengan kehadiran si kembar dan juga Kolin yang ibu fikir sudah meninggal tapi ternyata masih hidup." Karen menangis lalu Kolin mendekati nya kemudian memeluk nya.
"Maaf kan ibu karna ibu tidak berusaha mencari mu," ucap Karen sambil menangis dalam pelukan Kolin kemudian Karen mengambil bantal yang ada di samping nya lalu melemparkan nya kepada Kanza sambil berkata.
"Kanza juga, mengapa baru bilang kalau istri nya memiliki tanda lahir huruf R di bahu nya." ucap Karen yang kelihatan serius kesal nya sehingga membuat Kanza heran dengan kesalahan nya kemudian Kanza bertanya.
"Apa salah ku Bu??? yang salah itu bibi Mita karna dia tidak pernah bertanya kepada ku," sahut nya sambil menunjuk ke arah Mita.
"Anak nakal." sahut Mita sambil melempari Kanza dengan bantal yang terletak di samping nya kemudian semua orang ikut ikutan melempari Kanza dengan bantal yang ada di sofa itu.
__ADS_1
Keluarga Wijaya sekarang bahagia dengan semua hal yang hilang namun kini telah kembali, keluarga mereka bersatu dalam kerukunan dan juga keharmonisan.
...TAMAT...