
Mereka semua panik dan tidak faham harus melakukan apa karna mereka baru saja membunuh Herman.
"Rico! kamu sembunyikan dulu mayat Herman di dalam kamar ibu!, letakan mayat nya di bawah ranjang dan nanti ketika semua orang sudah tidur ibu punya rencana," ucap Isna meski dalam kepanikan tapi otak nya tetap encer.
Kemudian mayat Herman di sembunyikan di bawah ranjang Isna dan ketika tengah malam tiba, Isna mengecek kamar Narin dan Kamar Romi tapi tidak terdengar suara apapun dari pemilik kamar dan dia yakin semua orang sudah tidur karna jam di dinding juga menunjukan pukul 2 malam.
Setelah memastikan semua orang sudah tidur kemudian Isna mengetuk kamar Rico dan Lila, kemudian Isna menyuruh Rico dan Lila mengangkat mayat Herman ke atas tangga, Rico dan Lila menuruti perintah Isna, kemudian Rico mengangkat mayat Herman di bagian kepala, Lila di bagian kaki, sementara Isna berjalan di depan mereka, dan setelah menaiki satu persatu anak tangga akhir nya mayat Herman berada di atas tangga kemudian Isna berkata.
"Lempar kan mayat nya ke bawah!"
Kemudian Rico dan Lila melepaskan mayat Herman seperti perintah Isna, sehingga mayat Herman berguling-guling jatuh dari tangga dan tergeletak di bawah tangga,kemudian setelah melihat ke sekeliling Isna berkata.
"Ayo kita pergi sekarang! sebelum ada yang melihat kita."
Kemudian ketiga parasit itu bargegas menuruni tangga lalu pergi meninggal kan mayat Herman begitu saja dan keesokan pagi nya Karen adalah orang pertama yang melihat ayah nya tergeletak di bawah tangga dan dia berteriak.
"Aaaaaaa.......ayah.....!"
__ADS_1
Narin dan Romi terkejut mendengar teriakan Karen dan mereka segera datang ke arah suara Karen berasal, di saat yang sama Isna dan ke dua anak tiri nya juga datang dari kamar mereka yang ada dekat dapur yaitu di lantai satu dan mereka juga pura-pura terkejut melihat Herman tergeletak di bawah tangga di ruang tamu, bahkan Isna juga pura-pura pingsan dan dia berbaring di lantai mungkin sekalian dia Bobo syantik.
Narin membantu Karen menuruni anak tangga, Romi juga bergegas ke kamar nya untuk mengambil ponsel nya dan sambil menuruni anak tangga dia menelpon dokter pribadi nya, setelah Narin dan Karen tiba di depan mayat Herman Narin pun berkata kepada Rico.
"Rico! ambil kan kasur!" Rico bergegas berlari menuju ke kamar nya dan datang dengan membawa sebuah kasur kecil dan setelah itu Rico meletakan Kasur di samping mayat Herman.
Narin di bantu Rico mengangkat mayat Herman ke atas kasur dan setelah 10 menit dokter pun juga datang kemudian dokter memeriksa Herman, tapi jawaban dokter membuat Karen histeris dia menangis seperti anak kecil karna ayah nya di nyatakan meninggal dunia, karna merasa janggal dengan kematian Herman kemudian dokter bertanya kepada Narin.
"Ada banyak memar di tubuh pak Herman apakah harus di bawa ke rumah sakit untuk di Autopsi?" Mendengar itu ketiga penjahat pun mulai ketakutan dan Isna yang pura-pura baru sadar dari pingsan nya segera angkat bicara.
"Dokter! seperti nya Herman akhir-akhir ini sering pusing, aku pernah melihat nya hampir jatuh dari tangga, tapi beruntung ada menantu ku yang menolong nya hari itu dan menurut ku kematian Herman juga seperti nya karna jatuh dari tangga," ucap Isna dengan nada sedih karna dia sedang akting menangis dengan air mata buaya betina nya dan tentu saja tidak ada yang sadar bahwa penyebab kematian Herman adalah ulah trio parasit.
"Lalu mengapa tidak dibawa ke rumah sakit untuk di rawat?" tanya dokter dengan nada menyalahkan keteledoran mereka, Karen pun dalam tangisan dan kesedihan dia berkata.
"Karna ayah menolak dan aku tahu ayah memang takut Dokter."
"Jadi kesimpulan nya kematian Pak Herman adalah di karna kan jatuh dari tangga apakah begitu?" tanya dokter untuk meyakinkan keputusan mereka.
__ADS_1
Narin dan Karen pun mengangguk bersamaan dan terlihat ekspresi sangat tenang di wajah trio parasit, mereka bertiga saling menatap sambil tersenyum puas.
Hari itu juga Herman di makam kan dan Isna tidak kalah dengan Karen, yaitu tidak berhenti menangis dan berteriak karna merasa kehilangan dan tidak satu pun yang menyadari kalau tangisan itu hanyalah pura-pura saja bahkan mereka berfikir tangisan itu adalah karna Isna menyesali perbuatan nya di masa lalu kepada Herman.
Setelah selesai pemakaman ayah nya, Karen pun pulang ke rumah dengan rasa putus asa dan beberapa kali dia hampir jatuh tapi beruntung Narin selalu di samping nya dan membantu nya untuk bisa berjalan, sementara Hanan hanya mampu melihat Karen saja dan tidak mampu bertindak bahkan untuk meminjam kan bahu nya dia tidak mampu, karna perlahan Hanan juga sadar bahwa Narin sudah mulai bisa menerima takdir nya untuk selama nya hidup bersama Karen, hanya saja baik Karen atau pun Narin belum ada yang menyadari bahwa perasaan cinta mulai tumbuh di hati mereka.
"Tuan muda! antar kan aku kekamar ayah ku," pinta Karen kepada Narin setiba nya mereka di istana Wijaya, Narin pun memegang tangan Karen untuk membantu nya menaiki tangga dan setelah berada di kamar ayah nya Karen pun menangis di atas ranjang ayah nya, Narin pun meninggal kan nya sendirian karna Narin merasa bahwa sekarang Karen sebenar nya membutuh kan Hanan dan bukan dia.
Sementara di kamar Isna ke tiga parasit merasa sangat bangga dan bahagia, mereka mentertawakan kematian Herman dan merasa puas karna sudah berhasil menyingkir kan satu orang dengan aman.
"Setelah ini target kita adalah Romi Wijaya," ucap Isna dengan sangat yakin dan dia sangat bersemangat ingin menjadi penguasa harta keluarga Wijaya, Rico pun dengan serius bertanya kepada Isna.
"Apakah ibu punya rencana?"
"Untuk sekarang belum ada rencana dan kita akan menemukan celah itu nanti, aku yakin suatu hari nanti kita akan berhasil menguasai semua harta Wijaya." ucap Isna tanpa merasa bersalah sedikit pun atas kematian Herman.
"Tapi ingat! aku tidak mau Kaka Narin dalam bahaya karna aku sangat mencintai nya," ucap Lila dengan penuh semangat, trio parasit pun tertawa sambil berkhayal akan menjadi orang kaya dadakan.
__ADS_1
Di kamar nya, ayah Narin juga sangat terpukul dengan kejadian itu, dia bahkan tidak mau makan dan hanya memandangi foto Herman saja dalam kamar nya ketika Narin masuk.
"Apakah ayah mau makan di dapur atau aku bawakan makanan ke kamar ayah? ayah belum makan sejak tadi pagi," tanya Narin karna dia khawatir dengan kesehatan ayah nya.