Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda

Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda
Bab 29 Kehadiran Trio parasit.


__ADS_3

Kesokan pagi nya tepat nya jam 9 pagi, Trio parasit tiba di rumah keluarga Wijaya, pagi itu karna hari itu adalah Minggu semua orang berada di rumah dan mereka sibuk berolah raga sambil menikmati cahaya matahari di taman, ketika semua orang berada di taman mereka di kejutkan dengan bunyi bel di depan pagar, kemudian semua orang pun datang ke pagar untuk melihat siapa yang datang.


Setelah Ayah Narin membuka pagar untuk melihat siapa yang datang, ayah Karen terkejut dan berjalan mundur, Karen juga terkejut dan sepintas dia ingat hari perpisahan mereka 16 tahun yang lalu, tapi Karen tidak membenci ibu nya, karen memang masih ingat ketika ibu nya menendang wajah nya di hari terakhir mereka bertemu dan tanpa rasa benci atau pun dendam Karen memeluk ibu nya sambil berkata.


"Aku rindu ibu...," ucap Karen sambil menahan tangis nya dan memeluk ibu nya dengan erat tapi Isna segera melepaskan pelukan itu dengan alasan.


"Karen pelukan mu terlalu kuat, membuat ibu jadi sesak nafas."


Karen pun melepas kan pelukan nya, tapi Narin yang pandai faham kalau ibu nya sebenar nya tidak menyukai Karen, kemudian Narin berkata kepada Karen.


"Ayo sayang! kita ke kamar," sambil Narin memeluk Karen, ayah Karen juga berkata.


"Karen! pergi lah dengan Narin!" Karen bingung karna dia masih merindukan ibu nya, tapi senyuman manis Narin membuat Karen menuruti kata-kata Narin, kemudian mereka berdua pun pergi, sambil berjalan memeluk Karen, Narin pun melihat ke arah wajah Isna dan hati nurani Narin berkata bahwa dia tidak menyukai Isna dan berdo'a semoga Isna segera pergi.


Sepeninggal Karen dan Narin, ayah Karen bertanya kepada Isna.


"Apa yang kamu lakukan di sini?" ucap Herman dengan nada marah.


"Aku merindukan Karen mas!" sahut Isna seolah benar, tapi kenyataan nya sejak Karen kecil Isna tidak pernah menyayangi Karen dan sekarang dia juga lebih menyayangi kedua anak tiri nya.


"Sudah lah Herman! jangan marah dan jangan menyimpan dendam, bagaimana pun buruk nya dia di masa lalu, itu tidak akan bisa mengubah kenyataan bahwa dia adalah ibu kandung nya Karen dan kalau mereka mau aku akan izin kan mereka semua tinggal di rumah ini, toh rumah ini cukup besar untuk kita tempati bersama," ucap ayah nya Narin dengan sopan, Ayah Karen pun tidak bisa menolak kemudian berkata kepada Romi.


"Romi! Aku ada satu permintaan, ketika dia di rumah ini jangan di istimewa kan dan biar kan dia sebagai pembantu," Ayah Karen melihat ke arah Isna sambil berkata.

__ADS_1


"Dengar Isna! kalau kamu mau berada di rumah ini maka kamu harus mau menjadi pembantu dan jangan malas."


Isna mengangguk dan tanpa rasa malu trio parasit masuk ke dalam rumah bahkan sebelum tuan rumah mengundang nya untuk masuk dan Romi hanya tersenyum melihat kelakuan tamu nya kemudian Romi memegang pundak Herman.


"Aku khawatir dengan kehadiran Isna," ucap Herman.


"Kamu hanya sedang marah dan aku yakin rasa cemas mu itu tidak beralasan," Sahut ayah Narin dengan tenang, kemudian mereka berdua pun juga masuk ke dalam rumah dan ayah Karen berkata kepada Isna.


"Pergi ke dapur dan mulai membuat sarapan!"


ucap Herman.


"Dapur nya di mana mas?" tanya Isna.


Kemudian ayah Karen berjalan menuju dapur dan di ikuti oleh Isna dan Lila, setelah tiba di dapur ayah Karen berkata.


"Mulai lah memasak! dan jika pekerjaan mu tidak baik maka aku sendiri yang akan mengusir mu."


Setelah berkata begitu ayah Karen meninggal kan dapur dan menuju ke kamar Karen, ayah Karen sempat melihat di ruang tamu Romi sedang berbicara dengan Rico serius seperti bicara tentang pekerjaan tapi Herman tidak tertarik untuk masuk dalam pembicaraan mereka dan perlahan Herman menaiki anak tangga satu persatu dan ketika tiba di depan pintu kamar Narin dia mengetuk pintu, pintu di buka Narin kemudian ayah Karen melihat Karen menangis di atas ranjang nya dan ayah nya tahu itu karna ibu nya, kemudian Karen berkata kepada ayah nya.


"Ayah! aku tidak mau berpisah lagi dengan ibu ku!" tangisan Karen semakin keras dan Narin hanya berdiri di tembok untuk mendengar kan.


"Ayah tahu perasaan mu Nak! tapi apakah kamu lupa kalau sejak kamu kecil ibu mu bahkan tidak pernah perduli kepada mu dan dia juga tidak pernah bersikap baik kepada mu, bahkan ibu mu sering menterlantarkan kan mu dan tidak memberikan makan kepada mu karna ibu mu asik di rumah tetangga untuk ngerumpi, setelah sekian lama berpisah kemudian sekarang bertemu, menurut ayah seharusnya nya kamu jangan merasa rindu kepada ibumu karna ibumu tidak pernah memikirkan mu, " ayah nya berusaha berkata buruk tentang ibunya agar Karen menolak kehadiran ibunya.

__ADS_1


"Tapi biar bagaimana pun beliau adalah ibuku," sahut Karen sambil terus menangis, Narin pun faham tentang kesedihan istri nya kemudian dia pun berkata.


"Ayah! Karen! kita harap ibu sekarang sudah berubah dan benar-benar perduli kepada Karen dan ayah,"


Karen memeluk ayah nya sambil terus menangis, beberapa saat kemudian Karen diam karna tertidur, setelah mengetahui Karen tertidur, ayah Karen keluar dari kamar dan menemui Isna di dapur kemudian bertanya.


"Sebenar nya apa maksut kehadiran mu dalam hidup kami?" tanya Herman kepada Isna, tanpa merasa malu Isna mengingat kan tentang posisi nya.


"Mas! Karen juga anak ku dan aku juga berhak menikmati keberhasilan Karen!" mendengar jawaban itu ayah Karen mulai emosi lalu bertanya.


"Dan kebaikan apa yang sudah pernah kamu lakukan untuk Karen!"


"Mas! Tolong lupakan masa lalu! karna aku sekarang sudah berubah!" ucap isna dengan nada memelas, ayah Karen tahu percuma berdebat dengan Isna, karna sejak dulu Isna pandai berakting jadi dia memutus kan untuk pergi saja dan bukan nya meladeni Isna.


Makanan pun siap di atas meja saat jam makan siang dan semua orang makan di meja yang sama Karen memilih tempat duduk di samping ibu nya, dengan polos dia memenuhi piring ibu nya dengan berbagai macam makanan sambil berkata.


"Ibu makan yang banyak ya Bu!" ucap Karen sambil tersenyum kepada ibu nya dengan wajah polos nya, tapi ibu nya mengabaikan nya dan bicara tentang hal lain kepada Narin.


"Tuan muda! Bisakah tuan muda memberikan pekerjaan untuk Rico di kantor?" Isna memulai pertanyaan.


"Apa pendidikan terakhir mu?" tanya Narin sambil Narin memandang ke arah Rico dan dengan senyuman bahagia Rico menjawab.


"S1 Ka' dan aku sebelum nya juga pernah bekerja di sebuah perusahaan asuransi,"

__ADS_1


"Narin bagaimana dengan posisi bagian keuangan? Kalau tidak salah Pa' Riyan naik jabatan dan posisi itu sekarang sedang kosong kan?" ucap Romi kepada Narin.


__ADS_2