
1bulan kemudian, hari itu Ekre merasa tidak sehat kemudian dia memeriksa kan diri nya ke rumah sakit dan ternyata Ekre mengalami penyakit gagal ginjal yang harus di rawat di rumah sakit selama beberapa hari, kemudian Ekre menghubungi Aure dan meminta Aure untuk datang ke rumah sakit.
"Apa yang terjadi dengan mu Adik ku?" tanya Aure panik ketika melihat wajah Adik nya yang terlihat sangat pucat.
"Sudah beberapa bulan ini aku merasa kesehatan ku buruk dan setelah di periksa ternyata ada masalah dengan ginjal ku, Kaka apakah aku akan mati?" Ekre pun mulai menangis dalam pelukan Aure kemudian Aure berusaha menghibur nya.
"Jangan khawatir sayang, percaya pada ucapan Kaka bahwa kamu tidak akan mati sebelum Kaka."
"Kaka' aku tidak mau Ibu dan Raura tahu karna aku takut akan membahayakan kesehatan Ibu, Kaka tahu kan Ibu juga baru saja sembuh dan dua kali koma jadi aku takut jika Ibu tahu tentang sakit ku kemudian Ibu kita dalam bahaya lagi."
"Tapi bagaimana jika ibu mencari mu?"
"Tolong Kaka gantikan aku sebentar saja sampai aku sembuh,"
"Jika tentang pekerjaan mu aku bisa saja mengganti kan mu, tapi bagaimana tentang istri mu?" jawab Aure bingung mengingat diri nya adalah pria yang sangat suka bercinta.
"Apa pun itu tidak masalah bagi ku tapi aku mohon Kaka bisa merahasiakan tentang sakit ku." Ekre pun memohon sambil menangis karna dia merasa sangat sedih dan takut.
"Bagaimana kalau aku....! bagaimana cara aku menjelaskan kepada mu agar kamu faham tentang apa yang sedang aku fikir kan saat ini?" sahut Aure gugup.
"Kaka aku mohon." pinta Ekre sambil memelas.
"Bagaimana dengan pekerjaan mu?"
"Kaka jangan khawatir tentang hal itu karna pekerjaan ku tidak akan ada masalah meski aku tidak ada."
__ADS_1
"Baik lah! aku akan pulang ke rumah Ibu." sahut Aure dan membuat Ekre jadi tenang.
Aure pun terpaksa menginap di rumah Karen dan malam pertama dia di kamar bersama Raura, saat Aure berbaring di ranjang dan mulai memejamkan mata nya tiba tiba Raura secara tidak terduga meraba tubuh nya dan membuat Aure terperanjat memang benar Aure itu adalah play boy profesional, tapi dalam hal ini dia masih memiliki hati nurani yaitu tidak akan menodai kepercayaan adik nya terutama karna Aure sangat menyayangi Ekre lebih dari yang bisa di sadari Ekre, kemudian Aure beralasan.
"Aku sangat lelah karna hari ini pekerjaan ku sangat banyak jadi bisakah kamu membiar kan aku istirahat dengan tenang?" pinta Aure dengan lembut kepada Adik ipar nya, Raura memang wanita yang baik dan pengertian jadi dia pun menuruti permintaan Aure kemudian Aure meletakan guling di tengah ranjang sebagai tanda daerah perbatasan nya jangan di masuki dan mereka berdua pun bisa tidur dengan tenang.
Pagi itu Aure datang ke kantor Ekre dan dia mengumpul kan beberapa pekerjaan Ekre, kemudian membawa nya ke rumah sakit, sambil Aure mengerjakan di sertai arahan langsung dari Ekre sehingga pekerjaan Ekre bisa selesai dengan baik.
Malam ke dua Raura juga berusaha mengajak Aure untuk bermesraan tapi Aure beralasan.
"Aku merasa kepanasan jadi kita tunda saja rencana mu!" ucap Aure sambil dia membawa bantal nya ke sofa dan bermaksud tidur di sofa, AC di kamar sangat dingin sementara Aure malu menggunakan selimut karna dia tadi bilang dia sedang kepanasan sehingga dia tidur tanpa selimut dan menyiksa diri nya demi Adik nya.
Pagi nya Aure bersin-bersin dan merasa tidak sehat karna semalaman tidur tanpa selimut membuat nya masuk angin dan karna hal itu dia pun tidak bisa ke mana mana bahkan dia juga sedikit demam, Raura bermaksud merawat nya tapi dia menolak dan berkata.
"Panggil kan Kaka Kanza." Raura mengangguk, kemudian setelah 20 menit Kanza pun datang.
"Iya Kaka mau pergi sebentar lagi, apakah kamu butuh bantuan?" tanya Kanza sambil menyentuh kening Aure.
"Kaka tolong tutup pintu ada hal yang ingin aku ceritakan." Kanza pun menutup pintu dan mengunci nya kemudian Aure menceritakan keadaan Ekre.
"Ok nanti siang aku akan mengunjungi Ekre siapa tahu dia butuh bantuan."
"Kaka bantu Ekre."
"Jujur aku merasa tidak nyaman karna sudah menyimpan banyak rahasia dari Ibu, tapi aku memahami alasan kalian sehingga aku tidak heran dengan yang kalian lakukan, Kaka akan membantu kalian sebisa Kaka."
__ADS_1
"Terima kasih Kaka'" kemudian Kanza pun mengangguk lalu pergi dan di depan pintu Kanza berpapasan dengan Raura yang membawa kan makanan untuk Aure, Kanza pun berpesan kepada Raura.
"Jaga adik ku."
"Jangan khawatir ka!" kemudian Kanza pun tersenyum lalu pergi.
Siang itu Kanza datang mengunjungi Ekre di rumah sakit dan sama seperti penjelasan Aure bahwa alasan nya menyembunyikan sakit nya adalah demi menjaga kesehatan Karen, Kanza pun kemudian membantu Ekre menyelesaikan beberapa pekerjaan nya yang kemaren di bawa Aure dan ada di atas meja.
Sore itu Kanza mandi dan setelah selesai langsung masuk ke kamar Ekre kemudian Kanza bertanya.
"Bagaimana keadaan mu Adik ku?" tanya Kanza sambil melihat ke arah Raura kemudian Raura pun keluar karna dia ingin memberikan privasi untuk suami dan Kaka ipar nya.
"Sebenar nya keadaan ku sudah baikan ka' tapi aku pura-pura sakit saja agar malam ini Raura tidak mengganggu ku." sahut Aure setengah berbisik di telinga Kanza sehingga membuat Kanza tertawa.
"Apa yang kamu takut kan?"
"Aku tidak takut Ka' tapi aku tidak tega dengan Adik ku" ucap Aure sedih.
Raura pun datang membawa kan dua cangkir teh dan cemilan kemudian Kanza berkata kepada Raura.
"Raura apakah boleh kalau malam ini aku tidur di sini? adik kesayangan ku sedang sakit dan membuat aku sangat khawatir." dengan bingung Raura menjawab.
"I iya..." kemudian Raura pun keluar dan menemui Kolin, Raura bercerita kepada Kolin.
"Suami mu sangat aneh, coba bayangkan suami ku yang sakit lalu mengapa dia tidur di kamar bersama suami ku? apakah Kaka ipar meragukan kemampuan ku merawat suami ku?" ucap Raura setengah kesal.
__ADS_1
"Suami ku dan suami mu tumbuh bersama jadi aku tidak heran jika mereka saling perduli, tolong belajar lah memahami dan jangan mengeluh karna jika Ibu tahu keluhan mu takut nya Ibu akan menyulitkan suami kita." sahut Kolin dengan bijaksana karna dia merasa pasti ada alasan di balik tindakan suami nya.
Malam itu berjalan lancar dan Karen tidak tahu yang di lakukan anak anak-nya lalu malam ke empat pun datang.