
"Stop! berhenti! jangan mendekat." perintah Narin, tapi Karen tidak mau berhenti dan bertanya.
"Mengapa tuan muda sangat membenci saya? apa salah saya kepada tuan muda?"
"Aku tidak membenci mu, hanya saja setiap kali aku bersama mu aku selalu sial jadi aku berpikir lebih baik kamu menjauh dari ku." ucap Narin dengan wajah pucat karna dia mulai gugup, tapi Karen tidak terima di katakan pembawa sial lalu dia berkata.
"Akan saya buktikan bahwa saya bukan wanita pembawa sial untuk tuan muda."
Karen terus mendekat dan Narin melempar kan semua benda yang bisa dia raih saking panik nya Narin, dia lupa ada kabel yang rusak di ruangan nya itu lalu tangan nya menyentuh kabel itu, Narin pun kesetrum.
"Aaaaaa...." teriak Narin.
Karen sangat kaget karna mendengar teriakan Narin yang ternyata kesetrum, Karen buru-buru meraih file yang tebal di atas meja Narin lalu memukul beberapa kali tangan Narin yang menempel di kabel kemudian setelah lepas dari kabel itu Narin pun pingsan, dengan buru-buru Karen lari keluar untuk minta tolong lalu Narin pun di bawa ke rumah sakit dan ketika Narin sadar ada ayah nya di samping nya kemudian Narin bertanya kepada ayah nya.
"Dimana aku?"
"Kamu di rumah sakit karna tadi kamu kesetrum tapi beruntung ada Karen di ruangan mu sehingga dia bisa memanggil orang untuk segera membawa mu ke rumah sakit."
"Ayah...!" teriak Narin, kemudian ayah nya memotong ucapan Narin dengan berkata.
"Narin! kamu harus belajar cara berterima kasih kepada orang yang sudah menolong nyawa mu dan jangan lupa kamu bisa selamat karna bantuan nya, jadi jangan lupa ucap kan terima kasih kepada nya." Narin diam karna dia tahu ayah nya tidak akan mau mendengar kan cerita nya karna ayah nya pasti sudah mendengar cerita versi Karen.
Dari luar terdengar suara ketukan pintu kemudian pak Romi berkata.
__ADS_1
"Masuk!"
Kemudian Karen masuk dengan membawa sebuah karangan bunga lalu menyerah kan nya kepada Narin, kemudian Narin menerima nya dan karna ada ayah nya dia pun berpura-pura baik dengan berkata.
"Terima kasih sudah datang."
Sambil Narin memaksakan diri nya untuk tersenyum, kemudian Narin berpura-pura menghargai bunga itu dengan cara mencium bunga nya tapi tidak di sangka dari karangan bunga itu keluar lebah yang kemudian menggigit hidung Narin, diapun langsung melempar kan bunga itu sambil berkata dengan marah kepada Karen.
"Apakah kamu mau membunuh ku?"
"Emang ada ya? orang mati karna di sengat lebah?" sahut Karen dengan wajah polos nya, Narin pun mau bicara lagi tapi ayah nya berkata.
"Narin hentikan, jangan bertengkar lagi,sekarang kamu juga sedang di rumah sakit jadi sekalian saja kamu obati hidung mu itu."
"Apakah ayah melihat nya? wanita itu pembawa sial, dia selalu berusaha membuat ku dalam bahaya apakah ayah sadar dia berusaha membunuh ku, Ayah!"
"Ayah tidak melihat dia melakukan nya dengan sengaja karna yang ayah lihat kamu hanya sedang salah faham." sahut ayah nya sambil tertawa.
"Ayah! wanita itu pernah bekerja di toko bunga aku sangat yakin dia dan lebah sebenar nya sudah lama berteman, aku semakin yakin lebah itu tadi di suruh nya bersembunyi kemudian keluar setelah melihat aku, kemudian menggigit hidung ku sesuai perintah Karen." sahut Narin lagi dengan bertambah kesal, membuat ayah nya semakin heran dengan penjelasan Narin kemudian serius bertanya.
"Narin! jangan bilang sengatan lebah tadi mengganggu otak mu juga? imajinasi mu seperti nya sudah mulai berlebihan,"
Narin hanya mampu diam dalam kesal, dia berhenti berbicara lalu mengambil ponsel nya untuk melihat hidung nya dengan kaca ponsel nya.
__ADS_1
"Hidung mu jadi lebih mancung." ucap ayah nya dengan nada bercanda, setelah berkata begitu kemudian ayah nya keluar dan Narin pun sendirian.
*****
Beberapa hari kemudian Narin duduk di sofa di ruang tunggu di kantor nya, dia melihat Karen sedang bersih-bersih, di tangan nya Karen juga membawa ember berisi air untuk mengepel lantai, Narin pun mengambil koran lalu berpura-pura tidak melihat Karen, Narin berusaha mengabaikan nya karna takut sial kemudian Karen lewat di depan Narin dan Narin pun menjahili Karen dengan mengangkat kaki nya ketika Karen lewat di depan nya, sehingga Karen pun terjatuh karna menabrak kaki Narin, air yang di bawa nya pun juga tumpah memenuhi sebagian ruangan.
"Waah..., kamu terjatuh ya? makanya lain kali hati hati ya?" tanya Narin dengan nada sangat puas.
"Tega sekali tuan muda melakukan hal seperti ini kepada saya," sahut Karen dengan kesal bahkan hampir menangis karna malu di lihat banyak orang, tapi dengan bangga Narin berkata.
"Suka-suka aku Doong, ini kan kantor milik ayah ku yang artinya milik ku juga."
"Semoga suatu hari nanti tuan muda juga terjatuh, maka tuan muda akan tahu seperti apa rasa nya terjatuh." Karen yang marah mengutuk nya.
"Kau mengutuk ku ya? tapi aku tenang karna aku sudah mulai faham yaitu jarak sial mu adalah kurang dari 3 meter dan selama kamu dan aku berjarak lebih dari 3 meter maka aku yakin aku sangat aman." sahut Narin dengan sombong dan sangat yakin kemudian Karen berkata lagi.
"Satu hal yang harus tuan muda tahu, yaitu do'a orang yang teraniaya akan di Kabul kan Tuhan," ucapan Karen di abaikan Narin kemudian Narin berdiri dan bermaksud mau pergi, sambil berjalan mundur mengolok-olok Karen.
"Aku sangat kasihan kepada mu." ucap nya sambil berjalan, tapi karna Narin berjalan mundur dia tidak melihat ketika kaki nya menginjak ember, karna kaget dan di tambah lantai licin karna genangan air, Narin pun terjatuh juga di lantai, pakaian Narin juga basah kemudian Karen memalingkan wajah nya berpura-pura tidak melihat kejadian itu, Narin pun segera melihat ke arah karen, tapi Karen sudah membelakangi nya dan Karen sudah berdiri, sial nya lagi ketika Narin masih duduk di lantai disaat yang sama ayah nya keluar dari lift, melihat kelakuan Narin kemudian dengan heran ayah nya bertanya kepada Narin .
"Narin! mengapa mainan air disini? Seperti anak kecil saja, malu di lihat orang Nak!"
"Tau nih! tuan muda ada-ada saja kelakuan nya." Sahut Karen seperti tanpa merasa bersalah karna memang bukan salah dia.
__ADS_1
Kali ini Narin hanya diam, dia tidak mau berbicara apapun, ayah nya juga langsung pergi, Narin pun berdiri lalu langsung pergi juga ke tempat parkir karna berniat pulang untuk mengganti pakaian nya.