
Kemudian karen menghentikan pura-pura menangis nya dan melanjut kan mengupas apel sambil bertanya kepada Narin.
"Janji?" sambil Karen memandangi wajah Narin dengan banyak harapan.
"Iya aku janji!" kemudian Narin duduk di samping karen.
"Sini aku bantu kamu mengupas dan memotong apel," ucap Narin, kemudian Karen menyerah kan apel dan pisau nya kepada Narin lalu Narin pun membantunya memotong apel.
Keesokan pagi nya mereka pun pergi jalan-jalan dengan mobil, tapi di tengah jalan mobil nya mogok kemudian Narin pun menelpon pembantu nya.
"Siti," ucap Narin setelah panggilan nya tersambung.
"Ya tuan, apakah tuan butuh sesuatu?" tanya Siti.
"Tolong hubungi bengkel dan minta dia datang ke tempat ku sekarang karna sekarang ada masalah dengan mobil ku," sahut Narin
"Baik tuan! dan di mana lokasi tuan sekarang?" tanya Siti lagi, Narin melihat ke sekeliling nya kemudian berkata.
"Ada bertulisan menuju pantai kuta,"
"Baik tuan! saya akan memberi tahu montir untuk datang ke lokasi itu," sahut Siti, kemudian panggilan pun di akhiri Narin.
Karen dan Narin menunggu dengan bosan terutama Karen, Narin masih bisa duduk tenang di atas mobil nya dan masih sabar, sebalik nya karen berkeliling entah berapa kali dia melompat mengelilingi mobil Narin sampai Narin yang melihat nya saja merasa bosan dan lelah, saking bosan nya Narin pun berkata kepada Karen.
"Karen duduk lah dengan tenang dan mengapa kamu seperti kera tidak bisa diam, lompat sana, lompat sini!"
Karen pun bertanya serius kepada Narin dengan ekspresi wajah cemas.
"Apakah tuan muda tidak khawatir? jika mobil nya tidak bisa berjalan lalu bagaimana kita akan pulang?"
"Jalan kaki!" sahut Narin dengan wajah serius tapi sebenar nya dia hanya sedang berusaha menggoda Karen.
"Mengapa tuan muda tidak memperbaiki nya saja sendiri?" tanya Karen.
__ADS_1
"Aku tidak bisa karna itu bukan bidang ku, dan kamu tahu kan tentang pekerjaan ku?" sahut Narin dengan nada kesal karna merasa di remeh kan Karen.
"Tuan muda pandai dan kenapa tidak tuan gunakan otak tuan untuk mencoba nya?" seolah sengaja mau membuat Narin tambah kesal, entah apa yang ada di pikiran Narin yang pasti dia sangat kesal dan asal bicara.
"Memang nya aku harus menggunakan otak ku bagaimana? dan mengapa tidak kamu gunakan saja handuk mu itu!"
Kemudian Narin menutup mulut nya dengan tangan nya sendiri, Karen pun duduk tersipu malu di atas aspal dan tidak berani lagi memandang ke wajah Narin, Narin juga tidak meneruskan perdebatan lagi.
30 menit kemudian, Gabut nya Karen datang lagi, dia mulai berguling-guling lagi di atas aspal, kemudian Narin masuk ke dalam mobil lalu keluar dengan membawa buku dan pulpen kemudian Narin mendekati Karen.
"Karen! sini aku gambar kan peta kediaman keluarga Wijaya," ucap Narin, Karen pun melihat ke arah kertas yang di bawa Narin kemudian Narin menjelas kan secara detail tentang rumah nya, memang benar Karen seolah sangat menyimak penjelasan Narin tapi sebenar nya Karen sangat kebingungan karna seperti nya otak Karen tidak siap menerima penjelasan Narin yang melebihi memory otak nya bisa di bilang penjelasan Narin berjumlah 2 GB tapi otak Karen hanya mampu menampung 5MB, tetapi sisi baik nya dia bisa diam dan tidak seperti cacing kepanasan lagi.
Karen Hanya bisa berkata.
"Oooo....," terlihat jawaban nya sangat mantap kemudian Narin bertanya.
"Sudah faham kan?" sambil Narin melihat ke wajah Karen tapi secara tidak di duga Jawaban Karen adalah.
"Engga!" sebagai lampiasan kekesalan Narin maka pulpen di tangan nya patah.
"Seperti nya penyakit karen sudah menular kepada ku." ucap nya dalam hati.
Kemudian mereka batal jalan-jalan tapi langsung pulang kembali ke rumah.
Malam itu Narin dan Karen bertemu di meja makan lalu Narin berkata.
"Karen! besok kita kembali ke rumah dan jangan lupa malam ini kamu berkemas, ingat jangan sampai ada barang yang ketinggalan karna aku tidak berencana kembali lagi ke sini."
Karen hanya mengangguk saja karna mulut nya penuh dengan makanan dan keesokan hari nya mereka meninggal kan rumah itu dan sore hari mereka tiba di rumah utama keluarga wijaya, melihat wajah ayah nya Karen langsung memeluk ayah nya sambil berkata.
"Aku merindukan ayah!"
"Mengapa kalian hanya sebentar berbulan madu?" tanya ayah nya.
__ADS_1
"Karna aku merindukan ayah," sahut Karen
Narin pun juga memeluk ayah nya tapi tentu saja Narin tidak selebay Karen yaitu hanya memeluk kemudian bertanya.
"Ayah apa kabar?"
"Baik!"
Narin melepaskan pelukan nya kemudian dia membawa tas menaiki tangga menuju ke dalam kamar nya, kemudian di ikuti Karen dari belakang sambil berkata.
"Tuan muda tunggu."
Melihat pemandangan itu kedua senior berpikir Narin dan Karen sudah sangat akur sehingga selalu ingin bersama dan sulit berjauhan bawaan nya selalu ingin nempel saja.
Keesokan hari nya, di meja makan saat semua orang berkumpul untuk sarapan ayah Narin mengusul kan untuk piknik keluarga dan ayah Karen setuju, keesokan pagi nya mereka berempat piknik ke danau.
Karen mau naik bebek yang di sewakan di danau dan ayah Narin berkata.
"Narin kamu pergi bersama Karen," Narin pun sempat menolak.
"Aku malas ayah." ucap nya.
"Ingat warisan!" sahut ayah nya dengan tegas kemudian dengan tidak bersemangat Narin pun menyusul Karen lalu ikut naik perahu bebek bersama Karen tapi sampai di tengah danau Karen dan Narin bertengkar.
"Mengapa kamu sangat merepot kan? pakai naik bebek segala!" ucap Narin dengan kesal.
"Aku tidak memaksa tuan untuk ikut." sahut Karen.
"Kamu harus tahu di situasi seperti ini warisan ku adalah taruhan nya!" mendengar itu Karen semakin kesal dan berkata.
"Kenapa tuan muda tidak membuat alasan ketika tuan tidak mau ikut!"
"Mengapa bukan kamu saja yang membuat alasan?" sahut Narin dengan kekesal yang bertubi-tubi.
__ADS_1
"Di mata tuan aku selalu saja salah, kapan tuan sadar semua kesalahan justru berawal dari tuan, kalau bukan karna ayah ku yang pernah menolong tuan dari kecelakaan semua ini tidak akan terjadi dan aku tidak akan terjebak bersama tuan dalam hubungan palsu ini,"
"Dan kenapa kamu harus hidup dengan tujuan untuk menghancurkan hidup ku? seandai nya kamu tidak pernah lahir maka hidup ku akan lebih baik lagi." sahut Narin sambil berteriak.