Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda

Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda
Bab 66 Rasa yang aneh.


__ADS_3

Tapi ketika Narin mencium leher Kolin kemudian Narin pun tersentak kaget karna dia merasa aroma tubuh Kolin persis seperti aroma tubuh Karen, hati Narin pun kacau dan dia kehilangan semangat nya di depan Kolin kemudian Narin duduk di ranjang nya dengan wajah yang di liputi banyak pertanyaan tapi seperti tidak ada jawaban nya.


Kolin pun mendekati Narin kemudian menyentuh pundak Narin, membuat Narin terkejut, Narin langsung berkata kepada Kolin.


"Kenakan pakaian mu dan duduk lah dengan tenang." ucap Narin dengan wajah yang masih belum tenang dan di liputi kegelisahan, baru kali ini Narin merasa kehilangan nafsu nya di depan perempuan.


Selagi Narin masih melamun Kolin pun memakai pakaian lengkap nya kemudian dia mendekati Narin lalu duduk di samping Narin dan dengan heran Kolin bertanya.


"Apakah tuan tidak menyukai saya?" tanya Kolin dengan heran karna dia tahu selama ini tidak ada pria yang tidak menyukai tubuh nya.


Narin pun berbaring di ranjang nya dan Kolin juga berbaring di samping nya kemudian Narin bercerita.


"Karen adalah mantan istri ku dan dia adalah cinta pertama ku, kami memiliki 3 anak tapi anak pertama kami meninggal dunia akibat kebakaran di rumah sakit ketika masih berusia 5 jam, bahkan Karen belum sempat melihat wajah bayi nya yang membuat Karen sangat sakit hati adalah bayi nya hangus dan bisa kah kamu membayangkan hati seorang ibu yang melihat bayi nya yang hangus? kejadian itu membuat mental Karen lemah dan dia lupa cara makan, dia lupa cara berjalan dan selama hampir setahun dia tidak makan dan hanya hidup tergantung pada jarum infus saja, badan nya kurus dan dia tidak mau berbicara dan aku..." Narin menangis dan dia tidak menerus kan cerita nya kemudian dia mengambil ponsel nya dan menunjukan foto saat kondisi Karen buruk karna kematian bayi nya dan tanpa di sadari air mata Kolin keluar dari mata nya ketika dia melihat foto dan Vidio Karen yang seperti tengkorak, hanya tulang di balut kulit tanpa terlihat ada daging di tubuh nya.


"Seorang ibu yang malang." gumam Kolin sambil tersedu-sedu.


"Kehidupan ku juga sangat buruk, menurut cerita nyonya ku, aku di temukan di dalam tong sampah, aku di buang karna ibu ku yang tidak mengingin kan kehadiran ku, kemudian nyonya menemukan ku dan merawat ku, dia yang membesarkan ku, seumur hidup ku aku tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah, aku hanya belajar membaca dan menulis dari para pelacur di rumah bordil, lalu oleh nyonya ku, aku di paksa menjadi pelacur sejak usia 14 tahun, aku terpaksa tidur dengan pria yang berbeda setiap malam dan aku tidak berdaya melawan takdir ku karna aku tidak punya tempat lain untuk di tuju." Kolin pun kemudian menangis, Narin pun dengan ragu menghapus air mata Kolin kemudian Narin berkata.

__ADS_1


"Tidur lah dan berusaha lah agar tubuh mu jangan menyentuh tubuh ku, entah mengapa hati nurani ku melarang ku melakukan hal seperti itu kepada mu." ucap Narin masih dalam keheranan karna dia kehilangan nafsu nya ketika mencium aroma tubuh Kolin.


Kolin dan Narin pun tertidur di ranjang yang sama tapi sampai pagi tidak ada yang bergerak, Kolin bangun sebelum Narin kemudian Kolin pergi ke kamar mandi, mendengar kran air terbuka Narin terbangun dan bertanya.


"Kolin! apakah kamu mandi?"


"Iya! apakah tuan mau ikut mandi bersama ku?" tanya Kolin serius.


"Bukan begitu, tunggu! aku akan mencari baju ganti untuk mu dan ingat lah jangan keluar t*l*nj*ng di depan ku." ucap Narin, kemudian Narin keluar kamar lalu masuk ke kamar Ningsih lalu membuka lemari Ningsih, dengan heran Ningsih bertanya.


"Apa yang kamu cari?"


"Kolin! baju ganti mu aku letakan di atas kasur dan aku akan keluar."


"Ya Tuan!"


Narin pun keluar dan pergi ke kamar Aure, Aure pun terkejut ketika melihat ayah nya masuk ke kamar nya, dan memakai kamar mandi nya untuk mandi dan karna penasaran Aure pun bertanya.

__ADS_1


"Apakah air di kamar ayah habis?"


"Ada wanita yang sedang mandi di kamar ayah jadi ayah mandi di tempat mu." sahut Narin, tapi justru membuat Aure keheranan karna ayah nya seorang play boy kelas hiu, yang rasa nya mustahil jika ayah nya menjaga jarak dengan wanita, rasa penasaran yang dalam mengganggu hati Aure karna dia ingin segera tahu wanita seperti apa yang di takuti ayah nya itu.


Aure pun masuk ke dapur untuk sarapan lalu dia makan roti selai kacang, kemudian datang lah Kolin yang juga merasa lapar Aure memandangi Kolin tapi Kolin mengabaikan Aure, tanpa basa basi Kolin langsung mengambil roti dan memakan nya juga, kemudian Aure menyerahkan selai kacang kepada Kolin tapi Kolin menggelengkan kepala nya, datang lah Narin yang juga mengambil roti tanpa melihat ke mana pun, Narin langsung makan roti dan minum di saat Narin minum Aure bertanya.


"Apakah aku nanti akan memanggil nya ibu?" tanya Aure kepada ayah nya sehingga membuat Narin tersedak kemudian Narin melihat ke wajah Kolin dan berkata.


"Kolin! pergilah nanti bersama anak ku ke mall dan belilah beberapa baju untuk mu." setelah berkata begitu Narin pun langsung pergi meninggal kan dapur.


Aure memandang tajam ke arah Kolin, karna merasa sedang di pelototi Kolin pun mencoba memberanikan diri nya untuk bertanya.


"Apakah ada yang ingin kamu katakan?"


"Aku tidak pernah mengenal mu, dan aku tidak pernah melihat mu sebelum nya, tapi aku heran mengapa di hati ku merasa aku sangat merindukan mu? rasa yang berbeda seperti rasa ketika aku melihat wanita pada umum nya, kekaguman ku seperti rasa hormat dan juga rasa ingin menjaga mu, siapa kamu sebenar nya?" tanya Aure dengan rasa penasaran karna dia merasa hati nya sudah dekat dengan Kolin seolah Kolin adalah wanita yang lama dia rindukan.


Kolin pun hanya diam karna wanita yang tidak pernah tersenyum seperti Kolin tidak akan faham rasa rindu dan cinta dia hanya memiliki penasaran yang tinggi pada Narin dan dia merasa heran karna baru sekali seorang pria menolak tubuh nya.

__ADS_1


"Bersiap lah! kita pergi ke mall setelah sarapan." ucap Aure sambil berdiri dan pergi meninggal kan dapur.


Kolin pun selesai sarapan lalu dia berjalan memutari rumah itu dan menemukan Aure yang duduk di sofa, seperti sudah siap untuk berangkat setelah melihat kedatangan Kolin Aure pun tersenyum lalu berdiri, di saat yang sama datang Ningsih yang baru keluar dari kamar nya dan melihat Aure sudah siap untuk pergi, Ningsih heran karna sangat jarang Aure pergi di siang hari karna Aure hanya banyak aktif di malam hari, Ningsih pun memberanikan diri nya untuk bertanya.


__ADS_2