
Suatu pagi, Ningsih melihat pembantu mengepel lantai dan ada telepon rumah di samping sofa di ruang tamu sedang berdering, kemudian pembantu menerima telepon dan itu dari Roy, Roy mengatakan kepada pembantu bahwa tadi Roy sudah berulang kali menelpon di ponsel Karen tapi tidak di angkat karna Karen tertidur dan ponsel Karen menggunakan mode senyap, kemudian pembantu naik ke kamar atas untuk menyampai kan kepada Karen bahwa Roy menelpon nya, pembantu nya tidak ikut turun karna membereskan kamar Karen dan saat pembantu nya naik, Ningsih mengambil kain pel dan pura-pura mengepel, tidak lama Karen pun datang ke ruang tamu dan sempat melihat Ningsih mengepel, tapi karna Karen malas menyapa nya jadi dia abaikan saja lalu berbicara dengan Roy tentang Kanza dan tidak lama kemudian Narin datang dari luar dan melihat Ningsih mengepel, Narin juga melihat Karen duduk santai di sofa sambil berbicara di telpon, kemudian Narin menghampiri Ningsih dan bertanya.
"Istri ku! apa yang kamu lakukan? di rumah ini banyak pembantu tapi mengapa kamu yang harus mengepel lantai?" mendengar pertanyaan itu Ningsih melirik ke arah Karen dan Narin faham maksut Ningsih, yaitu Narin yang tidak tahu kisah sebenar nya langsung menyalahkan Karen lagi.
"Karen! apa maksut mu menyuruh istri ku mengepel lantai?" bentak Narin.
"Apa maksut mu?" tanya Karen heran, kemudian Karen berkata kepada Roy.
"Nanti ku hubungi lagi." setelah menutup telepon kemudian Karen berjalan mendekati Ningsih dan bertanya kepada Ningsih.
"Apakah kamu mengadu kepada Narin bahwa aku yang menyuruh mu mengepel?"
Ningsih melirik ke arah Narin dan Narin berkata.
"Jangan takut sayang." sambil Narin mencium kening Ningsih, kemudian Ningsih seolah memiliki keberanian dan berkata.
"Bukan kah tadi kamu bilang kalau aku jangan numpang gratis di rumah ini dan aku harus bekerja." tanya Ningsih kepada Karen.
"Jaga ucapan mu dan jangan memfitnah ku!" sahut Karen sambil menampar wajah Ningsih dengan keras.
"Karen!" ucap Narin, seraya mendorong tubuh Karen dan Karen terjatuh di lantai, kemudian Ningsih menangis dalam pelukan Narin sambil berkata.
__ADS_1
"Tidak masalah meski aku di perlakukan seperti pembantu di rumah ini yang penting aku bisa bersama mu karna aku sangat mencintai mu sayang." ucap Ningsih dalam pelukan Narin kemudian Narin mencium kening istri nya dan berkata.
"Ayo sayang, kita ke kamar dan lain kali abaikan saja perintah Karen karna kamu juga adalah Nyonya di rumah ini." setelah itu Narin menggendong Ningsih menuju kamar dan Karen berbaring di lantai dengan air mata yang mengalir, tubuh nya seperti tidak berdaya untuk pergi ke tempat lain.
*****
Pagi itu adalah hari ulang tahun Ningsih, tapi Ningsih tidak melihat Narin di kamar, lalu dia pergi ke ruang tamu dan di ruang tamu sudah ada Karen bersama anak-anak nya yang sedang sibuk mengerjakan tugas kerajinan sekolah nya si kembar.
Ningsih melihat sekeliling tapi dia tidak menemukan Narin, di saat Ningsih mau berjalan ke dapur, Narin datang dari pintu dan Narin memberikan baju yang baru dia beli untuk Ningsih, baju mahal dan mewah seperti itu baru kali ini di lihat oleh Ningsih .
"Sayang! malam ini aku akan mengajak mu makan di restoran mewah dan kamu pakai gaun ini, dan ponsel ini adalah hadiah ulang tahun dari ku untuk mu," ucap Narin dengan penuh kasih sayang.
"Terima kasih suami ku, aku sangat mencintai mu." sahut Ningsih, dia terlihat sangat bahagia, tapi kebahagiaan nya dia ubah menjadi masalah yaitu, Ningsih melihat lagi ke arah Karen dan si kembar yang sedang mengerjakan tugas sekolah nya si kembar dan di tangan Karen memegang gunting kemudian Ningsih bertanya kepada Narin.
"Entah lah, seperti nya dia sedang membantu anak-anak nya mengerjakan tugas sekolah, lihat saja di tangan nya juga memegang gunting." sahut Narin cuek, kemudian Narin pergi ke kamar dan Ningsih duduk di sofa memperhatikan Karen, tapi Karen mengabaikan keberadaan Ningsih dan tidak merespon nya.
Setelah tugas sekolah selesai, Karen meletakan gunting itu di atas meja lalu pergi ke dapur dan Ningsih mengambil gunting itu kemudian baju baru nya dia gunting dan dia rusak, setelah Ningsih selesai merusak baju nya dia meletakan baju yang hancur itu bersama gunting yang di sembunyikan dalam lipatan baju nya di dalam kamar Karen di atas ranjang Karen dan saat itu Karen masih berada di dapur, setelah itu Ningsih masuk ke dalam Kamar nya menemani Narin.
Karen terkejut ketika dia masuk ke kamar nya dan melihat baju yang tadi di beli kan Narin untuk madu nya ada di kamar nya, kemudian Karen mengambil baju itu dan berjalan menuju Kamar Narin dan dia mengetuk pintu kemudian Ningsih membuka pintu dan bertanya.
"Ada apa Karen?" Karen tidak menjawab hanya langsung menyerahkan baju lalu berniat untuk pergi dan dengan sengaja Ningsih memegang ujung baju nya agar lipatan baju nya terbuka dan gunting nya terjatuh, kemudian Ningsih pura-pura terkejut.
__ADS_1
"Apa yang terjadi?" Ningsih menangis dan Narin juga langsung mendekati Ningsih.
"Apa yang terjadi sayang? mengapa baju baru mu jadi seperti ini?" tanya Narin kepada Ningsih dengan heran.
"Tanya Karen." ucap Ningsih dengan suara tangisan semakin keras.
"Bukan aku yang merusak baju itu!" sahut Karen berusaha membela diri.
"Tapi tadi baju ini dari kamu." sahut Ningsih dan Narin juga melihat ke wajah Karen dengan tatapan curiga.
"Apa maksut mu melihat ke arah ku? apakah kamu sedang menuduh ku juga?" tanya Karen kepada Narin.
"Hanya kamu yang tidak menyukai ku di rumah ini dan hanya kamu yang bisa di curigai." ucap Ningsih dengan emosi.
"Sudah! hentikan! Karen katakan dengan jujur mengapa kamu tega merusak baju istri ku?" tanya Narin dengan emosi kepada Karen.
"Aku tidak tertarik untuk melakukan hal seperti itu!" sahut Karen lagi.
"Mungkin Karen iri dengan baju baru ku." ucap Ningsih.
"Tidak ku sangka kamu tega melakukan hal seperti ini! apa salah istri ku kepada mu sehingga kamu tega membuat istri ku menangis!!!" bentak Narin kepada Karen yang sedang emosi dan secara tidak sadar tangan Karen mendarat di pipi Narin kemudian.
__ADS_1
"Aku tidak percaya kalau kamu juga ikut menuduh ku! jika tidak ada lagi kepercayaan di antara kita maka biar kan semua nya berakhir sekarang." ucap Karen dengan tegas dan kali ini dia mampu bertahan dan tidak menangis, Narin memegang pipi nya yang sakit, kemudian Karen berjalan meninggal kan tempat itu dan pergi ke kamar nya, di kamar itu dia tidak mampu lagi menahan air mata nya dan dia pun menangis meratapi nasib buruk nya.