
Keesokan pagi nya, seorang pria bernama Riyadi datang ke bar untuk menemui Isna dengan membawa tas berisi uang 200 juta dan Isna memang sudah lama mengenal Riyadi yaitu salah satu tamu VIV nya juga.
Riyadi masuk kemudian duduk di sofa, Isna pun menempel pada Riyadi, genit nya Isna bertambah lagi ketika Riyadi membuka tas yang dia bawa dan Isna melihat tumpukan uang membuat mata Isna langsung berwarna warni.
"Jumlah nya 200 juta dan bos ku menyuruh ku untuk menyewa Kolin selama 2 bulan." ucap Riyadi sambil dia mengeluarkan isi tas nya dan menumpuk nya di atas meja.
"Lila! panggil kan Kolin!" perintah Isna sambil memeluk dan menciumi uang yang ada di depan nya dengan sangat bahagia, bahkan gigi nya sampai kering karna bibir nya terus terbuka lebar.
Kolin pun datang kemudian melihat ke wajah Riyadi dengan pandangan kesedihan karna arti nya dia tidak bisa lagi bertemu Kanza, Kolin memang mengenal Riyadi karna Riyadi adalah kekasih nya Sisilia yaitu teman sekamar nya yang bekerja di bar juga, jadi Kolin melihat ke arah Sisilia yang terlihat kecewa karna dia tidak terpilih untuk di sewa karna semua wanita lebih suka bekerja di luar bar dan bukan di dalam bar.
Kolin pun menyiap kan diri nya untuk kepergian nya dan tidak lupa dia juga membawa pil untuk mencegah kehamilan,apa lagi ini adalah kepergian nya dalam waktu yang lebih lama dari biasa nya karna biasa nya hanya 1 bulan saja Isna mau menyewakan semua anak buah nya dan ini pertama kali ada yang menyewa sampai 2 bulan.
Setelah persiapan selesai Riyadi pun masuk ke dalam mobil dan di susul oleh Kolin, kemudian di tengah perjalanan ketika melewati kost nya Kanza Kolin pun memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Tuan! apakah kita bisa mampir sebentar di kost yang ada di gang sana! ada seseorang yang ingin aku temui dan ini tidak akan lama." pinta Kolin, tapi suara yang di radio mengatakan.
"Langsung pulang! dan jangan mampir kemana pun." jawab nya dengan tegas, membuat Kolin terkejut karna dia tidak mengetahui kalau sejak tadi telpon di dalam mobil itu terhubung dengan seseorang yang entah siapa.
__ADS_1
"Baik tuan!" sahut Riyadi.
Mobil pun terus berjalan dan setelah 2 jam mobil tiba di sebuah rumah yang sangat besar kemudian Riyadi turun dari mobil, Kolin pun juga mengikuti nya dari belakang, Riyadi menaiki tangga kemudian memasuki sebuah kamar yang sangat luas dan mewah dengan ranjang yang sangat besar yang juga sangat indah di tambah perabotan lain nya yang juga serba mewah kemudian Riyadi berkata.
"Kamu istirahat saja dan tunggu tuan ku datang malam ini," ucap Riyadi lalu Kolin pun memberanikan diri nya untuk berkata.
"Tuan! maaf, apakah saya bisa minta tolong?"
"Katakan Nona!"
Kolin pun melihat ada banyak kertas kosong dan pulpen di atas meja kemudian Kolin menulis surat lalu melipat nya kemudian menyerah kan kepada Riyadi dan berpesan.
"Tolong tuan pasti kan surat itu langsung di serahkan kepada pria yang bernama Kanza." ucap Kolin dengan sedih, kemudian Riyadi mengangguk dan meninggal kan Kolin sendirian dalam kamar itu.
Riyadi pun datang ke kantor nya Kanza dan menyerahkan surat Kolin kepada Kanza kemudian Kanza membuka lalu membaca nya.
"Kanza! hari ini dan sampai 2 bulan aku tidak bisa menemui mu dan aku rasa kita tidak akan bertemu lagi karna aku merasa tidak pantas untuk mu, aku adalah wanita hina dan aku minta maaf karna telah mencintai mu," Kanza menggenggam surat itu dan dalam hati nya dia bahagia karna ternyata Kolin juga mencintai nya,bagi Kanza asal usul dan status Kolin tidak lah penting karna Kanza percaya Kolin adalah wanita yang terbaik bagi nya, Kanza bergegas menyelesaikan pekerjaan nya agar bisa segera menemui Kolin yang sangat dia rindukan.
__ADS_1
Di kamar, Kolin sangat mengagumi semua barang-barang yang ada di dalam kamar itu dan juga selimut nya yang lembut, AC nya yang sejuk, di tambah aroma pewangi ruangan dengan bau mawar yang lembut membuat mata Kolin mengantuk lalu Kolin pun tertidur.
Jam 5 sore Kolin terbangun dan dia terkejut karna di depan nya ada 2 pelayan yang berdiri di samping ranjang nya kemudian pelayan itu berkata.
"Selamat sore nyonya, kenal kan nama saya Wanda dan ini teman saya Tania, kami ingin bertanya apakah nyonya mau makan sekarang atau mau mandi dulu? jika nyonya mau makan kami akan menyiap kan nya di meja makan." sapa pelayan itu dengan sopan.
"Aku mau mandi dulu," sahut Kolin dengan bingung dan salah tingkah karna di panggil nyonya.
Setelah selesai mandi pelayan itu juga masih ada di kamar dan berkata.
"Semua hidangan sudah di siap kan di meja makan di dapur atau apakah nyonya mau makanan nya di bawa kemari?"
"Tidak perlu merepotkan, aku yang akan datang," jawab Karen yang merasa tidak faham di perlakukan seperti itu.
"Kalau begitu silahkan nyonya ikuti saya," Kolin pun mengikuti pelayan itu dari belakang dan dia tiba di meja makan, Kolin terpesona dengan berbagai macam hidangan yang terlihat mewah, juga terlihat sangat enak sehingga Kolin berniat untuk memakan semua nya dan benar saja Kolin memang banyak makan sama seperti ibu nya yang juga suka makan walau pun tubuh nya kecil dan kurus.
Setelah selesai mencicipi semua hidangan kemudian Kolin pun kembali ke kamar tempat tadi dia di antar oleh Riyadi dan Kolin pun kembali tertidur.
__ADS_1
Jam 8 malam pintu di kamar itu terbuka memang suara nya pelan tetapi membuat Kolin terbangun dan mulai tegang karna berfikir mungkin saja yang menyewa nya adalah seorang pria bule atau pria tua atau pria yang gemuk terlalu banyak atau dalam fikiran Kolin tapi dia masih berpura pura tidur dan belum siap untuk melihat siapa tuan nya.
Aroma harum dari farfum pria itu membuat Kolin ingat Narin yang juga memiliki aroma yang persis seperti itu, rasa rindu Kolin kepada Narin datang meski bukan rindu sebagai kekasih tapi perasaan Kolin tidak bisa di bohongi bahwa dia tidak mampu melupakan Narin.