
"Apa-apa an mereka ini?" umpat Hannan dalam hati, karna tidak terima dengan keputusan Karen maka Narin pun langsung berkata.
"Seharus nya laki-laki yang di atas dan perempuan yang di bawah begitu lah sejarah nya." Karen kesal karna merasa di rendah kan lalu dia berteriak.
"Aku tidak perduli dengan sejarah."
Narin pun kemudian menarik tangan Karen agar karen segera turun dari ranjang dan Karen juga menendang Narin lalu mereka pun kemudian saling mendorong dan saling tarik menarik tidak di sangka ranjang pun rubuh papan ranjang patah dan juga rusak, karna habis kesabaran Hanan dia pun berteriak.
"Menyebalkan, sebenar nya mau bicara dengan ku atau tidak? ini sudah malam dan aku lebih baik tidur." Karen terkejut mendengar suara teriakan Hanan lalu dia berkata.
"Oohh...astaga aku lupa tentang Hanan."
Karen baru menyadari kalau sejak tadi ponsel nya masih aktif dan ada Hanan yang menunggu nya untuk bicara lalu bergegas Karen mengambil ponsel nya dan berusaha berulang kali melakukan panggilan kepada Hanan tapi panggilan Karen selalu di tolak Hanan, Karen pun mencoba memanggil berulang kali sampai akhir nya internet Hanan di non aktif kan.
Narin tertawa sambil mengolok olok Karen dengan berkata.
"Waaah...seperti nya kamu sedang di campakan."
"Aneh, mengapa dia marah?" Karen bergumam.
"Seperti nya kamu akan di campakan." ejek Narin dengan sangat yakin dan setelah itu Narin pun mengambil beberapa selimut dari dalam lemari kemudian berbaring di lantai dan Karen juga berbaring di lantai di sudut lain karna ranjang sudah tidak bisa lagi di gunakan.
Pagi pun datang, Narin dan Karen sudah bangun, mereka berdua sedang memikirkan cara memperbaiki ranjang yang rusak karen kemudian menarik seprai yang terjepit lalu dia pun terjatuh dan Narin berniat menangkap nya tapi ternyata terlambat justru sebalik nya Narin juga terjatuh di atas tubuh karen, di saat yang sama pintu juga di buka dari luar oleh ke dua senior dan para senior melihat adegan itu, ayah Narin pun berkata.
__ADS_1
"Narin tenang lah, apakah malam terasa lebih pendek semalam? sampai masih harus di lanjut kan di pagi hari lagi?" sambil berkata begitu ayah Narin masuk ke dalam kamar di ikuti ayahnya Karen, mereka keheranan saat melihat kondisi ranjang yang mengenaskan.
"Anak muda zaman sekarang berbeda dengan zaman ku dulu, setidak nya dulu saat aku masih muda ranjang ku tidak rusak seperti ini." Ucap ayah nya Karen.
"Seperti nya sebentar lagi kita akan punya cucu." sahut ayah Narin, kemudian kedua senior berjoget meski tidak ada musik dan Narin hanya mengangkat alis nya karna kebingungan sambil memandang ke arah Karen, Narin pun berusaha mengabaikan kedua senior kemudian pergi ke kamar mandi, dia membiar kan ayah dan mertua nya yang sedang berada di dalam khayalan mereka.
Karen juga pergi maksut hati ingin ke dapur untuk sarapan tapi tersesat ke berbagai tempat saking besar nya rumah keluarga Wijaya, kemudian setelah lama berputar-putar Karen bertemu kamar Narin lagi dan Narin sudah selesai mandi lalu Karen bertanya kepada Narin.
"Tuan muda! dapur nya di mana?"
Narin pun melepas kan ponsel di tangan nya dia meletakan nya di atas meja, kemudian berjalan menuju pintu dan di ikuti Karen kemudian.
"Pertama kamu berjalan ke arah sana kemudian ada tangga dan kamu turun dari tangga lalu ada pintu di bawah tangga itu dan kamu masuk ke pintu itu lalu berjalan lurus dan setelah itu ada 3 pintu di lorong itu." ucap Narin sambil tersenyum.
"Tidak ketiga nya! karna pintu pertama menuju kolam renang, pintu kedua menuju kebun bunga dan pintu ke tiga menuju kolam ikan hias jadi di antara ketiga pintu itu tidak ada dapur." sahut Narin sambil tertawa mengejek, kemudian dia memasang wajah serius.
"Abaikan ke tiga pintu dan kamu berjalan saja lurus dan di ujung jalan itu lah dapur." ucap Narin
"Apakah tuan yakin?" lalu Narin menggoda nya lagi.
"Entah lah! Mungkin!" sahut Narin sambil tertawa sehingga membuat Karen kesal lalu memutuskan untuk pergi meninggalkan Narin, lalu dia menuju tempat yang di maksut Narin dan bertemu mertua nya yang baru keluar dari pintu menuju kolam ikan, Karen pun bertanya.
"Ayah dapur nya di mana?"
__ADS_1
"Ikut aku!" sahut mertua nya, Mertua nya berjalan di depan di ikuti Karen dan mereka pun tiba di dapur lalu ayah mertua nya berkata kepada Karen.
"Karen sebaik nya kamu buat kan nasi goreng untuk Suami mu, Suami mu tidak suka sarapan roti dan biasa nya setiap pagi ayah membuat kan nasi goreng untuk nya tapi sekarang kamu adalah istri nya jadi mengurus suami adalah tugas seorang istri."
"Baik ayah." sahut Karen, setelah itu mertua nya keluar dari dapur dan Karen pun kepikiran untuk mengerjai Narin.
Karen mengambil piring dan memasukan nasi ke dalam piring lalu dengan sengaja dia menumpah kan nasi di atas meja kemudian dia bergumam sendirian.
"Oohh ya ampun tuan muda, maaf aku tidak sengaja menumpahkan nasi nya." ucap nya sambil dia memunguti semua nasi itu dan memasukan nya kembali ke piring.
Kemudian Karen mengambil daun sawi dari dalam kulkas lalu dia bergumam lagi.
"Ooohh...ya ampun ada ulat di sawi nya, tapi maaf tuan muda karna aku tidak punya waktu untuk membuang ulat nya," Karen langsung memotong sawi nya bahkan tanpa mencuci nya.
Kemudian Karen mengupas bawang merah lalu dia menjatuhkan nya ke lantai dan menghancurkan nya dengan kaki nya sambil berkata.
"Oohh...maaf tuan muda, aku tidak sengaja menginjak bawang nya!" Sambil Karen menginjak bawang merah sampai hancur,Karen juga memotong kubis dengan gigi nya.
Kemudian dia mulai memasukan bawang merah injak ke dalam wajan lalu setelah itu dia memasukan nasi dan juga sawi plus ulat lalu dia mengambil garam dan dia memasukan sepuluh sendok garam ke dalam 1 piring nasi goreng yang dia buat itu.
"Oohhh...ya ampun tuan, garam nya mungkin kebanyakan," sambil Karen berkata begitu disertai senyuman licik.
Kemudian Karen memasukan sepuluh sendok penyedap rasa juga dan berkata.
__ADS_1
"Oohhh...ya ampun, micin nya kebanyakan." ucap nya, tapi dia masih belum puas lalu dia pun mengambil gula dan memasukan lima sendok gula juga setelah itu Karen mengaduk nasi nya sampai semua bumbu tercampur kemudian setelah matang dia memasukan nasi goreng ke dalam piring, disaat yang sama Narin datang sambil dia berbicara di telpon, Narin juga datang bersama ke dua senior untuk sarapan kemudian Karen menyerah kan nasi goreng istimewa nya ke meja tempat Narin duduk.