Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda

Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda
Bab 67 Mulai Akrab.


__ADS_3

"Aure! mau kemana?"


"Ayah menyuruh ku untuk menemani Kolin ke mall untuk membeli baju," jawab Aure singkat dan tentu saja cuek juga, karna Aure tidak pernah menyukai Ningsih yang sudah menghancurkan keluarga nya.


"Kapan kamu kembali ke Jakarta?" tanya Ningsih kepada Kolin, Kolin pun mau menjawab lalu di potong oleh Aure.


"Jangan banyak bertanya karna pertanyaan seperti itu tidak penting, dia tamu ayah dan rumah ini juga bukan milik mu, lalu apa hak mu mempertanyakan tentang tamu ayah ku?" sahut Aure sinis.


"Aure! dia ini pelacur!" teriak Ningsih.


"Pelacur merebut suami orang dan kamu juga sama! lalu apa beda nya kamu dengan Kolin? setidak nya di mata ku, Kolin lebih terhormat dari mu, karna Kolin tidak pernah menghancurkan keluarga ku!" bentak Aure dan Ningsih pun diam karna dia sadar Aure memang tidak pernah menyukai nya.


Kolin menyentuh pundak Aure yang terlihat sedang menahan air mata nya karna ada kesedihan yang tersembunyi di hati Aure, Aure pun menarik tangan Kolin ke tempat mobil nya di parkir dan ketika sampai di depan mobil nya Aure tidak bisa menahan kesedihan nya lalu beberapa tetes air mata keluar dari mata nya, Kolin pun menyeka air mata Aure lalu memeluk Aure, Aure pun memeluk Kolin juga sambil berkata.


"Pelukan mu sehangat pelukan ibu ku, aku sangat merindukan ibu ku," semakin erat Aure memeluk Kolin seolah Kolin adalah orang yang mampu menenangkan hati nya.


"Aku percaya keluarga mu akan bersatu lagi suatu hari nanti," ucapan Kolin membawa harapan di hati Aure, Aure pun berusaha menenangkan diri nya kemudian bertanya.

__ADS_1


"Mau kah kau membantu ku?"


"Bagaimana?" tanya Kolin heran.


"Aku ingin ibu tiri ku meninggal kan ayah ku dan aku harap ayah ku akan kembali kepada ibuku setelah kepergian ibu tiri ku, walau pun aku tidak tahu bagaimana kabar ibu ku sekarang tapi aku selalu berdoa semoga ibu ku selalu sehat dan juga menunggu kami kembali," ucap Aure dengan penuh harapan dan kerinduan yang tergambar jelas di wajah nya yang tampan itu.


"Aku akan membantu mu, tapi aku tidak bisa lama bersama mu, karna Rama juga hanya menyewa ku 1 bulan saja dan kalau kamu bisa menemui Rama lalu meminta Rama untuk menggantikan nya sebagai tuan ku maka aku bisa tinggal di rumah mu, tapi setelah1 bulan aku harus kembali ke Jakarta dan aku minta bayaran kepada mu seharga tiket ke Jakarta, apakah kamu setuju?" tanya Kolin, Aure pun mengangguk kemudian mereka masuk ke dalam mobil lalu berangkat ke mall, setelah selesai membeli beberapa pakaian, Aure juga mampir di toko ponsel dan membelikan ponsel baru untuk Kolin, setelah selesai berbelanja mereka pun kembali ke rumah dan Aure berkata.


"Di rumah ini ada banyak Kamar, apakah kamu mau melihat kamar lain atau kamu akan tidur sekamar dengan ayah ku?" Kolin kebingungan, dari belakang Narin tiba-tiba datang dan langsung berkata.


"Penerbangan ke Jakarta tidak tersedia sampai 3 hari ke depan karna cuaca ekstrem jadi bisakah kamu menginap beberapa hari lagi?" tanya Narin sambil dia membuka jas nya, Kolin membantu nya melepaskan dasi nya Narin pun jadi gugup dan berkata.


"Kolin! jaga lah jarak dengan ku," ucap Narin dengan nada heran karna dia juga tidak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut nya, Kolin pun mundur dan berkata.


"Sebenar nya saya dan Aure sudah sepakat saya akan tinggal di sini selama 1 bulan karna Aure mengatakan di dekat saya dia merasa kan perasaan aneh dan itu bukan cinta pria kepada wanita tetapi kasih sayang dan kerinduan yang dalam seperti...," Kolin tidak bisa menerus kan kata-kata nya karna dia juga tidak faham cara menjelaskan tapi perasaan yang di rasa kan Aure sama seperti yang Narin rasa kan jadi Narin pun langsung setuju.


"Baik lah, jika kamu tidak keberatan tinggal lah sesuka mu dan anggap lah rumah ini seperti rumah mu sendiri dan buat lah diri mu nyaman," ucap Narin sambil menyentuh bahu Kolin.

__ADS_1


"Tapi tuan Rama..."


"Rama biar aku yang urus." ucap Narin bersemangat, kemudian Narin bersiap untuk mandi dan Kolin pun bertanya.


"Di kamar mana saya akan tidur?" tanya Kolin.


Narin diam sejenak sebenar nya hati nya tidak menginginkan tubuh Kolin tapi berada dekat Kolin membuat hati Narin tenang seolah Karen sedang ada di samping nya.


"Tidur lah di kamar ini bersama ku, tapi peraturan pertama jangan buka baju mu di depan ku dan jaga sikap mu karna aku tidak menganggap mu pelacur, kamu adalah tamu ku, ke dua tidur seranjang dengan ku dan berusahalah untuk tidak menyentuh ku." ucap Narin sambil memandangi wajah Kolin, Kolin pun mengangguk karna dia mengagumi sikap Narin yang terlihat sangat menghormati nya, juga tidak berusaha memanfaat kan kehadiran nya dan baru pertama kali Kolin bertemu pria seperti Narin, Kolin mengagumi Narin tapi yang Kolin heran adalah mengapa rasa kagum nya kepada Narin berbeda dengan kagum wanita kepada pria karna tidak terbersit sedikit pun dalam otak Kolin untuk menjadi istri Narin meski Narin terlihat sempurna walau pun tua tapi tetap tampan dan juga mempesona.


Kehadiran Kolin di rumah itu membuat. Ningsih merasa sangat risih dan tidak nyaman apa lagi Kolin setiap malam tidur di kamar bersama Narin sehingga membuat Ningsih tambah cemburu, kehadiran Kolin juga mampu menjinakkan Narin karna Narin tidak lagi pulang membawa wanita dalam keadaan mabuk justru Narin tidak pernah lagi menyentuh alkohol sejak Kolin ada di kamar nya, kehadiran Kolin mampu menenangkan hati Narin walau pun Kolin dan Narin tidak pernah bermesraan tapi Narin merasa Kolin membuat nya seperti bersama Karen.


Aure juga jadi sangat jinak dan bawaan nya selalu pengen bersama Kolin saja karna berada di dekat Kolin membuat Aure merasa sangat tenang, sepanjang siang Kolin berada di dalam kamar Aure dan sepanjang malam Kolin bersama Narin tapi tidak ada yang melakukan pelecehan kepada Kolin, di rumah itu, untuk pertama kali nya Kolin merasa sangat di hormati dan di hargai, Kolin merasa dia seperti menemukan sebuah keluarga yang hangat dan juga harmonis dia memiliki perasaan tenang di dalam rumah itu.


Suatu malam setelah puluhan tahun berlalu, untuk pertama kali nya semua orang berada di meja makan di waktu yang sama dan Ningsih yang kesal bertanya kepada Kolin.


"Kapan kamu pulang ke Jakarta?" sambil Ningsih memandang ke wajah Kolin dengan pandangan kebencian.

__ADS_1


__ADS_2