
"Aku menang Bu!" ucap Ningsih memulai cerita.
"Gimana! gimana?" tanya Isna yang tidak sabar mendengar penderitaan anak kandung nya, kemudian Ningsih menceritakan semua nya kepada Isna dan tidak meninggal kan satu kisah pun dan Isna terlihat sedikit kecewa karna Ningsih yang pindah ke tempat yang jauh dan bukan Karen, harapan nya numpang tingal gratis di rumah keluarga Wijaya sirna, tapi sisi baik nya bagi Isna adalah anak nya yang menurut nya sombong dan jahat itu sekarang menjadi janda dan di campakan suami nya.
Setelah selesai bercerita kemudian Ningsih pamit pulang dan Isna bertanya.
"Memang kamu tahu jalan kembali ke hotel?"
"Hotel Narin Wijaya dekat hotel Karen Wijaya." sahut Ningsih.
"Iya itu hotel kembar dengan desain sama yaitu milik Narin dan milik Karen." sahut Lila yang tiba-tiba datang dari dalam.
Dalam hati Ningsih merasa iri dan ingin juga suatu hari nanti punya hotel sendiri dengan nama hotel Ningsih Wijaya, membayangkan hal itu membuat Ningsih jadi tersipu dan di lihat Isna dengan heran karna tidak faham apa yang di fikir kan Ningsih.
Ningsih kemudian memberikan nomor ponsel nya kepada Isna dan Isna memeskol nya kemudian menyimpan nomor nya, lalu Ningsih kembali ke hotel dan dia masuk ke kamar, Narin dan Aure masih tidur.
Keesokan pagi nya mereka pergi ke bandara lalu berangkat dengan penerbangan ke Bali, setiba nya di bandara Ngurah Rai Bali Ningsih melakukan panggilan kepada Isna dan Isna tidak menerima panggilan nya kemudian Ningsih membatalkan panggilan nya dan mendekati Narin, Narin memeluk Ningsih sambil berkata.
"Hidup baru kita akan di mulai di sini." dan setelah berkata begitu mereka pun naik ke dalam mobil Aure duduk di depan di samping supir dan Narin duduk di belakang dengan Ningsih, Narin yang manja berbaring di pangkuan Ningsih sambil memejamkan mata nya dan di perjalanan ketika Narin terlelap, ponsel Ningsih berdering dan mengagetkan Narin tapi panggilan Isna di tolak oleh Ningsih kemudian ponsel berdering lagi dan Narin terkejut lagi, tapi panggilan itu di tolak lagi oleh Ningsih dan untuk yang ke tiga kali nya panggilan itu berbunyi, Narin merebut ponsel dari tangan Ningsih dan panggilan itu bertulisan nama nyonya besar kemudian Narin menerima panggilan itu tanpa sempat berbicara karna Isna langsung ngoceh.
__ADS_1
"Apakah kamu sudah sampai di Bali? semoga kamu betah di Bali dan semoga usaha mu menyingkir kan Karen tidak sia-sia, buat suami mu semakin membenci Karen dan nanti ibu akan mencarikan dukun agar suami mu semakin nempel kepada mu." ucap Isna sambil tertawa, kemudian Ningsih merebut ponsel nya dan memutus kan panggilan tanpa bicara apapun dan Narin terlihat marah kemudian bertanya kepada Ningsih.
"Siapa wanita ini!" bentak nya.
"Teman." sahut Ningsih pelan.
"Ceritakan lebih banyak kepada ku tentang wanita ini!" bentak Narin, tapi Ningsih memilih diam dan dia hanya menangis.
Narin tidak mendapat kan jawaban apapun bahkan Ningsih hanya menangis dan membuat Narin merasa sangat kesal, Narin pun kemudian duduk dan melihat keluar di sepanjang jalan yang dia lewati, 30 menit kemudian Narin dan keluarga nya tiba di rumah yang pernah dia datangi bersama Karen dulu dan ketika mereka bertiga masuk ke dalam rumah pembantu nya bertanya.
"Di mana ibu Karen?" sambil mencari-cari siapa tahu Karen terlambat datang dan membuat hati Ningsih merasa kesal karna ternyata rumah itu pernah di datangi Narin bersama Karen dan bukan bersama nya yang pertama datang.
"Ini anak nya Karen? wahh...ganteng banget,iya bibi kenal ibu mu saat ibu dan ayah mu berbulan madu tinggal di rumah ini." ucap pembantu nya kemudian Aure bersemangat dan berkata.
"Ayo Bi' ceritakan lebih banyak tentang ibu ku." kemudian Aure pun menarik pembantu nya dan pembantu nya menarik nya balik menuju kamar yang sesuai untuk Aure.
Narin naik ke kamar tempat dia pernah di usir oleh Karen karna kamar itu di jadi kan Karen markas nya waktu itu, Ningsih mengikuti Narin dan melihat Narin menyentuh beberapa barang sambil tersenyum dan senyum nya semakin lebar ketika dia menyentuh pintu kamar mandi yang pernah menarik handuk Karen dulu, Narin mengingat semua nya sambil fikiran nya terbang ke masa lalu, dan Ningsih faham kamar itu adalah kamar yang juga pernah di tempati Karen bersama Narin, dan Sekarang Narin sedang memikirkan masa lalu membuat hati Ningsih jadi terbakar cemburu.
"Aku tidak suka kamar ini!" ucap nya dengan ketus.
__ADS_1
"Tapi aku suka." jawab Narin dengan cuek.
"Aku tidak mau berada di kamar yang pernah di tinggali oleh Karen," ucap nya ngambek.
"Di rumah ini ada banyak kamar lain dan kalau kamu tidak suka kamar ini maka kamu bisa menemukan kamar lain yang mungkin kamu sukai," sahut Narin cuek lagi, karna dia berfikir akan menempati kamar itu saja meski nyawa taruhan nya.
"Kenapa kamu berubah?" tanya Ningsih sambil menangis, tapi hati Narin tidak tersentuh dan dia hanya cuek.
"Aku tidak ingin bertengkar, satu hal yang harus kamu tahu! jika kamu tidak suka sikap ku silahkan kamu tinggal kan aku dan aku akan memberikan banyak uang untuk mu, tapi jika kamu masih mau bersama ku maka jangan pernah protes dengan sikap ku." sahut Narin dengan tegas dan kejam, Narin memalingkan wajah nya dan melihat ke luar jendela, kemudian Ningsih keluar dari kamar Narin lalu menangis, Narin tahu Ningsih sedang terluka karna nya tapi dia juga merasa sangat terluka dan kecewa, jadi dia tidak tertarik untuk membalut luka orang lain sementara dia juga adalah korban, walau pun Narin memiliki banyak pertanyaan di hati nya tentang nyonya besar itu tapi sekarang dia sedang menikmati aroma tubuh Karen dalam kamar itu begitulah yang ada dipikiran Narin saat itu.
Malam pun datang dan Narin duduk di meja makan kemudian datang Aure bersama Ningsih dan Ningsih mau duduk di sebuah bangku di samping Narin lalu Narin berkata.
"Ini tempat duduk Karen! ada 8 bangku di meja ini jadi silahkan kamu pilih yang lain!" ucap Narin dalam nada tanpa amarah tapi sangat tajam menusuk sampai ke jantung Ningsih, Ningsih ngambek melempar kan sendok lalu pergi dan Aure pun senang melihat ayah nya merindukan ibu nya.
"Aku merindukan Ekre dan ibu," ucap Aure.
Narin pun merasa sedih dan memohon kepada Aure.
"Ayah ada permintaan kepada mu Aure dan ayah yakin kamu bisa mengabulkan nya,"
__ADS_1
"Apa itu yah?"