
Setelah dia tiba di kamar nya, Naren pun bergegas pergi ke kamar mandi kemudian dia mencuci muka nya lalu pergi ke dapur, dia minum banyak air putih, dalam hati nya masih sangat gugup dan belum percaya dengan apa yang sudah dia lihat.
Karen pun perlahan membuka pintu kamar mandi dan dia mengeluar kan kepala nya untuk melihat situasi dan setelah dia lihat aman karna tidak terlihat batang hidung Narin, dia pun duduk di ranjang nya dan menangis dalam kamar karna dia merasa sangat malu kepada Narin yang sudah melihat nya telanjang.
Ketika siang hari Karen merasa lapar dan pergi ke dapur, kemudian Karen kaget karna Narin sudah ada di dapur untuk makan, Karen bermaksut putar balik untuk membatal kan niat masuk ke dapur, tapi terlambat karna Narin sudah melihat nya ketika melihat Karen, Narin pun tersedak saat makan, setelah minum kemudian Narin berkata.
"Masuk lah dan makan lah karna bibi sudah memasak,"
Karen memegang perut nya yang sudah berbunyi karna lapar seolah cacing dalam perut nya sedang goyang dumang, dia pun mengambil piring dan setelah itu dia makan sambil sesekali melirik ke arah Narin yang terlihat sangat cuek.
"Tuan muda! tadi apa yang tuan lihat?" tanya Karen malu dengan suara pelan.
"Aku melihat semua nya." sahut Narin.
Langsung memerah wajah Karen, pipi nya seperti tomat yang sudah matang dan dengan gugup dia bertanya.
"Se_semua nya bagaimana?"
Narin pun diam sambil memandangi wajah Karen dengan pandangan heran karna Narin tidak faham cara menjelas kan kepada Karen tentang apa yang tadi sudah dia lihat, kemudiam Karen pun berkata lagi.
"Mengapa tuan masuk ke kamar ku tanpa meminta izin terlebih dahulu! dasar tidak sopan."
"Lain kali jangan lakukan hal seperti itu lagi dan jujur aku juga tidak suka melihat pemandangan seperti tadi yang menurut ku sangat menyebal kan untuk di lihat, karna tubuh mu itu sebenar nya bukan type ku." sahut Narin dengan nada kesal tingkat dewa, kemudian Karen menangis dan Narin pun jadi serba salah, tambah lagi tangisan nya dengan suara sangat nyaring seperti ayam jantan yang berkokok di pagi hari, Narin pun berusaha membujuk nya.
"Ok anggap saja aku tidak melihat apapun kau puas!" ucap Narin dengan suara lebih rendah.
__ADS_1
"Tapi Tuan sudah melihat nya dan tuan sudah tahu," sahut Karen.
"Aku janji akan aku lupakan semua hal yang tadi sudah aku lihat," ucap Narin dengan yakin, tangisan Karen pun berhenti kemudian Narin mengeluarkan kan nafas nya lewat mulut sambil bergumam.
"Dasar monyet."
Kemudian Narin mengambil 3 biji apel dari dalam kulkas lalu mencuci nya dan mengupas nya kemudian memotong lalu meletakan nya dalam piring yang dia sudah siapkan di atas meja di depan nya, tapi kemudian setelah Narin selesai mengupas dan memotong apel itu, Karen pun tanpa permisi langsung menyambar piring yang berisi apel itu, Narin terkejut dan dia berteriak.
"Karen!"
"Anggap saja ini bayaran karna tadi tuan muda sudah melihat tontonan yang menarik." ucap Karen sambil menjulur kan lidah kepada Narin dan dengan wajah kesal Narin bertanya.
"Apa! Menarik bagaimana? dari sisi mana hal itu menarik karna yang aku lihat tadi sangat tidak menarik!"
Karen pun hanya cuek saja, dia tidak menghiraukan apapun yang di katakan Narin karna Karen hanya tahu cara makan apel saja, tapi Narin malas berdebat kemudian mengambil apel lain dari kulkas dan memotong nya lagi.
"Bi siti! nanti kalau ke pasar beli kan aku es krim,"
"Baik nyonya." sahut Bi' Siti, kemudian Bi' Siti pergi ke pasar dan dia memasukan beberapa es krim ke dalam kulkas.
Malam hari, Karen pun makan es krim dan dia sendirian di meja makan di dapur, disaat yang sama Narin merasa haus dia ke dapur dan terkejut bahkan sempat berfikir itu adalah penampakan karna dia tidak berfikir akan melihat Karen makan es krim malam-malam dan di tambah lagi dengan penampakan wajah Karen yang belepotan oleh berbagai rasa es krim, setelah yakin itu adalah Karen kemudian Narin menegur nya.
"Karen apa yang terjadi? mengapa es krim semua rasa ada di wajah mu?"
Karen mengabaikan pertanyaan Narin lalu Narin juga duduk di bangku di samping Karen sambil memperhatikan Karen makan es krim dan sesekali Narin tertawa melihat kelakuan istri nya itu.
__ADS_1
Keesokan pagi nya karen pun memotong apel tapi tiba-tiba, tanpa di duga dari belakang Narin datang langsung bertanya.
"Di mana bibi Siti?"
Karna kaget dengan kedatangan Narin yang tiba-tiba itu maka secara tidak sengaja Karen pun melukai tangan nya, sebenar nya hanya sedikit goresan dan darah saja tapi manjanya setingkat dengan dewa, sambil berkata.
"Tuan muda, tangan ku putus!"
Sambil karen memejamkan mata nya dan tidak berani melihat luka yang sangat kecil di tangan nya, kemudian Narin melihat luka di tangan karen kemudian dia berkata.
"Ayolah karen! berhenti menangis karna ini hanya tergores sedikit saja," mendengar itu tangisan Karen semakin keras.
"Enak saja tuan muda bilang luka kecil karna ini bukan tangan milik tuan dan entah dimana sekarang berada potongan tangan ku yang lain nya." ucap karen dengan banyak bumbu lebay sambil menangis sangat nyaring, kemudian Narin mengambil kotak p3k lalu membalut luka kecil di tangan Karen kemudian.
"Jari mu yang putus sudah aku satukan kembali, jadi sekarang berhenti menangis!" ucap Narin dengan nada kesal.
Kemudian karen melihat jari nya yang sudah di perban dan dia menggerak-gerakan jari nya kemudian menangis lagi, Narin bertanya.
"Sekarang apa lagi?"
"Aku selalu tersesat ketika berada di istana Wijaya jadi tolong beri kan aku peta rumah keluarga wijaya karna aku lelah tersesat di istana wijaya," ucap Karen dalam tangisan nya, Narin mengubah ekspresi wajah nya yang tadi nya cemas berubah ekspresi menjadi seperti orang bingung sambil bergumam.
"Apa_apaan gadis ini? benar-benar menguji iman dan kesabaran ku,"
"Tapi aku beruntung karna Tuhan hanya menciptakan 1 orang saja yang seperti ini dalam hidup ku," ucap Narin dalam hati
__ADS_1
"Tuan muda! ini adalah permintaan ku yang pertama jadi bisa kah tuan muda mengabul kan nya?" tanya Karen sambil beberapa kali mengedip kan mata nya dengan wajah penuh harapan mengharap Narin berkata iya, Narin pun merasa sangat malas berdebat dan mengatakan.
"Ya! ok! baik lah tapi tolong diam! bisa?"