
"Ya terserah ayah saja," sahut Narin sambil makan dan tidak ada yang menyadari kalau Lila sangat memperhatikan semua yang di lakukan Narin karna Lila sangat mengagumi Narin bahkan jika seandai nya Narin hanya tersisa tulang belulang nya saja pasti Lila masih mau menerima nya.
Kalau begitu mulai besok ajak Rico bekerja di kantor dan minta Hanan untuk ajari dia," ucap Romi yang membuat Karen tersedak saat makan karna mendengar nama Hanan disebut, Narin secepat kilat mengambil air minum untuk istri nya , membuat Lila bertambah kagum kepada Narin.
"Ok!" ucap Narin walau pun dia ragu tapi dia ikuti saja perintah ayah nya.
Semua orang pun menerus kan makan nya dan dalam hati Rico berfikir bahwa dia akan merampok harta keluarga Wijaya sampai bangkrut.
***
Keesokan hari nya.
Di kantor sesampai nya di ruangan nya Narin menyuruh Hanan datang keruangan nya kemudian Narin memperkenal kan Rico kepada Hanan.
"Hanan! ini Rico dan ayah menyuruh nya bekerja di bagian keuangan, jadi aku serahkan dia kepada mu dan tolong kamu ajari dia,"
"Beres," sahut Hanan sambil mengacungkan jempol nya, kemudian Hanan mengajak Rico pergi meninggal kan ruangan Narin.
Sementara itu Isna juga merasa sangat kesal pada sikap Karen yang sangat banyak berbicara dengan nya sehingga dia merasa sangat terganggu, suatu hari setelah selesai makan ketika semua orang sudah pergi dan hanya ada Isna dan Lila saja yang sedang mencuci piring, Lila berkata kepada Isna.
"Bu! seperti nya Karen sangat manja kepada ibu dan seperti nya ibu juga merasa terganggu dengan sikap Karen," ucap Lila sengaja untuk membuat api berkobar, Isna berhenti mencuci piring dan dia mulai berfikir kemudian Lila bicara lagi.
"Bu! bagaimana kalau ibu bantu aku untuk menjadi istri Kaka Narin dan ibu tidak perlu khawatir akan di ganggu Karen lagi karna setelah menjadi istri Kaka Narin maka Karen dan ayah nya akan aku usir!" Kata-kata Lila meracuni pikiran Isna karna Isna juga tidak suka keberadaan Karen dan Herman, kemudian dia berkata.
__ADS_1
"Kamu benar Lila! jika Karen selalu menempel kepada ku maka suatu hari nanti aku pasti akan gila, ibu setuju membantu mu tapi kamu harus ingat Lila jika kamu berhasil menjadi istri Narin kamu jangan mengusir ibu karna ibu berjanji akan membantu kamu,"
Dan Isna memang seperti ular dia sangat mudah di pengaruhi, kebencian nya kepada Karen sangat besar dan dia memulai rencana nya untuk menyingkir kan Herman dan Romi.
2 Bulan kemudian suatu hari saat Isna mengepel lantai, Isna melihat Herman mau turun dari tangga dan Herman seperti nya sedang pusing, jalan nya juga sempoyongan, kemudian Isna bersembunyi untuk memantau dari jauh di tempat persembunyian nya dan tidak berniat menolong Herman, tapi ketika Herman hampir jatuh Narin segera menangkap tangan nya dan ayah Karen jatuh tepat di depan Narin, beruntung tidak sampai jatuh dari tangga, di saat yang sama ketika Herman jatuh seolah sedang di tarik Narin maka Karen yang salah faham berfikir Narin mendorong ayah nya dan dengan Emosi Karen bertanya.
"Mengapa tuan muda menjatuhkan ayah ku? apakah tuan muda berniat untuk menyakiti ayah ku!" tidak terima dengan tuduhan Karen maka Narin pun juga berteriak dengan lebih keras.
"Kenapa kamu berfikir seperti itu! apakah seburuk itu aku di mata mu!"
Ayah Karen pun merasa Karen sedang salah faham jadi dia memukul kaki Karen dengan tongkat nya sambil berkata.
"Karen! dengar kan ayah! bisa?" Karen pun membantu ayah nya berdiri dan Narin juga kemudian ayah nya bicara lagi.
"Sebenar nya sejak bangun tidur tadi ayah merasa pusing dan tadi hampir jatuh dari tangga, tapi di saat yang tepat Narin datang dan menarik tangan ayah, ayah selamat meski pun terjatuh juga di lantai tapi setidak nya tidak terjatuh dari tangga."
Kemudian Karen dan Narin memapah Herman kembali ke kamar lalu Narin bertanya.
"Apakah ayah mau ke rumah sakit atau di rawat di rumah saja?"
"Tolong lah Na' jangan bawa-bawa nama dokter karna ayah anti dokter!" sahut ayah nya Karen, Karen tersenyum sendiri karna dia sangat tahu ayah nya takut dokter.
"Tapi yah! kita harus tahu ayah sakit apa! agar kita bisa mengobati ayah" ucap Narin lagi.
__ADS_1
"Tuan Muda! ayah memang sejak dulu anti dokter dan rumah sakit, jadi mungkin biarkan ayah istirahat dan nanti juga akan sembuh! ya kan yah?"ucap Karen, ayah nya juga mengangguk.
Ternyata di belakang Isna, Lila juga melihat kejadian itu ketika Herman hampir jatuh dari tangga kemudian Lila berkata kepada Isna.
"Bu! Bagaimana kalau Herman kita singkir kan saja! Ibu juga sadar kan kalau Herman tidak pernah suka dengan kehadiran ibu?" Isna pun berfikir kemudian dia bertanya kepada Lila.
"Apakah kamu punya rencana untuk menyingkir kan Herman dengan aman?" Lila mengangguk dan mereka pun mulai memikirkan rencana.
Suatu hari ketika Herman mencari Isna di kamar nya dia tidak menemukan Isna, kemudian Herman pergi ke kamar Lila, juga tidak ada siapa pun, kemudian Herman pergi kekamar Rico dan dia berniat mau memanggil Isna untuk memberikan perintah tapi Herman mendengar percakapan Isna dengan kedua anak tiri nya lalu Herman menguping.
"Bu! Bagaimana kalau kita membunuh Romi dulu! Kemudian Herman lalu Karen, kemudian yang terakhir adalah Narin maka dengan mudah kita bisa menguasai semua harta Wijaya." ucap Rico.
"Aku akan menjadi istri Kaka Narin, jadi jangan bunuh Kaka Narin." sahut Lila dengan kesal, percakapan itu di dengar oleh Herman dan dengan lantang Herman berkata.
"Kurang ajar kamu Isna! Aku sudah menduga bahwa kamu tidak bisa menjadi lebih baik kepada Karen! Ingat Isna! karen itu anak kandung mu!"
Mereka semua terkejut dan berdiri kemudian berjalan mendekati Herman dan dengan gugup Isna menjelas kan.
"Herman dengarkan penjelasan ku!"
Tapi Herman yang sudah marah dia tidak mau mendengar kan apapun, dia mulai berjalan untuk meninggal kan tempat itu dan karna Jalan Herman dengan tongkat maka dia juga berjalan lambat, sehingga mereka dengan mudah menyusul nya dan Isna mencoba membujuk nya.
"Mas! jangan salah faham!"
__ADS_1
"Akan aku beritahu Romi agar kalian semua di usir dari rumah ini!" sahut Herman dengan marah, karna panik Rico pun mengambil sebuah guci yang terpajang di atas lemari dan dia memukul kepala Herman, Herman pun terjatuh ke lantai tidak bergerak kemudian Isna meletakan jari tangan nya di lubang hidung Herman sambil Isna berkata.
"Dia sudah mati!."