
Setelah jauh berjalan Karen dan Narin tiba di sebuah kampung dan mereka merasa lapar kemudian mampir di sebuah rumah makan sederhana tapi ketika mereka masuk ke dalam seorang pelayan berkata.
"Maaf Pa' kalian mau pesan apa? kalian tunggu saja di luar karna bau kalian bisa mengganggu semua pelanggan kami yang ada di dalam." Narin hampir meledak tapi Karen menarik nya keluar lalu menasehati nya.
"Tuan muda! apakah tuan muda ingat sepanjang jalan yang sudah kita lalui, ini adalah satu-satu nya tempat yang kita temukan yang menjual makanan, jadi jika tuan muda marah sekarang lalu mereka tidak mau menjual makanan nya kepada kita bagaimana? tanpa makan kita bisa mati dan masalah nya kita di kubur di mana?"
Narin pun diam kemudian dia mengambil kan uang dari dalam laci mobil, lalu Karen pergi menemui pelayan dan memesan makanan di bungkus kemudian Karen dan Narin makan di sebuah taman di pinggir jalan.
Belum selesai makan, ada anjing yang tiba-tiba numpang lewat dan tanpa permisi anjing itu langsung merebut ayam goreng dari tangan Karen kemudian Karen mengejar nya, setelah itu Karen melempar kan sepatu nya dan mengenai kepala anjing, kemudian anjing itu berbalik untuk mengejar Karen, Narin yang melihat dari jauh bergegas naik ke atas pohon, tapi Karen telat dan dia tidak sempat naik kemudian Karen naik ke bangku lalu meraih kaki Narin yang terjuntai sebelah tapi karna Karen terlalu berat Narin terpaksa menyerah kan kaki nya yang satu untuk di pegang Karen lagi berharap mengurangi beban, Karen pun memeluk kaki Narin dan sebelah tangan Narin memegang dahan yang lebih tinggi kemudian semakin tinggi tapi Karen semakin ke bawah kaki Narin dan hanya memegang celana Narin saja, Narin pun berkata.
"Karen! pegang kaki ku dan bukan celana ku!" Karen terlalu takut melepas kan pegangan nya dan akhir nya celana Narin melorot beruntung dari jauh terdengar ada yang memanggil.
"Simba! Simba! kemari sayang, ayo kita pulang."
Anjing pun pergi, tapi terlambat karna celana Narin sudah benar-benar terpisah dari kaki nya membuat Karen jatuh ke tanah dan Narin turun dari pohon tapi beruntung Narin memakai ce*lana dal*am, karna jika tidak maka Karen bisa pingsan melihat harta Karun Narin.
Setelah turun dari pohon kemudian Narin berkata.
"Karen! kapan kamu berhenti membuat masalah? apakah kamu mau membuat ku gila?"
"Jangan gila Pa!" Sahut Karen sambil menangis dengan keras, dan sesaat kemudian ada sebuah mobil Avanza lewat dengan 7 orang penumpang, mereka melihat Karen menangis dan Narin tidak pakai ce*lana, kemudian mereka menghenti kan mobil lalu berteriak.
"Dasar pria cab*ul!" beberapa orang seperti siap untuk menghajar Narin kemudian Karen berdiri dan berkata.
"Bapak-bapak kalian semua salah faham." kemudian Karen menceritakan kejadian nya dan mereka semua pun pergi, Narin mengambil celana nya di tanah dan mengenakan nya tanpa berkata apapun dengan bangga Karen bilang lagi.
"Beruntung ada saya yang menjelaskan kejadian nya, kalau tidak...,"
__ADS_1
"Kalau tidak! apa!" bentak Narin.
"Seharusnya tuan muda bersyukur saya masih bersama tuan muda, setia menemani tuan dan berulang kali menolong tuan," Sahut Karen dengan sangat percaya diri disertai rasa bangga tapi Narin terlalu lelah untuk berdebat dia pun melanjut kan makan nya sambil berkata.
"Lanjut kan makan mu, nanti kalau tidak makan kamu akan mati dan keberuntungan ku akan hilang."
Kemudian setelah selesai makan mereka pun melanjut kan perjalanan dan tiba di tempat tujuan sore hari.
Kedatangan mereka di sambut oleh Bibi Ijah dan mereka di suruh masuk ke villa lalu mereka pun mandi.
Karen dan Narin bahkan tidak menyangka akan menginap sehingga mereka tidak membawa pakaian kemudian Bibi Ijah meminjamkan daster kepada Karen.
Narin pun tidak punya pilihan selain memakai daster juga karna tidak ada lagi baju lain dan setidak nya lebih bagus dari baju yang kotor berbau selokan itu.
"Ayah ku menyuruh ku kemari untuk mengurus pekerjaan tapi aku tidak tahu siapa yang harus aku temui di sini." ucap Narin,kemudian Bi Ijah berkata.
Karen menyela dengan bertanya.
"Bisa kah di gunakan untuk melakukan panggilan ke ponsel?" lalu dengan kesal Narin menjawab pertanyaan Karen.
"Di mana kuping mu? bukan kah tadi di katakan telepon dan bukan teleportasi." Karen bersemangat kemudian berkata.
"Aku pinjam sebentar mau menelpon ayah ku," Karen pun pergi ke ruang tamu sebelum mendapat kan izin kemudian dia menelpon Mita dan berkata.
"Mita! beritahu ayah kalau aku ada lembur dan mungkin besok baru pulang."
"Ooo..., baik lah nanti aku sampai kan."
__ADS_1
Karen pun jadi lega dan di belakang nya sudah ada Narin yang menunggu Karen selesai, Karen menutup telepon kemudian gantian Narin yang menelpon ayah nya dan karen pergi ke dapur ke tempat Bi Ijah sedang memasak.
Di dapur Bi Ijah sedang membuat kue klepon dan Karen membantu nya, Karen bertanya.
"Mengapa klepon nya di buat sangat kecil?"
"Karna memang begitu lah sejak dulu," sahut BI ijah
Karen memang suka hal yang berbeda dia membuat klepon nya sebesar bola kasti dan memasukan banyak gula merah di dalam nya Bi Ijah hanya membiarkan nya dan tidak menegurnya, kemudian klepon matang dan di dingin kan, setelah beberapa menit, Narin datang dan mereka pun makan makanan yang ada di meja yang sudah di siap kan Bi Ijah.
Setelah selesai makan Bi Ijah mengeluarkan klepon yang dia buat dan Narin terkejut dengan ukuran yang sangat besar kemudian Karen bergegas mengambil nya sambil berkata.
"Punya ku."
Karen menggigit nya tapi tidak di sangka gula merah nya keluar dari sisi lain yaitu tepat mengenai wajah Narin, tapi entah karna terlalu lelah, Narin langsung pergi mencuci wajah nya kemudian masuk ke kamar lalu berbaring.
Setelah 10 menit, dari luar terdengar pintu di ketuk oleh anak Bi Ijah yang datang dan berkata kepada Bi Ijah.
"Bu! ayah sakit nya kambuh." Kemudian Bi Ijah menemui Narin dan minta izin.
"Tuan muda! maaf suami saya berada di rumah sakit karna TBC dan saya harus ke rumah sakit sekarang." Narin pun mengangguk lalu Bi Ijah pun pergi.
Di dalam kamar nya Karen berencana mau langsung tidur, tapi di belakang kamar nya di luar di atas pohon, Karen mendengar suara burung hantu, Karen terkejut lalu dia langsung berlari ketakutan dan mengetuk pintu kamar Narin, Narin pun membuka pintu lalu bertanya.
"Sekarang apa lagi?apakah kamu belum puas seharian mengganggu ku?" Karen tampak pucat dan berkata.
"Tuan muda, aku takut sendirian di kamar."
__ADS_1