Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda

Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda
Bab 33 Isna yang Licik.


__ADS_3

"Ibu! sekarang aku hanya punya ibu saja dan aku harap ibu jangan lagi meninggal kan ku,kita lalui semua nya bersama sama ya Bu...?" ucap Karen dengan lembut kepada ibu nya tapi ibu nya yang jijik kepada anak nya pun segera menepis pelukan Karen sambil berkata.


"Ibu harus memasak sekarang, kamu tahu kan kalau sekarang ibu adalah pembantu di rumah mu" ucap Isna ketus setelah beralasan begitu Isna langsung pergi dan meninggal kan Karen sendirian di dalam kamar nya.


Tapi karna Karen saat ini membutuh kan ibu nya Karen pun kemudian mengikuti ibu nya ke dapur tanpa dia faham bahwa sebenar nya ibunya tidak menyukai nya.


"Bu..! sekarang ayah sudah meninggal, dan ibu tidak harus melakukan pekerjaan apapun yang tidak ibu sukai, karna ibu adalah ibu ku, jadi aku tidak pernah menganggap ibu sebagai pembantu ku, dan juga di rumah ini sudah ada pembantu meski mereka hanya datang di hari Minggu saja tapi bukan berarti ketika mereka tidak ada lalu semua nya harus ibu yang kerjakan," ucap Karen agar ibu nya merasa lebih nyaman berada di rumah nya dan dia terlalu polos untuk bisa memahami sifat ibu nya.


Siang itu Karen datang ke restoran untuk menemui Mita, setelah itu Mita memasakan makanan kesukaan Karen yang persis dengan makanan yang di buat ayah nya Karen dan karen menghabis kan makan nya sambil menangis kemudian Mita berkata.


"Karen, ketika kamu mau masakan paman maka kamu datang lah ke restoran ini dan aku akan memasak semua makanan kesukaan mu dan aku janji, rasa masakan ku akan sama seperti rasa masakan paman," ucap Mita bermaksud menghibur Karen.


"Bagaimana kalau kamu tinggal di istana Wijaya juga, agar aku bisa belajar masakan ayah ku juga, aku ingin mengenang ayah ku dengan mempelajari cara ayah memasak," ucap Karen sambil memohon kepada Mita.


"Tapi aku tidak enak tinggal di rumah keluarga wijaya karna aku bukan bagian dari keluarga," ucap Mita dengan ragu dan tidak di sangka dari belakan Narin menyahut.


"Siapa bilang kamu bukan keluarga!" Narin berkata begitu sambil duduk di bangku di samping Karen, kemudian Narin berkata lagi.


"Mita! Saat ini Karen memerlukan dukunganmu jadi temani lah Karen di rumah, karna jika Karen sibuk mungkin fikiran nya akan lebih terhibur ketika Karen bersama mu," Mita memandang Ka wajah Karen kemudian ke wajah Narin.


"Baik lah jika Kaka Narin dan Karen ingin aku pindah, maka aku akan pindah," sahut Mita, kemudian Mita memeluk Karen, dan sore hari Mita datang dengan Narin dan Karen, Mita bertanya kepada Karen.

__ADS_1


"Apakah aku bisa tidur di kamar paman Herman?" Narin langsung berkata.


"Untuk sementara ayah ku yang tidur di kamar itu karna sekarang ayah ku sedang merasa sangat kehilangan! Jadi untuk sementara kamu tidur saja di kamar ayah ku karna di atas juga hanya ada 3 kamar,"


"Aku bisa tidur di bawah tidak masalah." ucap Mita.


"Tapi aku akan merasa lebih baik ketika kamu juga berada di kamar atas," sahut Karen.


"Begini saja Mita sementara tidur saja di kamar ayah ku dan ketika nanti ayah ku pindah maka Mita bisa pindah ke kamar almarhum." ucap Narin.


Karen juga setuju, tapi kehadiran Mita membuat trio parasit jadi tambah kesal karna merasa menyingkir kan satu datang satu lagi sehingga membuat mereka sangat marah.


Malam itu Karen yang memasak makan malam dan Mita hanya mengajarkan cara nya saja, Mita berkata kepada semua orang yang ada di meja makan.


Ketika tengah malam Rico dan Lila mengetuk pintu kamar Isna dan kebetulan malam itu Isna tidak bisa tidur karna dia masih kesal dengan kehadiran Mita, begitu pintu di buka masuk lah Rico dan Lila ke dalam kamar Isna kemudian Isna melihat situasi di luar kamar sebelum menutup pintu dan tidak ada pergerakan tanda tanda manusia masih ada yang bangun, kemudian Isna duduk di ranjang di samping Lila.


"Sia-sia usaha kita menyingkir kan satu orang karna sekarang datang lagi satu orang yang berbeda," ucap Isna dengan nada super sebal, kemudian sambil senyum senyum Lila bicara.


"Justru aku punya usul bagus dengan kehadiran wanita itu Bu!"


"Apa maksut kamu Lila?" tanya Isna dengan heran, kemudian Lila menjelaskan rencana nya dan mereka sepakat untuk menunggu waktu yang tepat untuk melakukan nya.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian pada suatu malam, Narin datang ke dapur untuk mengambil minuman dan Lila melihat nya lewat di depan kamar nya karna memang Lila selalu berusaha mencari cara untuk bisa bersama dengan Narin, kemudian Lila mengikuti Narin kedapur dengan maksut mengajak nya bicara.


"Kakak Narin, apakah aku juga bisa bekerja di Grub Wijaya?" tanya Lila sambil duduk di bangku yang tersedia di meja makan, kemudian setelah menutup pintu kulkas Narin juga duduk di seberang Lila lalu Narin berkata.


"Memang nya kamu mau kerja apa? Menurut ku sebaik nya kamu di rumah saja menemani ibu dan Karen," ucap Narin sambil minum dan tidak lama kemudian datang Isna dan bertanya.


"Narin apakah kamu mau ibu buat kan kopi?"


"Tidak Bu' terima kasih," sahut Narin dengan sopan, tapi tidak di sangka reaksi Isna adalah dia berpura-pura sedih dengan berkata.


"Apakah kopi buatan ibu tidak enak sehingga kamu tidak mau meminum nya?"


"Bukan begitu Bu...! hanya saja ini sudah malam, jadi aku khawatir nanti akan kesulitan tidur jika aku minum kopi," ucap Narin memberi alasan, tapi tidak berguna di depan Isna yang lebih pandai membuat alasan.


"Ibu kecewa!" ucap Isna pura-pura ngambek kemudian Narin jadi serba salah.


"Sudah lah Ka' menurut ku minum lah sedikit agar ibu tidak kecewa," tambah Lila.


Narin pun terpaksa mengangguk, kemudian Isna membuat kan kopi di tambah dengan campuran bumbu ala Isna untuk Narin dan Narin meminum nya, kemudian Setelah memastikan Narin sudah meminum kopi nya Isna berkata.


"Ibu tidur sekarang dan kalian bicara saja," ucap Isna dan Lila juga berkata.

__ADS_1


"Aku juga ngantuk Bu..!" sambil berdiri lalu pergi juga.


__ADS_2