
Karen pun senang melihat semangat ayah nya karna ayah nya memamerkan uang nya kepada Karen dan Karen melihat ada banyak harapan di wajah ayah nya, untuk pertama kali nya Karen melihat ayah nya begitu senang bahkan selama dalam ingatan Karen, ekspresi itu belum pernah dia lihat sebelum nya di wajah ayah nya.
Kemudian Ayah Karen pulang ke rumah dan memasak makan malam kemudian mereka bertiga makan bersama dan ayah karen bercerita kepada Mita.
"Mita kamu benar, masakan ku memang enak," ucap ayah Karen sambil makan.
"Memang sangat enak Paman, aku bahkan jadi bertambah gemuk karna tinggal bersama Paman." sahut Mita dalam candaan.
"Mita bisa aja!" ucap ayah nya Karen lagi sambil tersipu malu kemudian berkata lagi.
"Narin mempekerjakan Paman sebagai tukang masak nya dan besok siang Paman mulai bekerja kepada tuan muda," Kemudian mereka semua tertawa lalu Mita berkata.
"Waaah...selamat ya Paman, semoga suatu hari nanti Paman menjadi juru masak di restoran besar," ucap Mita menyemangati ayah Karen dan mereka semua bilang.
"Amin...!"
Keesokan pagi nya, ayah Karen ke pasar, dia membeli daging dan juga ayam kemudian dia memasak, jam makan siang tiba dia pun datang lagi ke kantor wijaya untuk mengantar kan makanan kepada Narin kemudian Narin pun memberikan uang lagi kepada nya, itu terjadi selama 1 bulan hingga pada suatu hari ketika ayah Karen menunggu Narin makan, Narin pun bertanya.
"Paman! menurut ku kalau Paman buka restoran pasti akan ramai," Ayah Karen hanya menghela nafas panjang kemudian berkata.
"Duit dari mana?" Narin pun serius berkata.
"Aku akan membeli sebuah restoran tapi Paman yang mengelola nya, aku juga sepenuh nya menyerahkan semua urusan kepada Paman karna aku tidak faham cara mengelola sebuah restoran karna Paman tahu kan kalau grub Wijaya bergerak di bidang lain."
"Serius kamu mau menjadi kan Paman berguna?" sahut ayah Karen dengan semangat.
"Tentu aku serius dan aku tidak akan mau main-main dengan ucapan ku, aku adalah type pria dengan selera tinggi dan tidak semua makanan bisa dengan mudah aku sukai, arti nya ketika aku jatuh cinta pada masakan Paman maka bisa di pastikan orang lain juga pasti akan menyukai nya." sahut Narin dengan serius kemudian ayah Karen mengangguk.
__ADS_1
Sambil senyum-senyum Ayah Karen pun membereskan tempat makan Narin lalu dia pergi.
Narin kemudian masuk ke ruangan ayah nya tapi saat itu ayah nya belum kembali dari makan siang, setelah menunggu 15 menit ayah nya pun datang dan ketika ayah nya masuk ke ruangan nya dia terkejut melihat Narin yang sudah menunggu nya, dia pun bertanya.
"Narin! kamu tidak makan siang?" tanya ayah nya.
"Justru kedatangan ku kemari karna ada hubungan nya dengan hal itu." jawab Narin.
Kemudian Ayah nya duduk dan Narin mulai bercerita.
"Begini yah! beberapa bulan yang lalu aku bertemu ayah nya Karen nama nya pak Herman, aku juga berteman baik dengan nya selama beberapa waktu ini aku mempekerjakan nya sebagai tukang masak ku dan mengantarkan makan siang keruangan ku setiap hari, masakan nya sangat enak ayah! jadi aku berencana membeli sebuah restoran dan mempekerjakan nya di restoran ku, apakah boleh aku meminjam uang kepada ayah untuk membeli restoran?" ayah nya terdiam sebentar kemudian bertanya.
"Apakah kamu yakin mau mengurus sebuah restoran? selama ini grub Wijaya bergerak di bidang yang berbeda."
"Aku sangat yakin ayah,selama ini ayah nya Karen tidak pernah memiliki pekerjaan dan Karen lah yang membiayai nya." sahut Narin dengan bersemangat.
"Karna ada masalah dengan fisik nya,tapi aku yakin pak Herman bisa di andal kan." sahut Narin.
Kemudian Ayah nya mengangguk tanda setuju dan Narin pun senang, ke esokan hari nya ayah Karen datang lagi membawa kan makanan lagi untuk Narin.
"Paman! aku sudah menemukan tempat yang cocok untuk membuka restoran tidak jauh dari tempat ini nanti Paman jangan langsung pulang tapi tunggu Hanan dan Hanan akan mengantar kan Paman untuk melihat restoran kita kemudian setelah itu Paman minta Hanan mengantar kan Paman pulang ke rumah." ucap Narin memberitahu Herman bahwa dia akan menepati janji nya.
Ayah Karen hanya mampu tersenyum lebar dan dia pun duduk dengan gelisah menunggu kedatangan Hanan tidak lama kemudian Hanan datang dan mereka pun pergi.
Tidak lama kemudian restoran pun resmi di buka setelah 1 minggu Narin datang ke ruangan ayah nya dan berkata.
"Ayah! apakah ayah mau makan di restoran ku di jam makan siang nanti? aku mau mengenal kan ayah kepada juru masak ku."
__ADS_1
Ayah nya pun mengangguk dan jam makan siang mereka berdua pergi ke restoran Narin kemudian Narin bertanya kepada pelayan nya.
"Dimana pak Herman?"
"Di dapur tuan, beliau sedang memasak banyak pesanan." sahut pelayan restoran, Narin pun melihat ke sekeliling nya memang waktu itu jam makan siang jadi restoran sangat ramai lalu Narin dan ayah nya hanya memesan makanan saja dan batal memperkenalkan pak Herman kepada ayah nya, Narin pun bilang.
"Ayah seperti nya ayah harus menunda untuk bertemu pak Herman."
"Tidak masalah, karna aku datang kemari untuk makan dan bukan untuk melihat orang yang membuat makanan nya." sahut ayah nya sambil mengagumi pengunjung restoran yang bahkan sampai antri karna kehabisan meja kosong.
Tidak lama kemudian beberapa hidangan pun di keluarkan dan ayah Narin sangat terkesan dengan masakan nya dia mulai penasaran dengan ayah nya Karen kemudian Narin mengajak ayah nya untuk masuk ke dapur.
Ayah Narin pun bersama Narin berjalan menuju dapur dan ayah Karen sedang berdiri membelakangi pintu masuk itu, kemudian Narin menunjuk ke arah punggung ayah Karen dan berkata.
"Ayah! itu juru masak ku yang sedang berdiri membelakangi kita."
Ayah Narin melihat punggung ayah Karen tapi kemudian tiba tiba ponsel nya berbunyi dan itu dari Hanan yang menyampaikan bahwa ayah Narin kedatangan tamu, mereka menunggu di ruangan nya.
Ayah Narin kemudian berkata kepada Narin.
"Narin lain kali saja kita bertemu juru masak mu itu, karna sekarang ayah sedang buru-buru." tanpa menunggu jawaban Narin, ayah nya langsung pergi, Narin pun menemui pak Herman dan berkata.
"Paman! restoran kita sekarang sangat ramai,apakah Paman berencana mau menambah pegawai?" tanya Narin kemudian ayah Karen pun berkata.
"Terserah tuan muda saja karna saya juga di sini hanya anak buah." sahut nya dengan nada bercanda tapi sebenar nya dia sedang serius.
Kemudian Narin pun diam hanya melihat mereka memasak dan Narin berkata kepada pak Herman.
__ADS_1
"Paman! ajari aku memasak." Pak Herman dengan senang menjawab.