Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda

Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda
Bab 62 Keputusan terberat.


__ADS_3

"Karen! tolong berikan aku kesempatan untuk bisa lebih lama bersama mu," sambil Narin melepas kan pelukan nya.


Ekre datang dari dapur dan di ikuti Aure, kemudian Ekre Berlari lagi ke dapur dan bersembunyi di bawah meja makan, Aure mengikuti nya dan mencari cari adik nya kemudian Aure bergumam.


"Kamu di mana adik ku," Ekre pun kemudian bersin, lalu Aure menemukan Ekre yang sedang bersembunyi di bawah meja makan,Aure memeluk adik nya lalu bertanya.


"Apa yang kamu khawatir kan adik ku?"


"Aku takut ayah atau ibu akan meninggal kan kita lagi," Ekre menangis dalam pelukan Aure tapi Aure cukup bijaksana dan berkata.


"Adik ku, kita tidak bisa memaksa ayah dan ibu untuk melakukan hal sesuai keinginan kita dan biar kan mereka memilih apa yang menurut mereka baik, jika seandainya nanti ayah dan ibu berpisah, kamu ikut ibu dan menjaga ibu, aku akan ikut ayah untuk menjaga ayah dan aku berjanji suatu hari nanti aku akan menyatukan keluarga kita kembali bagaimana pun cara nya, bahkan aku rela menukar nyawa ku untuk itu, tapi tidak sekarang karna sekarang kita masih kecil dan kita tidak memahami situasi mereka, tunggu kita besar dan kita jelas kan kepada orang tua kita agar mereka memahami penjelasan kita." ucap Aure sambil memeluk Ekre, dan Aure menelpon Kanza untuk menceritakan situasi nya saat itu Kanza sedang di rumah Roy dan bergegas datang ke rumah Wijaya.


*****


Karen pun menghela nafas panjang kemudian berkata.


"Baik lah, aku yang akan mengalah! pergi lah dari rumah ini dan bawa istri mu ke tempat yang tidak bisa aku lihat." ucap Karen dengan tegas karna dia tahu Narin tidak akan bisa membuat keputusan jadi dia yang membuat keputusan.


"Karen! tolong berikan aku kesempatan." Narin berharap agar Karen memahami situasi nya.


Karen pun berjalan lagi ke sofa sambil berkata kepada Hanan.

__ADS_1


"Hubungi pengacara ayah dan minta dia mengurus perceraian kami dan pastikan Narin mendapat kan hak nya sesuai wasiat mendiang ayah mertua." perintah Karen dengan tegas.


Hanan memandangi wajah Narin dan Narin hanya menundukkan kepala nya, dia bersandar di tangga dengan melipat tangan nya.


Hanan pun menghubungi pengacara dan tidak lama kemudian datang lah pengacara kemudian.


"Maaf jika aku harus memanggil Bapa' lagi,mari kita bicara di dalam kamar dan kau juga Narin." ucap Karen dengan tanpa ekspresi sambil berjalan menaiki anak tangga, mereka berdua mengikuti Karen berjalan di belakang Karen.


Pembagian harta pun di mulai dan sama seperti sebelum nya harta Wijaya di bagi menjadi dua dan rumah utama Wijaya adalah hak Karen jadi ketika bercerai maka Narin lah yang harus pergi dan perusahaan utama Wijaya yang saat ini di pimpin oleh Hanan adalah hak Narin begitu juga dengan harta lain yang sudah di bagi mertua nya secara terpisah, setelah selesai menjelas kan pengacara pun pergi dan Narin mengikuti pengacara ke bawah sementara Karen berada di kamar nya dan setelah pengacara pulang Narin berkata kepada Hanan.


"Hanan ikut aku." Hanan pun mengikuti Narin ke dalam kamar nya kemudian Narin menyalakan CCTV di kamar itu dan dia meminta Hanan tetap mengurus semua perusahaan nya yang ada di daerah pulau Jawa dan Narin berencana pindah ke bali, Hanan berusaha meminta Narin tetap memilih Karen tapi Narin hanya memiliki satu alasan yaitu dia tidak tega meninggal kan Ningsih karna hanya dia yang di miliki Ningsih dan yang sebenar nya dia ingin Kan dan dia cintai hanyalah Karen.


"Di mana si kembar?" merasa di cari si kembar pun datang lalu memeluk ibu nya dan tidak lama kemudian Narin juga turun bersama Hanan dan berkata.


"Ningsih! berkemas lah karna kita akan meninggal kan rumah ini." Ningsih pun kaget karna dia berharap Karen yang akan di usir tapi dia senang karna di sini dia lah yang menang dia pun segera ke kamar dan membereskan semua pakaian nya dan juga pakaian Narin kemudian Narin mendekati anak-anak nya dan bertanya.


"Siapa yang mau ikut ayah?" pertanyaan Narin membuat hancur jantung Karen karna dia akan berpisah dengan salah satu anak nya tapi dia tidak bisa melarang itu karna keputusan pengacara memang sudah seperti itu.


"Ekre akan menjaga ibu dan aku akan menjaga ayah." sahut Aure dengan berharap masih bisa sering bertemu Ekre di sekolah setiap hari karna dia berfikir ayah nya tidak akan bisa jauh meninggal kan ibu nya.


Narin memeluk ke dua anak nya dan memerintah kan Hanan.

__ADS_1


"Hanan! bantu Aure untuk berkemas!" kemudian Hanan melakukan perintah Narin pergi ke kamar Aure dan Narin duduk di sofa memeluk Ekre, Karen juga pergi ke kamar Aure dan menangis sambil memeluk Aure karna dia tahu Aure akan pergi jauh dan bahkan mungkin tidak akan lagi bisa dia lihat.


Setelah selesai berkemas mereka pun berkumpul di ruang tamu dan sebelum pergi Narin memeluk Karen untuk yang terakhir.


"Karen, keputusan ini aku ambil karna aku tidak punya pilihan, tapi kamu harus tahu aku tidak pernah ingin membenci mu." ucap Narin dengan sedih, tapi Karen tidak bereaksi apa pun dan dia seolah kehabisan air mata untuk Narin, dia pun kemudian memalingkan wajah nya dan berjalan ke tempat Aure lalu memeluk nya, Kanza datang dari luar dan berkata.


"Ayah! ibu!" kemudian Aure memeluk Kanza dan berkata.


"Kaka Kanza, tolong jaga ibu." ucap nya sambil menangis, semua orang menangis karna perpisahan itu kecuali Ningsih dan dengan air mata Aure memeluk semua orang satu persatu lalu dia mengikuti ayah nya keluar meninggalkan rumah Wijaya.


Tempat yang akan di tuju Narin adalah Bali karna hotel berbintang milik nya juga ada beberapa di bali, tapi karna cuaca buruk penerbangan ke Bali tidak tersedia, Narin pun mampir di hotel nya untuk menginap sampai penerbangan tersedia, kemudian Narin pun berbaring di ranjang hotel, Aure juga berbaring di samping Narin, tapi Ningsih tidak mau tidur, dia berkata.


"Suami ku, aku mau mencari makanan keluar apakah kamu juga mau makan sesuatu?"


"Tidak sayang! kamu saja yang makan aku mau tidur." sahut Narin dengan lembut.


"Tapi kalau aku mau kembali lagi ke sini aku bilang apa sama tukang ojek?" tanya Ningsih kepada Narin.


"Hotel Narin Wijaya, yang berdekatan dengan hotel Karen Wijaya." sahut Narin singkat, kemudian Ningsih keluar naik ojek dengan tujuan Bar pesona mutiara, setiba nya di tempat itu Ningsih di sambut Isna dengan senyum bahagia dan rasa kepo yang segunung.


"Hy Ningsih! kenapa baru datang? ayo masuk." ucap Isna, kemudian mereka masuk dan Ningsih duduk di sofa.

__ADS_1


__ADS_2