Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda

Dipaksa Menikah Dengan Tuan Muda
Bab 61 Mengingat kembali.


__ADS_3

Narin pun menggendong Karen menuju kamar Karen dan Ningsih mengikuti mereka dengan hati yang terluka, Narin menutup pintu kamar dan membantu Karen mengganti baju nya dan kali ini hati Ningsih yang hancur, dia menangis di dalam kamar nya, rasa iri nya menguasai hati nya.


Setelah selesai urusan nya dengan Karen, kemudian Narin pergi ke kamar Ningsih, tapi Narin hanya datang untuk mengambil bantal lalu tidur di luar, di sofa diantara kamar Ningsih dan kamar Karen, karna dia bingung siapa yang harus dia pilih, malam itu Ningsih berfikir Narin tidur di kamar Karen begitu juga sebaliknya, Karen juga berfikir Narin lebih memilih tidur dengan Ningsih.


Pagi pun datang, kemudian Karen membuka pintu kamar nya, dia terkejut melihat Narin yang tidur di luar dan dia ingin Narin segera memutus kan wanita mana yang akan dia pilih, Karen pun mengambil selimut dari kamar nya dan meletakan nya di tubuh Narin sehingga membuat Narin terbangun.


"Selamat pagi," ucap Narin sambil melipat selimut itu dia berjalan menuju ke dalam kamar Karen kemudian meletakan selimut nya di atas ranjang Karen, Karen pun mengikuti nya di belakang dan ketika Narin keluar dari kamar Karen di saat yang sama Ningsih juga keluar dari kamar nya dan Ningsih lewat di depan Narin sambil cemberut ke arah Narin.


"Selamat pagi," Narin menyapa Ningsih tapi Ningsih cuek dan mengabaikan Narin yang heran melihat kelakuan istri nya.


"Dia kenapa?" tanya Narin kepada Karen sambil menunjuk ke arah istri nya yang sudah pergi jauh di bawah tangga.


"Tanya dia." jawab Karen cuek kemudian pergi meninggal kan Narin.


Pagi itu fikiran Karen tidak menentu dan dia tidak faham keputusan apa yang harus dia ambil atau jalan apa yang harus dia pilih dan tanpa sadar dia melihat ke arah pohon mangga di depan rumah nya yang sedang berbuah dan ada beberapa mangga muda,Karen ingat saat dia melempar mangga dan di kejar tawon, dia memang memandangi mangga muda tapi yang di fikiran nya adalah hal lain dan di saat yang sama Narin datang dan bertanya.


"Apakah kamu mau mangga muda? akan aku ambil kan dengan kayu panjang itu dan jangan di lempari nanti ada tawon lagi yang beterbangan." ucap Narin dengan sedikit bercanda tapi Karen tidak pokus pada apapun dan dia bahkan tidak merespon ucapan Narin Karna Karen hanya memandangi Narin dan tidak konsentrasi pada yang di katakan Narin.


Kemudian Karen melihat lagi ke pohon mangga itu, tidak lama kemudian Narin datang dengan membawa kayu yang panjang, lalu dengan kayu itu Narin memukul buah mangga muda kesukaan Karen dan tanpa di duga buah mangga muda jatuh dan mendarat tepat di pipi kanan Narin.


"Aaaw....!!!" teriak Narin karna terkejut dan merasa sakit, sambil Narin memegang pipi nya yang merah dan tanpa ekspresi Karen bertanya.

__ADS_1


"Bagaimana rasa nya?"


"Rasa nya seperti di tampar orang gila." sahut Narin sambil memegang pipi nya dan Karen pun hanya bilang.


"Ooo..." lalu pergi meninggal kan Narin sendirian, Narin memahami suasana hati Karen dan dia pun sedang dalam dilema karna dia tidak tega meninggal kan Ningsih yang hanya memiliki diri nya saja dan di satu sisi dia mengharap kan selama nya bersama Karen karna biar bagaimana pun juga Karen adalah istri pertama nya dan ibu dari anak-anak nya.


Ada badai tersembunyi di hati ke tiga orang itu dan tidak ada yang bisa mengetahui apa yang akan terjadi esok.


Karen duduk sendirian di sofa sambil melamun dan datang lah Ningsih dari atas yang bertanya kepada Karen.


"Dimana suamiku?" Karen hanya memandangi ke wajah Ningsih tanpa berniat bicara apapun, Ningsih yang kesal kemudian pergi keluar rumah dan melihat Narin duduk melamun di bawah pohon mangga, Ningsih datang mendekati Narin kemudian berkata.


"Suamiku." Ningsih memeluk Narin tapi Narin melepas kan pelukan itu dengan berkata.


"Kalau kamu meninggal kan ku maka aku akan bunuh diri karna aku tidak punya apa-apa dan aku tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini dan kamu sangat tahu kalau aku hanya memiliki mu saja dalam hidup ku ini." ucap Ningsih sambil menangis dan hanya Ningsih yang tahu apakah itu air mata buaya atau air mata biawak.


Narin pun dalam dilema dan dia tidak faham bagaimana cara dia menyelesaikan masalah ini dan kalau Narin boleh jujur dia lebih memilih Karen andai Ningsih masih memiliki keluarga.


Narin kali ini mengabaikan tangisan Ningsih dengan berkata.


"Aku mau mandi." kemudian Narin pergi meninggal kan Ningsih.

__ADS_1


Narin melihat Karen duduk melamun di sofa ruang tamu dan Hanan juga datang bersama Mita dari dapur kemudian Hanan bertanya.


"Narin apakah kamu baik-baik saja? wajah mu kenapa?" tanya Hanan, karna masih terlihat merah di pipi Narin dan Hanan berfikir Karen menampar nya.


Narin memegang pipi kanan nya dan dia melirik ke arah Karen yang sedang melamun dengan pandanga Karen lurus ke depan dengan tatapan hampa.


Mita mendekati Karen kemudian memeluk nya dan Hanan duduk di sofa lain, Narin juga duduk di bangku lain dan baru datang Ningsih langsung menempel kepada nya tapi Narin selalu berusaha melepas kan pelukan Ningsih yang di anggap Narin sangat mengganggu nya.


"Apakah kamu mau makan." tanya Mita kepada Karen, Karen pun menggelengkan kepala nya kemudian dia memejamkan mata nya dalam pelukan Mita.


"Karen, bicara lah dengan ku." ucap Narin yang tidak faham dengan sikap Karen.


"Aku ingin kamu memilih." sahut Karen dengan mata terpejam karna dia tahu jika dia memandang wajah Narin dia tidak akan tega bersikap tegas kepada Narin.


"Karen, tolong mengerti lah posisi ku." sahut Narin, kemudian Narin bersujud di depan Karen dan memegang Kaki Karen.


"Aku tidak punya waktu untuk memahami apa pun karna hati ku sedang tidak baik-baik saja." sahut Karen dengan suara bergetar karna menahan tangis nya.


"Aku tidak ingin kita berpisah tapi aku juga tidak bisa meninggal kan Ningsih lalu apa yang harus aku lakukan?" Suara Narin terdengar seperti sedang merasa kan rasa sakit ketika mengatakan itu.


"Hanya ada satu yang akan bertahan." Karen membuka mata nya dan memandangi Narin.

__ADS_1


"Dia? atau aku!" ucap Karen tegas sambil tangan kanan nya menunjuk ke arah Ningsih kemudian menunjuk ke arah nya juga.


"Karen! jangan seperti ini, aku janji aku akan bersikap adil, aku mohon Karen." pinta Narin, Karen pun kemudian berdiri dan berjalan menuju anak tangga bermaksud mau meninggal kan mereka tapi Narin mengejar nya dan memeluk nya, Karen berusaha melepas kan pelukan nya tapi Narin semakin kuat memeluk nya dan Ningsih merasa kesal melihat adegan itu, Ningsih pun juga menaiki anak tangga ingin pergi ke kamar nya tapi tangan Ningsih di tangkap oleh Narin, Narin memegangi tangan Ningsih, tapi Ningsih tidak berusaha meronta dan dia memandangi Narin dengan wajah penuh harap.


__ADS_2