
ELLE WEDDING.
[Episode 21 ~ Hati Istri]
Shaila
Ia termenung, dan termenung... apakah sesakit ini?
" Nggak baik lagi hamil melamun terus. " Kata Sheryl yang langsung membuyarkan lamunannya.
" Eh? " responnya kaget.
" Kalau ada apa-apa cerita aja Sha, jangan di pendam sendirian... kamu masih punya keluarga walaupun sekarang kamu udah nikah. " Kata Sheryl, ingin sekali ia bercerita tapi ia tidak ingin membuat keluarganya khawatir.
Membicarakan ini menjadi aib suaminya dan menjadi rahasia antara suami-istri dan jangan sampai orang lain mengetahuinya.
" Tidak apa-apa Akak, Sha belum siap untuk mengatakan apapun itu. " Kata Sha pada akhirnya dengan senyuman lebar nya agar kembarannya tidak terlalu khawatir.
Akh ikatan antara saudara kembar!
" Okeh! Akak mencoba mengerti, kapanpun itu kalau Sha mau cerita...Akak siap untuk mendengarkannya. " Kata Sheryl mencoba memahami posisi adik kembarnya itu.
" Iya Akak. " Kata Sha langsung memeluk Sheryl dan memejamkan matanya untuk menghalau air matanya yang akan jatuh.
Ia tidak ingin membuat Sheryl sedih ataupun khawatir.
Elle
Ia sedang menyetir dengan Tante Nana berada di sampingnya dan Dea ada di belakang dan mereka sesekali mengobrol.
" Wih ada apaan itu. " Kata Dea berkata lebih dulu saat melihat orang-orang berkerumun di pinggir jalan dan itu membuat jalananya macet.
" Kayaknya lagi berantem tuh De! " kata Tante Nana dan ternyata benar ada yang lagi berantem terdengar suara yang keras...
Woy jadi laki nggak becus amat.
Terdengar sampai ke dalam mobil karena suaranya yang keras dan juga dekat dengan jalan bahkan hampir di tengah jalan.
" Ni orang nggak mikir apa ya? Berantem kok di depan umum! Nggak tau malu. " Gerutunya lagi saat macet malah tambah parah karena jalan di penuhi dengan orang-orang yang mau menonton pertengkaran itu.
" Bukan di lerai malah di kerumuni, tuh mana ada anak kecil nangis mesti anaknya itu. " Katanya lagi sambil menggerutu.
" Orang tua yang bermasalah anak kecil yang jadi korban. " Kata Tante Nana melirik penuh arti kepadanya dan ia hanya terus saja menyetir dan pura-pura tidak tau.
Huh menyebalkan, maksudnya apa coba?
__ADS_1
" Iya Abang? "
" Iya, ih cerewet. "
" Hm,, walaikumsalam. "
" Cie siapa itu? " tanya Tante Nana entah darimana datangnya.
" Ih Tan, jangan muncul tiba-tiba ngapa. " Katanya lagi dengan kesal.
" Ealah, santuy ngapa Ell, kamu aja yang nggak nyadar... Orang Tante udah daritadi di sini kok, kamu aja yang keasikan nelfon sama A.B.A.N.G jadinya nggak ngeh (tau) " kata kata Tante Nana dengan penuh penekanan di kalimat Abang yang membuatnya berdecak sebal.
" Apaan sih Tan. " Katanya lagi dan pergi dari sana karena sedang malas kalau di tanyain apapun itu.
__
Ia termenung di ruangan kerjanya sambil memejamkan matanya.
Ia merasakan bodoh karena mencintai Abang Ars dan semakin terperangkap dengan keadaan yang tidak memungkinkan dirinya untuk memiliki Abang Ars karena Abang Ars sudah memiliki istri dan sebentar lagi akan menjadi seorang Daddy.
Dan selama kebimbangan hatinya ini, ia tidak pernah bertemu dengan Abang Ars lagi dan mengabaikan semua pesan yang Abang Ars kirim kepadanya dan lebih memilih untuk menepi karena badai akan menerpanya, kalau ia semakin ngotot (maksa) untuk melewatinya tanpa berfikir panjang seperti yang dikatakan Tante Nana kepadanya maka akan menjadi boomerang untuknya.
Saat termenung seperti ini, ia mengingat masa kecilnya...
Masa kecil Elle...
" Yaelah yang habis dibelikan motor. " Kata Alim dengan sebal.
Dan ia hanya diam tanpa berkata apapun karena ia tidak punya motor walaupun dalam hatinya ia ingin sekali menyakar Yuli itu yang suka pamer itu.
Begini biar ia ceritakan..
Ia masih kelas tiga sekolah menengah pertama dan itu pun di Desa dan jaraknya tidak terlalu jauh dan biasanya juga memakai sepeda untuk kendaraannya.
Tapi entah ada apa akhir-akhir ini semua temannya memakai motor sebagai kendaraan.
Dan itu juga sebagian semua temannya memiliki motor untuk mereka bawa ke sekolah.
Dan yang belum mempunyai adalah ia, Alim dan Yuli yang rumahnya berdekatan dan sebagian temannya rumahnya tidak jauh dari sekolah jadi bisa jalan kaki saja.
Sebenarnya ia dan Alim selalu sama pendapatnya dan terkadang tidak menyukai Yuli yang suka ngomongin ia dan Alim di belakang tapi kalau di depan, beuh... pura-pura baik seperti muka Gedeg (tidak tau malu).
Bukannya ia tidak mau berteman dengan Yuli, dia sih ok aja tapi terkadang sifatnya yang sok kaya membuatnya sebal dan terkadang memusuhi Yuli walaupun nanti pada akhirnya baikan lagi.
Bukan ia yang memulai tapi Yuli yang memulai duluan dan sebagai orang yang tidak sudi di tindas maka ia melawan tanpa takut.
Memang siapa Yuli itu?
__ADS_1
Tapi ada suatu peristiwa yang membuatnya begitu sebal dengan Yuli itu.
" Eh Yul, rumahmu baru di bangun ya? " tanya salah satu teman sekelasnya pada Yuli.
" Iya, aku juga baru dibelikan motor. " Kata Yuli lagi dengan melirik kepadanya angkuh.
Cih!
Dan sejak saat itu ia merasakan begitu sebal karena begitu banyak kekurangan yang ia milikinya.
Mengapa nasibnya begitu sengsara?
Walaupun begitu ia mencoba banyak cara, seperti menghubungi Buk'e yang berada di Jakarta untuk membelikannya motor karena semua temannya memiliki motor lagian motor untuk di pakai sehari-hari di kampung begitu murah jadi menurutnya Buk'e pasti bisa membelikannya motor.
" Aku nggak bisa belikan kamu motor Ell, nggak punya duit. " Kata Buk'e yang begitu beralasan dan tanpa pikir panjang ia pun mematikan sambungan telepon itu dan begitu sebal.
Ah apakah begini rasanya menjadi anak yatim dan diabaikan Buk'e?
Bahkan perkataan itu terdengar seperti kamu sudah menjadi anak yatim-piatu.
Sebenarnya ia akan maklum saja kalau Buk'e mengatakan...
" Aku tidak punya uang dan akan mengirimkan motor yang baru saja Buk'e beli ke kampung untuk kamu sekolah. "
Tapi semua perkataan itu hanya ada di anganya saja karena yang terjadi justru sebaliknya.
Karena motor itu di pakai Ayah tirinya dan yang membayar menggunakan uang Buk'e.
Uh benar-benar diporoti dan setelah sebulan kemudian ia mendengar kalau motor yang di beli berjuta-juta itu di gadaikan dan ia hanya diam tidak ingin ikut campur.
Sudah cukup hatinya di buat sakit hati sekarang ia hanya ingin cepat lulus sekolah menengah pertama dan mencari kerja sendiri dan mandiri tak mau merepotkan siapapun karena ia sudah mengerti situasi yang ada ini, situasi di mana ia tidak diinginkan siapapun dan hanya ada Mbah yang selalu sayang padanya karena saat Buk'e sudah menikah lagi maka ia hanya dengan Mbah, ia sudah tidak peduli dengan Buk'e lagi.
Dan yang ia lakukan adalah menebeng dengan teman sekolahnya yang rumahnya berdekatan dengannya dan itu adalah seorang cowo tapi tidak masalah.
Dan mendekati ujian nasional ia tidak mempunyai teman perempuan hanya beberapa dan mereka semua membicarakan tentang meneruskan sekolah menengah atas di yayasan yang sama dan saat ia di tanyain hanya tersenyum menanggapinya karena ia tau kalau Buk'e tidak mau membiyai sekolahnya dan harus sampai sekolah menengah pertama saja.
Ia tersentak dari lamunannya saat mendengar ponselnya berbunyi.
Dan langsung merebahkan kepalanya di meja dan merasakan sedih saat mengingat masa kecilnya yang begitu menyedihkan.
Masa kecil yang penuh dengan iri dan dengki karena tidak kemampuannya memiliki apa yang dimiliki temannya sebayanya karena ia adalah anak orang miskin dan tidak mampu.
Walaupun ia penuh iri dan dengki tidak membuatnya nakal dan suka mencuri, ia adalah anak yang baik dan memendam semua perasaannya itu, dan itu menjadikannya untuk sukses suatu hari nanti dan membawa Mbah untuk hidup enak dengannya... ia berjanji.
Ia harus tetap semangat.
" Heh Ell melamun lagi. " Kata Tante Nana langsung membuyarkan lamunannya dan menegakkan kepalanya.
__ADS_1