ELLE WEDDING Series

ELLE WEDDING Series
Tegas


__ADS_3


...ELLE WEDDING Series...


...Prahara Pernikahan...


...[Tegas]...


Elle


Ia tetap menyesap teh tanpa gula dengan lagu sedih yang ia putar.


Hidup yang sulit!


Ia ingin rasanya menangis tapi ia tahan karena ia enggan untuk di tanya Abang Ars nanti karena untuk saat ini ia merasa akan menjauh dan enggan untuk mendekat.


Ia sedang menata hati.


" Elle. " Panggil seseorang bertepatan dengan headset yang ia pakai di lepaskan.


Dan saat ia melihat ternyata Abang Ars yang melihat dengan tatapan kesal.


Kenapa?


" Apasih? Bikin kaget aja ketok pintu dulu kek, apa kek. " Katanya malah balik sewot.


Entahlah! Sekarang ia begitu jengkel dengan Sheryl yang suka ikut campur dan Abang Ars sebagai kepala keluarga tidak bisa tegas dan tidak bisa melindungi istrinya, lalu apakah Abang Ars bisa melindungi anaknya kelak?


" Abang udah ketok pintu ya dek, kamu aja yang nggak dengar. " Kata Abang Ars yang malah duduk di kursi yang ada di hadapannya dan sekarang ia sedang berhadapan tapi ia enggan melihat ke arah Abang Ars dan memilih untuk memalingkan wajahnya dan melihat keluar jendela.


" Bertahanlah Ell. " Suara hati.


" Abang ada apa kesini? " tanyanya lagi dan enggan melihat ke arah Abang Ars dan masih melihat keluar jendela.


" Kenapa? Abang nggak boleh masuk kedalam kamar istri Abang sendiri? " kata Abang Ars yang langsung skakmat.


Ia langsung bungkam dan lebih memilih diam saja karena ia tau Abang Ars sudah mulai kesal padanya begitu juga dengan dirinya yang begitu kesal.


Kesal dengan keadaan.


Mereka masih terdiam, ia tau kalau Abang Ars sedari tadi melihat ke arahnya tapi ia memilih acuh dan ia memposisikan untuk menghadap penuh ke arah jendela.


Ia menekuk kakinya di atas sofa dan ia pangku semangkok camilan dan tidak lupa teh hangat yang sedari tadi masih mengepulkan asap karena ia menaruh di tempat khusus agar tetap hangat.

__ADS_1


Ia makan camilan, melihat hujan yang turun.


Menang kalau di lihat tidak ada yang spesial tapi menurutnya sangat spesial karena ia bisa melihat, berfikir dengan melihat air hujan yang terjatuh.


Huh!


Ia menggelengkan kepalanya karena sepertinya terlalu berat pikirannya ini karena masih pagi-pagi.


" Dek! " panggil Abang Ars yang sedari tadi diam.


Dan dengan spontan ia melihat kearah Abang Ars dan memalingkan wajahnya lagi saat Abang Ars enggan untuk berkata lagi.


" Apa kamu nggak ada rasa cinta untuk Abang? " tanya Abang Ars dengan entengnya.


Rasa cinta?


Kalau pun ada, ia lebih memilih diam dan enggan untuk mengatakan ataupun mengungkapkan apa yang ia rasakan.


Hatinya sudah mati.


" Rasa cinta apa yang sedang Abang tanyakan? Aku disini juga karena Abang jebak dan Abang paksa? Haruskah aku mencintai pria seperti itu? " jawabnya malah berbalik bertanya.


" Abang tau apa yang kamu rasakan dek, Abang bisa melihat dari mata kamu. " Kata Abang Ars lagi seperti pujangga cinta tapi ia bukanlah ABG yang akan tersipu karena rayuan receh seperti itu.


Ia sudah bilang kan? Hatinya sudah mati dan kebas!


" Abang... "


" Kalau aku mengatakan seperti apa yang Abang inginkan, apa yang Abang lakukan hah? Tidak perlu serakah, cukup dengan Akak Sha, aku sudah muak dan trauma yang namanya pernikahan dan aku masih bertahan disini hanya karena Ella bukan karena siapapun itu. " Katanya lagi untuk menegaskan agar Abang Ars tidak perlu memikirkan perasaan yang terluka jika melihat Abang Ars bersama dengan Sha.


Memang apa haknya?


Bahkan ia tidak punya!


Ia disini hanya karena Ella!


" Abang mendingan keluar aja deh, masih pagi nggak perlu membahas hal berat seperti ini yang ujung-ujungnya selalu nge stuck (buntu) nggak ada jalan keluar! Dan satu-satunya jalan keluar ada perjanjian yang sudah di buat, Abang jangan lupa dengan isi dan kesepakatan yang sudah di setujui dan jangan sampai melenceng dari visi misi, ingat bang! Jangan stupid (bodoh) hanya karena cinta apalagi wanita seperti ku ini... " Katanya lagi dan enggan menatap Abang Ars yang sudah memegang dan marah dengan kata-kata yang ia ucapkan tapi ia tidak peduli.


Ia diam dan menemui menjadi istri kedua dan juga mau saja serumah dengan Sha ya hanya karena perjanjian yang sudah di sepakati.


Bahkan di dalam perjanjian itu akan ada batas waktu dan lainnya sebagainya.


Dan sebelum saat itu tiba ia harus bersabar dan tenang untuk menghadapi prahara rumah tangga ini.

__ADS_1


" Bukankah kata-katamu terlalu keterlaluan dengan kepala keluarga dek? Kenapa kamu malah semakin menjadi? " kata Abang Ars dengan lirih dan ia bisa merasakan dan mendengar kalau ada kemarahan disana.


" Jangan bicara soalnya keterlaluan! Bukankah Abang juga sudah keterlaluan disaat di Bandara? Mencegah aku untuk kembali ke Ibu Kota hanya karena ke egois an Abang semata? " katanya balik bertanya.


" Abang hanya memastikan kalau Ella mendapatkan hak yang sama seperti Arsy karena mereka berdua adalah anak Abang. " Kata Abang Ars yang tidak mau kalah.


" Hak apa yang Abang maksud itu? Apa Abang lupa apa pura-pura lupa? Ella adalah anak di LUAR NIKAH, Ella tidak bisa menuntut apapun dari Abang karena sejak Ella hadir nasab nya ada padaku Ibu kandung nya! Apakah sekarang Abang mengerti? Kalau Ella dan Arsy berbeda dalam hal apapun itu dan semua yang terjadi, siapa yang kalah dan merasakan aib dan di caci nanti? Ella dan aku. " Katanya lagi sambil mengadahkan wajahnya karena air matanya siap tumpah kapan saja.


" Lalu Abang tanggung jawab soal apa? Harta? Tahta? atau Cinta? Ella tidak bisa mendapatkan semua itu dari Abang, karena apa? karena Ella adalah anak di LUAR NIKAH! " katanya lagi dengan pelan dan penuh penekanan.


" Tanpa Abang biayai, aku sebagai Ibu kandung Ella bisa mengurus anak ku sendiri karena aku tidak se miskin itu ya walaupun aku tidak sekaya Abang Ars tapi aku jamin hidup Ella tidak akan pernah sengsara dan mungkin kalau waktu itu Abang Ars tidak men cegat di Bandara mungkin aku bisa mencarikan Ayah untuk Ella yang bisa menerima kami dengan apa adanya, bukan di tempatkan di situasi yang di ujung tanduk dan tidak menguntungkan sama sekali. " Kata lagi mengeluarkan unek-uneknya.


Ia bisa melihat Abang Ars semakin marah saat ia mengatakan soal Ayah baru untuk Ella.


Tapi ia tidak peduli, ia melakukan itu agar Isa sadar dan tidak serakah.


Menggapai dua wanita sekaligus.


Ia tau kalau Abang Ars sekarang adalah suaminya tapi ia harus mengeluarkan unek-uneknya agar Abang Ars sadar bahwa tidak semua orang akan memuji nya karena dia tampan, kaya dan dari keluarga terpandang.


Ia ingin Abang Ars sadar bahwa ada dimana saat hidup tidak memikirkan diri sendiri tapi juga memikirkan sebab akibat dari perbuatan yang sudah dilakukan.


" Abang tau kalau kamu akan benci pada Abang tapi Abang tidak menyangka kalau kamu akan se benci ini pada Abang. " Kata Abang Ars setelah bisa mengendalikan emosi karena dia tidak mungkin berteriak d dalam kamar ini karena ada Ella yang sedang tertidur di ranjang dan ia juga sudah mengatakan kalau ia sangat benci pada pria yang berteriak saat marah apalagi sampai nama hewan satu kebun bintang sampai keluar.


Ia sangat benci karena mengingatkan pada masa remajanya yang begitu blangsak (sengsara).


" Bukankah sudah seharusnya? Bukankah kalau aku tidak membenci Abang itu adalah suatu ke aneh an? Abang memperkosa seorang gadis sampai hamil, itu adalah tindak kejahatan, bukankah adalah hal wajar kalau korban (Elle) membenci pelaku (Abang Ars) kejahatan itu? " katanya lagi dengan sarkas dan langsung membungkam Abang Ars seketika.


Ia tidak percaya mengatakan hal ini lagi, begitu banyak hal yang terjadi di hidupnya.


" Benar apa yang kamu katakan dek! Apa tidak ada maaf untuk Abang? " tanya Abang Ars lagi.


Ia hanya tertawa sumbang mendengar itu.


Maaf?


-


Popularitas Novel ini sudah mencapai 10k yeayπŸŽŠπŸ€­πŸ€—


Segitu aja author udah senang banget hihihihihihi 🀣 semoga akhir bulan nanti bisa mencapai 50k... AminπŸ˜‡


Kasih Like ya genks biar author semangat up πŸ€—β£οΈ

__ADS_1


Dan juga, author selalu menunggu komentar kalian yang selalu membuat author lebih semangat... terus up dan terus ngetik ✍️😘🌹


Sehat selalu semuanya πŸ˜‡πŸ€—


__ADS_2