
ELLE WEDDING.
[Episode 34 ~ Positif]
Elle
Setelah ia dinyatakan positif hamil, ia hanya berada di dalam rumah terus menerus untuk menghindari orang-orang yang mungkin kenal dengannya di luar sana.
Ia hanya ia hidup tenang seperti ini, sendiri dan tanpa mengandalkan orang lain selain diri sendiri.
Ia sedang berada di ruang televisi untuk menonton televisi karena ia sedang berada di rumah sendirian karena Tante Nana dan Dea belum juga kesini.
" Heh! kok tontonan nya nggak ada yang bagus. " Katanya malas sambil memencet remot dan memindahkan channel televisi.
Ah gabut nya!
Dan ia pun memilih untuk memainkan ponsel saja.
Dan di ponsel juga sama tidak ada yang bagus.
Ia tiba-tiba melamun saat sendirian seperti ini, memikirkan beberapa hal dan merenungkan nya.
Memikirkan apa yang harus ia lakukan kedepannya, dan juga memikirkan masa depan yang cerah.
" Mama janji kamu akan memiliki masa depan yang cerah nak. " Katanya sambil membelai perutnya.
Flashback...
Ia sedang rebahan di atas kasur kecil sempit dab pendek di sebuah kontrakan di Ibu Kota.
Ia sekarang hanyalah lulusan sekolah menengah pertama dan apa yang bisa ia lakukan dengan ijazah itu?
Tentu saja pekerjaan tukang bersih-bersih atau Art, tidak ada yang bisa ia lakukan selain menerima takdirnya.
Terkadang ia merasakan iri dengan teman sebayanya yang memiliki keluarga bahagia dan juga bisa bersekolah.
Sedangkan dia?
Harus menjadi Art di usia muda untuk mencari sesuap nasi padahal seharusnya seusai dia harusnya belajar bukan bekerja.
Ah malang nasibnya.
Benar-benar hidup ini kejam untuk gadis belia seperti nya.
Kalau dulu bisa memilih ia ingin orang tua yang bisa menyayangi nya dengan tulus dan memerhatikan masa depannya bukan sekarang, di usia belia sudah di suruh mencari uang sendiri dan menjadi Art.
" Ell nanti lu mau berangkat jam berapa? " tanya Buk'e tapi ia memilih diam, dialah orang yang menyuruhku menjadi Art.
Haruskah aku membencinya?
Karena telah memberikan masa depan yang buruk!
Ia diam saja tanpa ingin menjawab sungguh, rasanya sekarang ia sangat mwmbeci Buk'e dan semakin mwmbeci saat ia harus tinggal satu kontrakan sempit dengan Bapak tiri.
Definisi sungguh tidak berdaya.
--
Ia sedang berjalan menuju ke rumah majikannya yang akan ia bersihkan dan di sepanjang perjalanan ia melihat anak-anak yang berseragam SMA yang sedang melintas karena baru pulang sekolah.
Ia hanya bisa melihat itu dengan tatapan iri.
" Seandainya aku bisa sekolah. " Katanya sedih.
__ADS_1
--
Seharusnya ia yang memilih sendiri ingin orang tua yang bagaimana?
Sebenarnya orang tua yang berhutang kepada anak karena sudah membuat nya ada di dunia ini.
Karena tanpa orang tua anak tidak akan pernah ada.
Dan kalau sudah mempunyai anak, seharusnya orang tua memikirkan masa depan anaknya, masa depan yang cerah.
Bagaimanapun orang tua harus memberikan kehidupan yang layak.
Karena itu adalah tanggung jawab orang tua kepada anaknya.
Memastikan kalau anaknya akan menjadi orang yang sukses di masa depan.
Arsya
Ia masih berbaring di atas tempat tidur dengan Sha yang masih tertidur di pelukan dengan peluh yang membanjiri seluruh permukaan kulit dan berkahir dengan tubuh yang polos dan kenikmatan duniawi.
Ia masih memandangi Sha, dan tiba-tiba suara baby Arsy melengking menangis dan itu membuatnya langsung beranjak.
" Biar aku saja yang ambil. " Katanya sambil mengecup sekilas kening Sha dan segera bangun dan memakai celana pendeknya.
" Ini. " Katanya menyerahkan baby Arsy setelah sebelumnya Sha sudah membersihkan dua bukit kembar nya karena habis ia hisap tadi.
Setelah memposisikan baby Arsy dengan tenang ia langsung memeluk Sha dari belakang dan melihat baby Arsy yang sedang menyusu sambil mengelus paha baby Arsy.
Ia tersenyum melihat buah hatinya itu yang terlihat sangat rakus menghisap sumber kehidupan.
" Ini baby Arsy belum selesai Abang! " kata Sha lirih saat merasakan salah satu bukti kembaran di elus dan di telusuri yang membuatnya meremang seketika.
Dan ia diam tanpa menjawab tapi kepala ia letakkan di pundak Sha dan memberikan kecupan-kecupan kecil.
" Abang! " kata Sha lirih yang sekarang sudah terpancing dengan gairah.
" Ini baby Arsy juga udah Abang pegang kalau kamu takut lemes nanti, pokoknya kamu susui baby Arsy dan cukup nikmati apa yang aku lakukan. " Katanya mesum dan memulai apa yang dia ingat sedari tadi.
Dan Sha tidak berbicara lagi saat ia mulai melakukan hal-hal pada area kesukaannya.
Apalagi suara Sha yang lirih dengan gerakan gelisah membuatnya ikut tertantang melakukan hal-hal yang berkahir dengan kenikmatan duniawi.
" Ini Baby Arsy baringkan di box, udah selesai nyusu. " Kata Sha dengan lirih karena daritadi berusaha menahan *******.
Dan dengan senang hati ia mengambil baby Arsy dan menaruhnya di box bayi kalau sudah seperti ini ia bisa melakukan dengan Sha lebih bebas, untuk mendapatkan kenikmatan duniawi.
Ia melakukan nya lagi entah untuk yang keberapa kalinya, tapi ia yakin kalau ini tidak akan berkahir sebentar.
Elle
Ia sedang muntah-muntah di depan wastafel di kamar mandi tapi tidak ada yang keluar dan itu membuatnya lemas seketika.
Ia rasanya ingin menangis saja.
Setelah muntah-muntah nya reda ia langsung terduduk di bawah wastafel dengan mata yang terpejam dan kedua tangan memegang perutnya.
" Kamu jadilah anak yang baik ya. " Kata sambil mengelus perutnya seolah-olah sedang berbicara dengan bayi yang masih berada dalam kandungan.
Dan setelah merasakan lebih baik, ia pun langsung jalan perjalanan menuju ruang televisi dan duduk di sofa yang ada di sana.
Ia meringkuk karena merasa pusing dan lebih memilih berbaring saja.
Tanpa sadar ia memejamkan mata dan merasakan sangat mengantuk karena hormon hamil muda ia merasakan lebih mudah lelah dan capek.
Apapun yang akan di lakukan nya selalu malas dan ingin rebahan saja di rumah tanpa melakukan apapun.
__ADS_1
Huhff bayi ini sungguh membuat merasakan jiwa malas yang ingin selonjoran saja.
--
" Nih wedang jahe Ell. " Kata Dea sambil menyerahkan secangkir hangat wedang jahe karena ia tadi muntah-muntah.
" Ah segar nya. " Katanya saat sudah menyesap wedang jahe.
Dea memang kesini saat ia tertidur dan setelah satu jam ia tidur ia baru menyadari kalau ada Dea.
Dan setelah tidur ia merasakan lebih baik.
" Kamu tuh kalau ada apa-apa bilang. " Kata Dea yang sedang duduk di depannya dan mengatakan itu.
Memang tadi saat ia muntah-muntah ia sedang berada di rumah sendiri, ia tidak ingin merasakan siapapun, apalagi Dea.
Dea tidak pernah marah apa yang sedang terjadi padanya dan tetap mendukungnya.
Benar-benar teman yang setia.
" Iya De, aku tadi nggak apa-apa kok. " Kata sambil selonjoran lagi, ah sungguh aku malas sekarang.
---
Ia sekarang berada di belakang rumah dan di sana ada halaman yang asri.
" Kayak di pedesaan nggak sih Ell? " kata Dea dan ia pun mengaguk mengiyakan perkataan Dea itu.
Walaupun ia sekarang sedang berada di kota, namun rumah yang ia tempati sekarang sungguh mempunyai tema alam dan itu sungguh asri.
" Iya, sangat indah. " Katanya lagi sambil memejamkan matanya.
Akhir-akhir ini ia suka sekali memejamkan matanya sambil menghirup udara yang terasa sangat membuatnya rileks seketika.
Dan sejak kehamilan ia juga tidak pernah keluar lagi, mengganti nomor nya pokoknya ia benar-benar seperti di telan bumi.
Tante Nana dan Dea adalah orang yang akan menjawab kalau ada yang bertanya..
Kemanakah Elle?
Yang pasti ia tinggal rileks aja berada di rumah karena Dea dan Tante Nana selalu ada di sampingku, apapun yang terjadi.
Best friend forever (sahabat selamanya)
" Enaknya ngapain ya Ell? " tanya Dea setelah beberapa saat kita saling terdiam.
Ia hanya menggeleng kepalanya karena ia juga tau tau karena selama berada di rumah sendirian ia lebih suka tidur dan rebahan saja.
-
-
-
Terkadang, aku merasakan dunia tidak adil kepadaku.
Jika boleh memilih, aku ingin mempunyai keluarga bahagia dan lengkap.
Tidak seperti ini... sepi, sendiri dan tidak diinginkan.
Bolehkah aku memilih?
by Elle
.
__ADS_1
Iyes! author double up :) boleh donk minta setangkai mawar? š