
ELLE WEDDING.
[Episode 43 ~ Semua Wanita]
Elle
Ia senang karena kehamilan nya ini tidak begitu menyusahkan di bulan ke lima ini dan itu membuat mood (perasaan) nya menjadi lebih baik.
Dan hari adalah jadwal nya untuk pemeriksaan di dokter.
Dan untuk itu ia menelfon Tante Nana dan juga Dea apakah salah satu dari mereka bisa menemaninya untuk pergi ke dokter.
Ia mengatakan tidak apa-apa saat Tante Nana dan juga Dea katanya tidak bisa menemani karena banyak sekali kerjaan.
Ia harus mengerti dengan mereka juga kalau mereka juga mempunyai tanggung jawab masing-masing dan ia tidak ingin menggangu itu.
Maka dari itu ia akan periksa kandungan sendiri.
-
Disinilah ia berada di sebuah rumah sakit yang tidak jauh dari tempat tinggal nya di Bali.
Ia mengantri menggunakan nama lamanya dan juga melakukan penyamaran karena bisa saja ada orang yang akan mengenalinya di saat ia tidak tau.
Ia duduk di kursi, kursi untuk menunggu antrian dan selama itu ia bisa melihat sekililing.
Sekeliling nya periksa kehamilan di antar suami mereka dan hanya dia yang sendirian.
Ia hanya bisa menghela nafas dengan sabar.
Ia mengelus perutnya yang sudah buncit dan mengatakan dalam hati...
" Ibu akan menjadi Ibu yang selalu ada untukmu Nak. "
Dan ia pun tidak lagi mengedarkan pandangannya lagi karena ia sungguh tidak mengenal mereka.
Dan mereka pun melihatnya dengan tatapan aneh dan juga ingin tau karena memeriksa kehamilan sendiri.
Tapi ia mencoba cuek saja, tidak peduli dan bodoamat.
Loe, loe! Gue, gue!
Dan berdoa semoga nomor antrian nya segera di panggil biar ia segera berdiri dari kursi ini sekarang.
--
Ia sekarang sedang berbaring di ranjang pemeriksaan dengan matanya yang terus saja melihat ke arah layar monitor yang menunjukkan keadaan janin yang masih sangat kecil.
" Semuanya bagus. " Kata dokter dan ia pun tersenyum mendengar penjelasan itu karena selama beberapa bulan ini ia memang baik-baik saja dan tidak menyidam aneh-aneh hanya awal kehamilan saja ia sering muntah-muntah dan selebihnya ia baik-baik saja.
" Ini resepnya ya Bu. " Kata dokter sambil menyerahkan secarik kertas untuk mengambil obat dan ia pun tersenyum dan mengucapakan terimakasih dan segera berlalu dari sini.
__ADS_1
Ia berjalan di lorong rumah sakit dengan perlahan karena ia tau kalau sedang hamil jadinya harus hati-hati.
Dan selama berjalan ia pun selalu mengelus perut buncitnya dan tersenyum senang.
" Ini Mbak. " Katanya pada apoteker saat ia sudah berada di depan meja untuk membeli, ia menyerahkan secarik kertas itu.
" Sebentar ya Bu. " Kata apoteker itu dan berlalu untuk mengambilkan nya obat.
--
Ia sudah berada di vila setelah pulang dari rumah sakit beberapa jam yang lalu dan sekarang sedang selonjoran di sofa sambil memakan camilan dan juga dengan sebelah tangannya memegang remot televisi.
Tante Nana dan Dea sudah pulang daritadi dan ia membiarkan saja karena mereka punya kesibukan dan semua bisnisnya juga ia meminta Tante Nana dan juga Dea yang mengurusnya selama ia bersembunyi.
Ia merasakan happy (bahagia) akhir-akhir ini karena ia ingin baby yang sedang ia kandung merasakan kebahagiaan saat ia merasakan bahagia.
Walaupun ia sadar setelah ini pasti akan ada badai tapi ia mencoba untuk tenang dan saat badai itu terjadi ia sudah kuat dalam bertahan.
Bertahan karena bukan ia yang bersalah karena di sini ia hanyalah seorang korban.
Ia bersembunyi bukan karena takut, ia bersembunyi untuk menghindari masalah di saat ia masih labil dan mempunyai rencana apapun itu.
Bisa di pastikan ia yang akan kalah dan ia yang terlihat seperti murahan.
Ia tidak ingin itu terjadi.
Ia sekarang sudah menguap dan ia segera mematikan sambungan televisi dan segera berlalu menuju kamarnya.
Ia segera mengambil wudhu dan membaca surat-surat pendek.
Tapi ia terus saja belajar dengan perlahan walaupun surat yang ia baca selama ini hanya surat-surat pendek tapi itu membuat nya tenang.
Ia akhir-akhir ini terus saja membaca surat-surat pendek sebelum tertidur dengan sebelah tangannya mengelus perut buncitnya seolah-olah mengatakan pada bayinya...
" Jadilah anak yang Sholeh atau Sholehah ya nak. "
Ia membacanya di atas ranjang dengan bersandar karena ia akhirat ini merasa lelah.
Biasa hamil tua.
Ia kalau sedang membaca seperti ini, ia merasakan begitu banyak dosa dam juga sendirian.
Ia terlahir sendiri dan ia yakin dan percaya saat ia di panggil oleh yang maha kuasa ia juga sendiri.
Setelah membaca Al-Qur'an nya selesai ia langsung menaruh nya di meja dan ia lalu bersiap-siap untuk tidur sekarang ia merasakan lelah dan ingin segera tidur.
Arsya
Ia memutuskan untuk tidak mencari Elle lagi ia hanya mengandalkan takdir antara mereka berdua dan sekarang ia ingin fokus dengan keluarga kecilnya dan juga Sha.
Ia sedikit dengan Sha karena dari pagi dia mengeluh sakit perut dan saat ia bertanya ingin pergi ke dokter Sha mengatakan nanti saja kalau rasa sakit belum kunjung hilang.
Jadi ia hari ini tidak masuk kerja untuk menemani Sha di rumah dan menjaga baby boy.
__ADS_1
Sekarang Sha sedang beristirahat di kamar dan ia sedang bermain dengan baby boy di teras rumah dan bercanda.
Ia sangat senang melihat baby boy tumbuh dengan sehat dan juga ceria.
" Waa! " katanya dan langsung membuat baby boy cekikikan karena kaget dan juga senang.
Ia juga terus saja mengulanginya terus-menerus dan itu membuat baby Arsy tersenyum senang.
" Daddy capek. " Katanya sambil menunjukkan wajah lelah dan memandang baby boy yang melihatnya dengan senyuman dan itu langsung menular padanya dan membuatnya tersenyum.
" Yok kita masuk yok. "
--
Ia sedang berada di depan ruang perawatan Sha dan Sha sedang di periksa dokter di dalam.
Setelah di pagi hari Sha mengatakan kalau perut nya sakit dan di malam hari ia melihat rok Sha mengeluarkan darah dan itu membuatnya panik seketika.
Ia langsung menitipkan baby Arsy di rumah orang tuanya yang tidak jauh dari rumahnya dan segera mengantar Sha untuk pergi ke rumah sakit.
Ia msih saja mondar-mandir di depan ruang perawatan Sha dan ia langsung menoleh saat melihat dokter keluar dari ruang pemeriksaan nya.
" Gimana keadaan istri saya dok? " tanyanya dengan khawatir dan cemas.
" Istri Bapak, mengalami pendarahan karena salah meminum obat dan di anjurkan untuk di rawat inap ya. " Kata dokter itu dan ia segera masuk ke dalam ruangan perawatan setelah dokter berlalu.
Ia masuk ke dalam ruangan itu melihat Sha yang tertidur di ranjang pasien dengan memejamkan matanya dan seperti sangat menahan kesakitan.
Ia tidak tega melihat Sha seperti itu dan dengan perlahan ia mendekati ranjang pasien Sha dan mengelus perlahan kepala Sha.
" Abang? " kata Sha saat tersadar kalau ia yang sedang mengusap kepalanya.
" Kamu tidur lagi ya, Abang temani. " Katanya dengan lembut dan memegang tangan Sha dan menciumi nya.
Dan itu membuat Sha tersenyum lelah.
" Abang ikut tidur di sini juga ya. " Kata Sha sambil menggeser tubuhnya dan meminta Abang Ars untuk tidur di samping nya.
Dan tanpa di minta dua kali ia pun langsung tidur di sebelah Sha dan mendekap Sha dari belakang.
" Semua wanita sangat senang mendapat perhatian seperti ini, di dekap dari belakang. " Kata Sha dengan tiba-tiba ia memilih diam dan enggan untuk menanggapi.
" Tapi, kenapa Elle memilih pergi daripada minta pertanggungjawaban ya. " Kata Sha semakin melantur dan ia semakin mempererat pelukannya dan tidak ingin berkomentar apapun.
" Tidur dulu Sha, jangan berfikir yang terlalu berat karena kamu harus benar-benar istirahat total. " Katanya mengalihkan perhatian dan segera memejamkan matanya.
Dan ia pun tidak mendengar Sha berbicara lagi dan ia merasakan senang.
Sungguh berbicara mengenai Elle tentu saja membuat nya pusing.
Pusing karena wanita itu sungguh tidak pernah menampakkan wajah di depannya setelah kejadian itu.
-
__ADS_1
Ini hari Senin, kasih vote nya kesini aja ya kakak-kakak jangan kasih kesebelah āļø