
ELLE WEDDING.
[Episode 23 ~ Tidak Goyang]
Shaila
Ia menyiapkan semua keperluan Abang Ars untuk berangkat kerja.
Ia memutuskan untuk mempertahankan rumah tangganya, karena bagaimanapun posisi lebih kuat daripada Elle ataupun Via karena ia adalah istri Sah! dimata hukum dan negara.
" Sini biar Sha bantu. " Katanya sambil mendekat ke arah Abang Ars dan mengancingkan kemejanya dengan rapi.
" Terimakasih Sha. " Kata Abang Ars setelah ia selesai mengacingkan kemeja lalu menghadiahinya sebuah kecupan singkat di dahi.
Sungguh manis!
" Abang, sampai berapa lama kita di Ibu Kota? " tanya Sha saat mereka beringin menuju teras rumah karena Abang Ars mau berangkat kerja.
" Sampai pekerjaan Abang selesai Sha, maaf ya kita belum bisa pulang ke KL secepatnya. " Kata Abang Ars lagi dengan mengelus lengannya lembut.
" Sebentar lagi ini Sha mau lahiran, nanti malah Sha keburu lahiran di Ibu Kota lagi. " Kata Sha lagi dengan mengelus perut buncitnya.
" Nggak apa-apa Sha, yang penting kamu sama baby baik-baik saja. " Kata Abang Ars lagi yang membuatnya tersenyum.
" Abang berangkat dulu ya, hati-hati di rumah nanti kalau ada apa-apa telepon Abang. " Kata Abang Ars lagi.
Dan ia hanya tersenyum sambil mengangguk saja melihat mobil suaminya itu menjauh dan berangkat ke kantor.
Lalu ia pun segera masuk ke dalam rumah dan tidak lupa untuk mengunci pintunya dulu.
Ia melakukan hal-hal ringan di rumah, seperti olahraga ringan dan setelah lelah maka ia akan mandi, wudhu dan mengaji supaya janin yang ia kandung terbiasa dengan lantunan ayat suci yang ia bacakan.
Elle
Elle umur enam tahun...
" Mbah ngko aku mangkat sekolah ambi sopo? (Nek, nanti aku berangkat sekolah sama siapa?) " kata Elle dengan lugu dan binar mata penuh harap saat melihat Mbah sedang membereskan barang untuk di jual.
" Ambi Mbak indah yo, soal e Mbah ape mangkat kerjo dadi ne gak iso nganterno. (Sama Mbak Indah ya, soalnya Mbah mau berangkat kerja jadinya nggak bisa nganterin) " kata Mbah sambil mengusap kepalanya dengan pelan.
Dan ia pun menganggukkan kepalanya walaupun dalam hatinya sedih, sebenarnya di sekolah semua temannya di antar Ibu nya dan hanya dia yang tidak pernah di antar hanya di antar pas hari pertama daftar dan setelah itu ia selalu berangkat bersama tetangganya kalau tidak ia akan naik sepeda sendiri dan berangkat sendiri.
Sedihnya!
Dan saat ia pulang dari sekolah di rumah tidak ada siapapun karena Mbah masih jualan dan ia pasti akan makan di rumah Mbah Awi (adiknya Mbah) dan main di sana sampai sore sampai Mbah pulang kerja.
Main sendiri, makan sendiri semuanya sendiri.
Elle kelas satu sekolah menengah pertama...
" Iki omah kapan di renovasi sih? (Ini rumah kapan di renovasi sih?) " tanyanya saat melihat rumahnya yang masih terbuat dari anyaman bambu dan masih banyak lubang di sana-sini dan semua rumah tetangganya semuanya sudah memakai batu bata dan hanya rumahnya yang jelek.
__ADS_1
" Yo sabar, aku nggak duwe duit (ya sabar aku nggak punya duit ) " kata Buk e yang terdengar di telinganya begitu menjengkelkan.
Bukannya dia meminta begitu saja dan tanpa alasan karena Buk'e sudah bekerja dari ia bayi masa tabungan saja tidak punya?
Malah membeli motor tidak tau kemana arahnya lalu di gadaikan dan rusak.
Dan sekarang Buk'e sedang hamil sembilan bulan.
Huft! jujur saja ia tidak menyukainya, mempunyai adik... bukannya ia tidak menyukainya begitu saja! ia mempunyai alasannya yaitu ekonomi keluarga yang begitu menyesakkan hingga ingin bernafas saja rasanya sesak dan hampir mati karena kehabisan nafas.
Ia tidak ingin ada Elle yang lainnya, yang begitu menyedihkan karena banyak kekurangan, kekurangan yang dikarenakan kemiskinan dan juga kurang kasih sayang.
Ia melihat Buk'e dengan sebal, beberapa tahun setelah menikah lagi... Buk'e tidak pernah menelfon nya ataupun pulang ke kampung tapi di saat hamil pulang ke kampung dan akan melahirkan di sini.
Bukannya rasa sebalnya tidak beralasan karena suaminya tidak ikut pulang ke kampung, lalu siapa yang harus menemani lahiran?
Seperti sekarang ini, setelah pagi buta Buk'e merasakan mulas dan ingin melahirkan maka satu RT ribut karena membawa orang mau melahirkan pake apa?
Dan setelah terdesak dengan waktu, ada mobil yang lewat dan itu adalah mobil tetangga dan tanpa pikir panjang langsung minta bantuan untuk di antarkan ke bidan untuk melahirkan.
Ia tidak ikut dan cukup ke rumah karena itu adalah urusan orang dewasa.
Ia sekarang begitu sangat jengkel.
Mengapa begitu?
Bapak tirinya di telfon untuk segera pulang karena istrinya akan melahirkan, dan saat di angkat jawabannya apa?
" Aku nggak bisa pulang karena masih di Semarang. "
Dan siapa yang mencuci bekas lahiran?
Tentu saja ia, dengan di temani Mbah yang sedang stroke setengah badan dan mencucinya di kali (sungai) .
Bayangkan bagaimana perasaannya?
Setelah bertahun-tahun hidup di kampung dengan miskin dan melas karena sudah tidak mempunyai Ayah dan Buk'e menikah lagi tanpa persetujuannya dan ia diabaikan seperti tidak punya orang tua.
Dan setelah mau lahiran dibawa ke kampung agar ia yang mencuci bekas darah lahiran dengan Mbah yang sedang stroke setengah badan.
Memilukan bukan?
Jika ia bisa kabur maka ia ingin kabur dan memilih menjadi yatim-piatu saja.
Daripada harus hidup seperti ini.
Mungkin kalau anaknya adalah orang lain, mungkin sudah menyerah dan menjadi nakal.
Tapi tidak dengan dia yang memilih begini saja karena masih ada Mbah yang harus ia jaga, ia tidak bisa meninggalkan Mbah begitu saja.
Beberapa tahun kemudian...
" Aku wes ora kuat, pisah ambi wong iku... omongan ne wae kasar (Aku udah nggak kuat, pisah sama orang itu... perkataannya saja kasar) " katanya dengan tidak kuat setelah mendengar pertengkaran Ayah tiri dan Buk'e sungguh membuat jiwa anak-anak merasa begitu stress.
__ADS_1
Apa yang harus ia lakukan?
Ini bukalah sebuah keluarga, keluarga bukan seperti ini.
Bagiamana bisa disebut keluarga?
Kalau Ayah tiri nya orang selalu marah dengan Buk'e bahkan untuk alasan yang sepele.
Ia tidak kuat, sungguh!
Sebagi anak yang sejak bayi sampai sekolah menengah pertama di kampung yang tidak pernah mendengar perkataan se kasar itu membuatnya syok dan juga stress karena sungguh beda dengan perilaku di kampung.
Ingin sekali ia kabur dari Ibu Kota, ingin hidup sendiri yang tenang dan mencari jati diri.
Tapi ia tidak bisa melakukan itu, ia masih takut.
Jadi yang bisa ia lakukan sekarang adalah berdoa agar di masa depan menjadi orang sukses dan bisa menemukan jodoh yang baik hati.
Brak!
Ia sungguh kaget saat mendengar penanak nasi di banting hingga hancur dan gepeng.
Yang ia lakukan? hanya menutup telinganya dengan headset agar tidak mendengar suara itu lagi.
" Aku nggak bisa pisah. " Kata Buk'e waktu itu yang terus teringat di kepalanya sehingga saat pertengkaran seperti ini ia hanya bisa diam dan tak membela Buk'e.
Kenapa?
Karena yang ia bela bahkan tidak peduli dengan hidupnya dan memilih cinta picek (buta) lalu untuk apa ia mem bela sedangkan yang ia bela bahkan tidak peduli, lebih tepatnya Buk'e sangat cinta dengan suami barunya itu.
Bahkan saat Buk'e membangunkan nya untuk membantu membereskan kekacauan yang di perbuat suami Buk'e, ia hanya bisa memandang Buk'e dengan sorot mata benci dan memilih pergi dengan membanting pintu.
Ia tidak sebodoh itu harus membereskan kekacauan yang bahkan alasan di balik kekacauan itu sangat sepele, tapi kenapa bisa semarah itu.
Sungguh cinta Buk'e tidak goyah, bahkan setelah di perlakukan seperti itu.
Ia sungguh tidak kuat dan merenung di depan musholla, melihat ke depan.
Adakah masa depan yang baik untuknya?
" Ell ayok pulang. " Kata Buk'e membujuknya pulang tapi ia tidak bergeming.
Jiwa muda yang penuh dengan stress dan amarah lebih baik diam, lebih tepatnya ia mendiami Buk'e yang mencoba berbicara dengannya.
Sungguh ia merasakan trauma!
Bisakah ada yang menolongnya?
Tidak ada, bahkan saat ia menyebutkan nama Bapak berulang kali, ia masih tetap sama yaitu menangis tersedu-sedu dan berharap saat ia membuka mata nanti ia sudah tiada.
•
•
__ADS_1
•
Habis baca WAJIB TEKEN LIKE, VOTE dan komentar di bawah :)