ELLE WEDDING Series

ELLE WEDDING Series
Melupakan


__ADS_3


ELLE WEDDING.


[Episode 27 ~ Melupakan]


Arsya


Ia langsung berdiri dari duduknya saat mengingat malam itu, di malam di mana ia harus berkahir polos di atas ranjang dengan hanya selimut membungkus tubuhnya.


Oh God!


" Aku harus menelfon Elle. " Gumanya di tengah kebingungan sambil mondar-mandir dengan berharap panggilan teleponnya di angkat oleh Elle.


Iya Elle!


Setelah seminggu kemudian ia baru ingat tragedi cinta satu malam itu.


****!


" Aku ingat dengan jelas kalau aku memaksa atau memperkosa? " ia meringis saat mengingat itu.


Tapi kenapa Elle tidak datang padanya?


Minta pertanggungjawaban atau paling tidak pura-pura bertemu juga tidak apa-apa kalau Elle masih enggan mengatakan... Nikahi gue loe!


Sialan!


" Ya mana mau Elle ngangkat telepon ku setelah apa yang aku lakukan padanya. " Katanya dalam hati setelah tiga puluh menit menelfon Elle tidak di jawab sama sekali bahkan sekarang ia capek daritadi mondar-mandir.


" Eh tapi ini diblokir. " Katanya dengan nada tidak percaya, karena tadi saking kagetnya ia tidak mendengar suara operator yang mengatakan...


" Maaf nomor yang anda tuju tidak bisa hubungi. " Ia langsung lemas tidak percaya, tidak percaya yang sudah terjadi ini.


Apa yang harus ia lakukan?


Ia bahkan tidak punya akun sosial media Elle bahkan ia tidak tau alamat rumahnya Elle, yang ia punya hanya nomor teleponnya tapi sekarang nomor teleponnya sudah di blokir.


Ia juga tidak mengenal dengan siapa saja Elle berteman, sungguh sangat buntu.


Ia harus bertanya dengan siapa?


Di tengah kebingungannya ia menerima telepon dari sekretarisnya yang mengatakan...


" Halo Pak, Bu Elle membatalkan kerja sama kita tanpa alasan yang jelas. " Kata sekertaris langsung dan mengatakan apa yang terjadi.


" Hah? Mana bisa seperti itu, kamu ada nomor teleponnya Bu Elle? " tanyanya.


Semoga ada!


" Maaf Pak, tidak ada setelah mengatakan itu sekertaris nya Bu Elle langsung men nonaktifkan nomor ponselnya. "


Sialan!


Elle


Ia mem blokir semua akses untuk bisa menghubungi Abang Ars.


Ah jangan sebutkan nama itu lagi.

__ADS_1


Bukannya ia ingin di cari atau apalah itu, ia hanya ingin hidup tenang setelah kejadian tragedi cinta satu malam itu karena ia sungguh tau dan sadar ia tidak bisa berharap dari Abang Ars pria ber istri itu.


Ia tidak mengharap apapun pada Abang Ars.


Ia hanya ingin sendiri seperti biasanya, dan hidup tenang seperti sediakala.


" Kalem amat Neng! " kata Tante Nana entah dari mana datangnya tiba-tiba muncul di sampingnya.


" Eh Tante, bikin kaget aja. " Katanya untuk bersikap sewajarnya, cukup yang tau ia dan sang pencipta dan juga Abang Ars kalau dia ingat.


" Kenapa Ell? Kayak ada apa gitu? " kata Tante Nana seakan-akan tau dan ingin tau.


" Nggak ada apa-apa Tan, biasa aku mah. " Katanya biasa aja padahal dalam hatinya deg-deg ser.


" Seriusan? " kata Tante Nana dengan nada menggoda tapi ia lebih memilih diam tanpa menjawab dan tersenyum saja.


Biarkanlah!


--


Ia mendesah tak percaya saat menerima laporan dari sekertaris nya yang mengatakan...


" Bu, kata sekertaris Pak Arsya, katanya Pak Arsya ingin bertemu dengan Ibu, sangat memaksa Bu! " kata sekertaris nya.


Ia sungguh watak Abang Ars yang suka memaksa!


Dan di sinilah ia sekarang di sebuah restoran mewah dan berada di ruangan private hanya berdua dan membicarakan tragedi cinta satu malam karena kedua sekertaris menunggu diluar.


Ia memandang Abang Ars dengan malas.


" Ada apa? " katanya to the poin (langsung pada intinya).


" Pertama, Abang mau minta maaf, walaupun permintaan maaf Abang tidak bisa merubah apapun tapi setidaknya Abang sudah minta maaf. " Kata Abang Ars memandangnya dan ia memalingkan wajah.


Karena sungguh, membicarakan tragedi cinta satu malam membuat dirinya memanas dan berkaca-kaca seketika.


" Permintaan maaf Abang tidak bisa mengembalikan kehormatan ku. " Katanya dengan penuh penekanan dan ia yakin sekarang kalau air matanya sudah menetes melewati pipinya.


" Abang tau Ell. " Kata Abang Ars dengan pandangan bersalah.


" Pertemuan ini, membuat ku teringat akan tragedi cinta satu malam itu kalau anda tidak tau! dan seperti pertemuan ini harus berkahir sampai di sini dan saya tidak ingin ada pertemuan lagi setelah ini, saya sudah cukup! " katanya dengan berdiri dan ingin segera pergi dari sini.


" Maafkan Abang, Ell maafkan Abang. " Kata Abang Ars memeluknya.


" Abang jangan lancang. " Katanya dengan meronta-ronta mencoba melepaskan tapi itu sia-sia belaka karena ia kalah tenaga dengan Abang Ars yang memiliki postur tubuh yang tinggi dan kekar.


" Hei tenanglah! " kata Abang Ars sambil mengelus punggungnya yang bergetar karena menangis.


" Bagaimana aku bisa tenang Abang! " katanya dengan frustasi.


Dan setelah ia tenang Abang Ars melepaskan pelukannya dan memandang wajah yang berantakan karena habis menangis.


Dan ia segera memalingkan wajahnya dan tidak ingin memandang Abang Ars lagi.


" Sudah cukup sampai disini. " Katanya parau karena lelah habis menangis.


" Abang akan mengawasi mu. " Kata Abang Ars dan segera berlalu dari hadapannya.


Sialan!

__ADS_1


" Mengawasi apa hah? Mengawasi untuk memastikan bahwa kalau aku sudah menderita apa belum hah? " katanya sambil berteriak yang membuat Abang Ars mengehentikan langkahnya seketika.


" Bukan, mengawasi apakah kamu hamil apa tidak? " kata Abang Ars sambil memandangnya.


" Memang kenapa kalau aku hamil. " Katanya sambil menantang Abang Ars dengan marah.


" Kalau aku hamil, aku tidak akan minta pertanggungjawaban dengarkan itu! " katanya marah dan dengan emosi yang menguasai dirinya ia langsung membuka pintu ruangan itu dengan kencang dan menutupnya dengan keras sehingga menimbulkan suara yang gaduh.


Bahkan ia tidak peduli dengan suara Abang Ars yang memanggil nya dengan frustasi.


Ia sungguh tidak peduli dengan semuanya.


Ia hanya ingin pergi dari sana dan melupakan segala hal yang bersangkutan dengan Abang Ars.


Shaila


Ia sedang menyusui Baby Arsy di atas ranjang dengan pelukan Abang Ars dari belakang yang membuatnya nyaman seketika.


Dengan tangan Abang Ars yang menepuk pelan paha Baby Arsy.


Dan ia semakin merasakan kehangatan saat Abang Ars mengecupi puncak kepalanya dengan sayang.


" Sini biar Abang, tidurin baby boy ke box bayi. " Kata Abang Ars saat melihat Baby Arsy tidur setelah meminum susu dan Abang Ars terkadang memanggil Baby Arsy dengan sebutan baby boy.


Dan ia pun menyerahkan baby Arsy kepada Abang Ars dan mengancingkan kemeja yang ia gunakan.


--


Ia tersenyum senang saat melihat Abang Ars yang sedang berjemur dengan baby Arsy berada di gendong nya.


Memang awalnya ia sangat kesal, marah dan apalah itu kepada Abang Ars karena sangat telat datang ke puskesmas tempat ia melahirkan.


Tapi setelah seminggu kemudian rasa kesal dan marah hilang dan menguap entah kemana karena melihat tatapan hangat Abang Ars pada Arsy, putra pertama yang berhasil ia lahirkan di dunia ini.


Bahkan keluarganya yang berada di KL senang mendengar kalau cucu mereka sudah lahir dan berjanji akan datang ke Ibu Kota kalau keadaan sudah kondusif karena di semua tempat sedang lockdown karena sebuah wabah virus.


" Sha, ini baby boy mau ***** nih, udah haus lagi. " Kata Abang Ars padanya.


" Yaudah, masuk dulu yuk Abang. " Katanya lagi dan dengan mengagukkan kepala Abang Ars memegang pinggangnya erat dengan sebelah tangannya menggedong baby Arsy.


Keluarga yang bahagia!


" Uh, lapar ya sayang. " Katanya saat melihat baby Arsy yang menyedot sumber kehidupannya dengan kuat.


" Pelan-pelan ya sayang. " Katanya lagi sambil mengusap alis baby Arsy yang terlihat sangat bagus dan rapi.


Look like me (terlihat seperti ku)


Ia menyandarkan badannya di dada bidang Abang Ars selama menyusui.


Sudah seminggu ini, ia sangat suka saat sedang menyusui Abang Ars memeluknya dari belakang.


Terasa sangat, kita saling membutuhkan dan saling melengkapi satu dengan yang lainnya.




__ADS_1


Habis baca WAJIB TEKEN LIKE VOTE dan komentar di bawah ya...


__ADS_2